Skip to main content

Orang Pajak Itu Resign Oleh Dua Kata

Sejak dulu hingga kini, orang pajak dibenci orang.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan profesi ini, karena orang pajak adalah petugas pemerintah.

Dan soal membayar pajak pun juga perintah Allah: “Berikanlah kepada Kaisar (pemerintah) apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar (pemerintah) dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Matius 22:21).


Tetapi sudah terlanjur ada stigma terhadap orang pajak. 

Kita berhak marah, karena pajak yang dipungut dari keringat kita dikorupsi begitu rupa. 

Di Indonesia orang pajak (dan bea cukai) banyak terjerat kasus korupsi. Googling saja, pasti akan muncul berderet-deret nama.

Walaupun mungkin masih banyak orang pajak yang kerjanya bener, tapi jika masyarakat sudah prejudice, stigma itu sulit untuk diubah.


Stigma seperti itu juga terjadi dulu terhadap orang pajak. Gelarnya: pemungut cukai atau tax collector.

Salah satunya adalah Matius.

Ia seorang yang terpelajar dan cerdas. Ia piawai dalam soal-soal hitungan dan akuntansi. Tak hanya itu, ia terbiasa mencatat secara terstruktur: nama wajib pajak, profesi, penghasilan, jumlah kewajiban bayar, jumlah harta, dan sebagainya.

Tapi ia melakukan mark-up seenaknya, karena ia harus make profit dari jumlah setorannya kepada pemerintah Romawi.

Pemerintah Romawi pintar. Mereka menggunakan orang lokal untuk menarik pajak.


Dalam situasi dimana masyarakat sudah benci kepada penjajah Romawi, ini kok ada orang sebangsa dan setanah air menjadi antek penjajah dan memeras bangsanya sendiri?

Tapi orang tidak berani mengapa-apakan Matius. Ia dapat perlindungan dari pemerintah Romawi karena tugasnya mengumpulkan pajak itu.

Maka masyarakat mencap dia sebagai pengkhianat.

Kaum agama mencap dia sebagai orang berdosa. Tidak bermoral. Najis.


Tetapi suatu hari di Kapernaum, Yesus lewat rumah cukai tempat Matius bekerja. Matius yang sedang menghitung uang dan menulis pembukuan itu terkejut. Ia sudah banyak mendengar kabar tentang Yesus dari orang-orang yang berseliweran di depan kantornya. Tak disangka hari itu Yesus mampir.

“Ikutlah Aku,” kata Yesus kepadanya.


Hanya dua kata itu.

Bukan kalimat-kalimat untuk menceramahinya tentang profesinya yang nggak bener karena memeras rakyat.

Bukan pula ayat-ayat kitab suci untuk menuduhnya akan dosa-dosanya.


Dua kata “Ikutlah Aku” itu cukup membuat Matius (nama aslinya adalah Lewi) langsung menutup catatan pembukuannya.

“Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.” (Lukas 5:28)


Betapa berani dan radikal keputusan Matius.

Ia sangat kaya, uang mengalir deras dengan mudah, ia dibackup oleh pemerintah, tetapi mengapa ia mau meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Orang yang baru saja ketemu beberapa menit sebelumnya?

Ia keluar dari safe place-nya.

Berhenti sebagai pemungut cukai berarti siap kehilangan profesi itu untuk selamanya, karena pemerintah Romawi akan memberikan job itu kepada orang lain. Matius tidak bakal bisa meminta job itu lagi di kemudian hari karena sudah di-blacklist.


Tetapi Matius tidak peduli.

Adakah yang lebih berharga daripada menemukan mata air yang dapat memuaskan kehausannya selama ini?

Bagi Matius, momen itu adalah the beginning of new life.

Lalu ia mengundang Yesus untuk makan di rumahnya. Teman-temannya sesama orang pajak ikut datang memenuhi rumahnya. Bahkan mereka yang dicap sebagai “orang-orang berdosa” begitu antusias datang karena ingin bertemu dan mendengar Orang yang bikin Matius berani untuk resign dari pekerjaannya yang mentereng itu.


Kelak, keahliannya menulis dan mencatat pembukuan pajak dengan cermat itu sangat berguna untuk menulis Injil dengan detil, terstruktur dan sistematis.

Orang yang paling dibenci di masyarakat pun bisa dipakai oleh Tuhan, karena perjumpaan dengan Dia selalu membawa transformasi.


"Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Matius 9:13)


***


Serpong, 07 Sep 2026

Titus J.


Comments

Popular posts from this blog

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...

Forgive Me for Not to Obey Your Fatwa

It’s still fresh in my mind, where Megawati’s PDI (Indonesia Democracy Party) harshly knocked-out by Suharto’s power in 1996. I was still 3 months since I set my feet on Jakarta from my hometown. Everybody knew Megawati was a serious menace of Suharto’s Golkar at that time, and 1996 was only a year ahead of the election. Like previous elections, Golkar always wanted vote majority in order to keep Suharto in reign. Time could not be stopped and Megawati popularity has made the Suharto’s circle depressed. They seemed so fearful the Soekarno’s spirit was coming back. With a very dirt scenario, Suharto’s regime created drama by conspiring with several PDI executives to organize a congress in Medan. The congress, as predicted clearly by everyone, finally appointed Soerjadi as PDI chairman, Fatimah Ahmad as deputy chairman and Butu Hutapea as the secretary general (Soerjadi is Megawati’s predecessor). It means, Megawati who had been selected by National Meeting in Surabaya in 1993, was kick...

The Lawmakers Are Too Proud to be God

My brain suddenly becomes so blunt to understand how some members of Commission VII of the House of Representatives (DPR) use their "looked smart" brain to think smartly. In the hearing between the lawmakers and Pertamina management on February 10, 2009, one of the lawmakers, Effendi Simbolon, humiliated Karen Agustiawan, the CEO of Pertamina by saying she was un-competent to lead the big organization as Pertamina – the prestigious State Owned Company in oil & gas and geothermal energy sector. They even harshly bullied her by putting label on her as Satpam (private security guard) if Karen could not stay away from serving the interest of President Susilo Bambang Yudhoyono and VP Jusuf Kalla. It’s clear to people that some of the “supposed to be respected” lawmakers do not deserve to receive any respects. That is why they cannot respect others, too. They have been acting as judge, even God, when they summon government officials or businessmen to their nest. They grill eve...