Skip to main content

Pelacur Itu Mendahului Kita ke Surga

Ia seorang pelacur.

Penulis Injil menyebutnya sebagai perempuan berdosa.

"Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa." (Lukas 7:37) 


Ia bukan pelacur biasa, tetapi pelacur yang terkenal. 

Karena terkenal, maka bolehlah kita katakan bahwa pelanggannya banyak. Dan bolehlah juga kita berimajinasi bahwa ia berparas cantik.


Hampir semua orang di kota itu tahu perempuan itu, termasuk Lukas si penulis Injil. Tetapi tampaknya Lukas menjaga kode etik. Ia merahasiakan identitas perempuan itu sehingga tidak menyebutkan namanya.


Tak disangka-sangka, perempuan itu datang ke rumah Pak Simon yang pada hari itu mengundang Yesus untuk makan. Kalau di zaman sekarang hal itu seperti courtesy invitation, sebuah basa-basi sopan santun.

Dan Yesus memang datang. Ia menghargai undangan itu. 

Tak diceritakan oleh Lukas apa saja yang diperbincangkan di meja makan itu, karena ada hal lain yang lebih penting.


Perempuan itu berdiri di belakang Yesus sambil menangis.

Ia tahu diri.

Airmatanya bercucuran. Ia tak berkata apa-apa dengan bahasa verbal. Hanya airmata itulah bahasanya. 

Untuk apa ia berkata-kata?

Ia hanya ingin menangis karena Yesus tahu isi hatinya, lebih dari siapapun di ruangan itu. 


Sejuta kata-kata tak akan cukup mewakili perasaan yang meletup, yang lahir dari hatinya yang paling dalam. Selama ini ia memendam dosa-dosanya, dan menggali lagi lebih dalam. 

Tapi hari itu ia tak kuasa lagi menahannya karena tekanan dari dalam hatinya seperti kawah gunung berapi yang sedang bergejolak dan hendak meletus.


Airmata perempuan itu membasahi kaki Yesus yang berdebu, dekil, dan kotor.

Di antara sedu-sedannya, perempuan itu menggerai rambutnya lalu mengelap kaki Yesus yang basah oleh airmatanya sendiri dengan rambutnya yang selama ini jadi mahkota kemuliaannya. 

Tak cukup dengan itu, kaki Yesus yang belum kering itu diciumnya, lalu ia curahkan sebotol minyak wangi melumuri kaki Yesus. Sontak wangi narwastu merajai seluruh ruangan itu dan membuat semua yang hadir disitu terpaku.


Pak Simon dan tamu-tamu yang lain mengamat-amati Yesus, yang sampai detik itu tak bereaksi apapun.


Perempuan itu terus membaluri kaki Yesus hingga tetes terakhir. Ia tak menyisakan setetespun, seolah tak menyisakan ketelanjangan dosanya di hadapan Dia yang Maha Tahu.

Isak tangisnya tak berhenti. Yesus membiarkan perempuan itu memeras seluruh isi hatinya yang tak terkatakan itu.


Pak Simon risih. Ini rumahnya. Mengapa ada orang tak diundang begitu lancang nyelonong masuk rumahnya? Ia lebih jengkel lagi karena Yesus membiarkannya. 

"Jika Dia ini nabi, tentu Dia tahu siapa dan perempuan macam apa yang menjamah-Nya ini," batinnya. 


Barulah saat itu, Yesus yang tahu isi hatinya berbicara, “Simon, Aku datang ke rumahmu namun engkau tak menyediakan air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi perempuan ini membasahi kaki-Ku dengan airmatanya dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi perempuan ini tak henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki Aku dengan minyak, tetapi perempuan ini meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.”


Wajah Pak Simon memerah menahan malu. Ia terlalu angkuh, tidak menunjukkan kesantunan selayaknya kepada tamu yang diundangnya. Sedangkan perempuan itu telah merendahkan dirinya begitu rupa, menyerahkan harga dirinya tanpa sisa, memberikan penghormatan dengan boros, mewah dan tanpa batas kepada Sang Guru.


Lalu Yesus menunjuk perempuan itu, "Dosanya yang banyak itu telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit pula berbuat kasih."


Seberapa besar pengampunan yang kita terima akan terwujud dari seberapa kasih kita kepada Allah dan sesama.


Apakah kita seperti Pak Simon yang merasa lebih benar dan lebih bermoral daripada perempuan itu? Jangan-jangan perempuan seperti dia lebih layak di hadapan Allah dibandingkan kita.

***


”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan pelacur-pelacur mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Matius 21:31)


Serpong, 21 Ags 2026

Titus J.


Comments

Popular posts from this blog

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...

Forgive Me for Not to Obey Your Fatwa

It’s still fresh in my mind, where Megawati’s PDI (Indonesia Democracy Party) harshly knocked-out by Suharto’s power in 1996. I was still 3 months since I set my feet on Jakarta from my hometown. Everybody knew Megawati was a serious menace of Suharto’s Golkar at that time, and 1996 was only a year ahead of the election. Like previous elections, Golkar always wanted vote majority in order to keep Suharto in reign. Time could not be stopped and Megawati popularity has made the Suharto’s circle depressed. They seemed so fearful the Soekarno’s spirit was coming back. With a very dirt scenario, Suharto’s regime created drama by conspiring with several PDI executives to organize a congress in Medan. The congress, as predicted clearly by everyone, finally appointed Soerjadi as PDI chairman, Fatimah Ahmad as deputy chairman and Butu Hutapea as the secretary general (Soerjadi is Megawati’s predecessor). It means, Megawati who had been selected by National Meeting in Surabaya in 1993, was kick...

When A Street Crime Is Negotiable

That is true a bad guy will not be the bad guy forever. Sometimes, depending on the situation, a bad guy, in fact, still has compassion to his victim. No matter it’s because of pity or something else, but crime in Jakarta is not always appears in horror. The spirit of hometown solidarity for example, is also one of the factors that can be used to win the crime. It’s like what had happened to my team (my subordinate) when I was working for a private bank in Jakarta. Just call him Fresman. May be his parent expected him to always being fresh, I don’t know, but that’s true, his temperament is cool, calm, and always smiles – never looked stressful in any situation. He was very good and talented person in his job. He could always accomplish every job that I gave to him, as long as I described a clear instruction and a clear target date. And, every job was done rightfully. One day he came lately to office, gasped for breath and came to my desk in hurry. “Sorry sir, I am late,” he said while ...