Skip to main content

Posts

Showing posts with the label character

Orang Pajak Itu Resign Oleh Dua Kata

Sejak dulu hingga kini, orang pajak dibenci orang. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan profesi ini, karena orang pajak adalah petugas pemerintah. Dan soal membayar pajak pun juga perintah Allah: “ Berikanlah kepada Kaisar (pemerintah) apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar (pemerintah) dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah .” (Matius 22:21). Tetapi sudah terlanjur ada stigma terhadap orang pajak.  Kita berhak marah, karena pajak yang dipungut dari keringat kita dikorupsi begitu rupa.  Di Indonesia orang pajak (dan bea cukai) banyak terjerat kasus korupsi. Googling saja, pasti akan muncul berderet-deret nama. Walaupun mungkin masih banyak orang pajak yang kerjanya bener, tapi jika masyarakat sudah prejudice , stigma itu sulit untuk diubah. Stigma seperti itu juga terjadi dulu terhadap orang pajak. Gelarnya: pemungut cukai atau tax collector . Salah satunya adalah Matius. Ia seorang yang terpelajar dan cerdas. Ia piawai dalam soal-soal hitungan dan akun...

Pelacur Itu Mendahului Kita ke Surga

Ia seorang pelacur. Penulis Injil menyebutnya sebagai perempuan berdosa. "Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa." (Lukas 7:37)  Ia bukan pelacur biasa, tetapi pelacur yang terkenal.  Karena terkenal, maka bolehlah kita katakan bahwa pelanggannya banyak. Dan bolehlah juga kita berimajinasi bahwa ia berparas cantik. Hampir semua orang di kota itu tahu perempuan itu, termasuk Lukas si penulis Injil. Tetapi tampaknya Lukas menjaga kode etik. Ia merahasiakan identitas perempuan itu sehingga tidak menyebutkan namanya. Tak disangka-sangka, perempuan itu datang ke rumah Pak Simon yang pada hari itu mengundang Yesus untuk makan. Kalau di zaman sekarang hal itu seperti courtesy invitation , sebuah basa-basi sopan santun. Dan Yesus memang datang. Ia menghargai undangan itu.  Tak diceritakan oleh Lukas apa saja yang diperbincangkan di meja makan itu, karena ada hal lain yang lebih penting. Perempuan itu berdiri di belakang Yesus sambil menangis. Ia ...

Yang Terpuruk di Onggokan Sampah

Di zaman sekarang yang penuh dusta, pura-pura, dan tidak apa adanya, integritas sungguh amat langka. Integritas seolah tenggelam dalam onggokan sampah, makin lama makin terpuruk, terabaikan, terhina. Orang yang menjunjung tinggi integritas banyak ditertawakan, dianggap aneh dan nyeleneh karena berbeda. Tetapi saya nemu integritas dalam diri seorang anak muda, cewek, belum lama lulus kuliah, seperti yang diceritakan oleh istri saya setelah mengobrol dengan seorang mama, di suatu hari minggu sepulang dari gereja. Anak muda itu mengikuti interview kerja di suatu perusahaan, satu bank dari China kantor Jakarta. Pada sesi interview yang pertama, sampailah pada pertanyaan seputar riwayat kesehatan.  Anak muda itu menjelaskan semuanya tentang kondisinya apa adanya, tidak ada yang ditutup-tutupi. "Saya menderita autoimmune ," jelasnya.  "Wah, nanti kalau interview lanjutan, jangan menyebut punya autoimmune , pasti kamu tidak diterima," kata interviewer itu.  "Tapi saya...

Saulus Dicegat Tuhan di Damaskus

Kita sering melihat orang yang perbuatannya jahat sekali. Lalu memastikan bahwa orang seperti itu tidak bakal bisa berubah. Kita memandang orang seperti itu tidak layak diampuni. Bahkan kita berharap kalau bisa ia lekas mati saja.  Tetapi pandangan Tuhan jauh berbeda. Dan Ia punya cerita soal transformasi yang dialami oleh seorang muda militan bernama Saulus, y ang membuktikan bahwa di dunia ini tak ada yang tak dapat diubah Bagi Tuhan, tak ada suatu kejahatan yang terlampau jahat yang tak dapat diampuni. Sebelumnya Saulus adalah seorang yang garang, y ang menyeret orang-orang yang beribadah,  yang memanggil nama Tuhan, agar menyangkal imannya. Padahal Saulus sendiri adalah seorang muda yang taat beragama. Tetapi ia justru mengejar-ngejar orang dengan surat kuasa penuh dari pemimpin agama y ang ditanda-tangani oleh imam besar untuk mempersekusi umat Tuhan.  Saulus yang terpelajar dan cerdas mengerti bahwa ia perlu landasan hukum. Surat kuasa itu ia gunakan untuk melegalka...

Lee Kuan Yew: Meritocracy As Basic Principles

This is the story of Singapore as written by the founding father Lee Kuan Yew who brought the tiny island, poor and disorder to a city of the future. With deep and meticulous notes, Lee detailed the extraordinary efforts chronologically in explaining how Singapore transformed from the third world to the first. He wrote every word clearly, every sentence structured systematically to build the story alive. Lee was indeed an excellent storyteller. In Lee’s hand, Singapore –the former British colony, devastated by the 2nd World War– rose from nothing to the Asian metropolis with not only the world’s number one airline, best airport, and busiest port of trade, but also the top 5 countries of GDP per capita. Lee built the Singapore people through a good education, kept the government clean, managed the media, upheld the rule of law, taught people about code of conduct and ethics, and transformed the society’s way of life and work through the digital revolution. With the integration of techno...

Petrus, Laut dan Tuhan

Beberapa tahun lalu, saya bersama serombongan teman naik kapal nelayan untuk mencari ikan di tengah laut. Maksudnya ingin healing dengan aktivitas memancing di tengah laut, bukan di kolam pemancingan. Bayangan asyiknya berlayar sehari-semalam di tengah lautan bermain-main di kepala menjelang keberangkatan. Saat hari masih sore, kami berangkat menuju ke sebuah kampung nelayan di daerah Binuangeun, Lebak, Banten. Sesampainya di sana, hari sudah malam, dan kami menginap di sebuah losmen sederhana untuk istirahat sejenak sambil menunggu pagi. Sekitar jam empat subuh kami dibawa menuju ke tengah laut menggunakan perahu kecil. Di sana sudah menunggu kapal yang lebih besar, seingat saya ada tujuh kamar tidur di dalamnya. Kapal inilah yang membawa kami ke tengah laut dengan harapan membawa pulang hasil tangkapan yang banyak.  Dari kapal itu kami menikmati pemandangan laut yang begitu indah, dengan semburat sinar matahari dan hembusan angin serta gerakan ombak yang mengayun-ayun kapal. Kami...

Andrew Jackson Was Born For a Storm

Andrew Jackson was a controversial figure in American history. Elected as seventh president in 1829 and reelected for the 2nd term until 1837, he was marked by both democratic triumphs and racist tragedies during his presidency. Jackson expanded the powers of the presidency in ways that none of his six predecessors had. He was the first president to come from the common people, not from an educated elite. He was the first to build what was recognized as a political party. He was also the first to maintain a large circle of private advisers –what was called his Kitchen Cabinet-- to help him make policy. During his presidency, he showed him as the most contradictory of men. He brought America into a country that professed a love of democracy but on the other hand created society to live with inequality that was prone to racism and intolerance. Jackson was a sentimental man who rescued an Indian orphan on a battlefield to raise in his home, however he was also the president responsible fo...