Skip to main content

Yang Terpuruk di Onggokan Sampah

Di zaman sekarang yang penuh dusta, pura-pura, dan tidak apa adanya, integritas sungguh amat langka.

Integritas seolah tenggelam dalam onggokan sampah, makin lama makin terpuruk, terabaikan, terhina. Orang yang menjunjung tinggi integritas banyak ditertawakan, dianggap aneh dan nyeleneh karena berbeda.


Tetapi saya nemu integritas dalam diri seorang anak muda, cewek, belum lama lulus kuliah, seperti yang diceritakan oleh istri saya setelah mengobrol dengan seorang mama, di suatu hari minggu sepulang dari gereja.


Anak muda itu mengikuti interview kerja di suatu perusahaan, satu bank dari China kantor Jakarta.

Pada sesi interview yang pertama, sampailah pada pertanyaan seputar riwayat kesehatan. 

Anak muda itu menjelaskan semuanya tentang kondisinya apa adanya, tidak ada yang ditutup-tutupi.


"Saya menderita autoimmune," jelasnya. 

"Wah, nanti kalau interview lanjutan, jangan menyebut punya autoimmune, pasti kamu tidak diterima," kata interviewer itu. 

"Tapi saya bisa kerja, sekarang pun saya ok-ok saja, tapi riwayat kesehatan saya memang ada autoimmune."

"Loohhh kamu mau kerja disini nggak? Pokoknya jangan bilang soal sakitmu itu deh, pasti ditolak."


Anak muda itu galau. Ia pulang ke rumah dan menceritakan kepada mamanya, yang menjawab kira-kira seperti ini: "Hmmm.. Kamu memang butuh kerja, tapi masa harus berbohong demi bisa diterima sih?" jawab mamanya.

Dengan nasihat mamanya itu, ia bertekad untuk tidak melanjutkan proses di perusahaan tersebut. Bagaimanapun ia sudah berusaha untuk jujur, walaupun hasilnya pahit.


Setelah menunggu beberapa waktu, ia menerima panggilan interview dari sebuah perusahaan Jerman kantor Jakarta. 

Lagi-lagi ketika sampai pada sesi interview soal riwayat kesehatan, ia menjelaskan hal yang sama. Ia berusaha untuk tetap jujur, apa adanya, apapun yang terjadi. Baginya, diterima atau tidak adalah soal waktu, terserah Tuhan. Tapi ia merasa harus "do the right things".


"Tubuh saya memang autoimmune, tapi saya bisa dan mau bekerja," jawabnya di perusahaan Jerman itu. Setelah mengikuti proses panjang, anak muda ini diterima.


Ketika cerita istri saya sampai di bagian ini, hati saya bergejolak. Betapa integritas masih dapat ditemukan di antara onggokan sampah di zaman yang terus-menerus mendesakkan kebohongan. Zaman ini menuntut orang harus sempurna, sehingga setiap kekurangan harus ditutup rapat.


Oh God! seru saya dalam hati.


Saya memuji perusahaan Jerman itu. Eh, jangan salah sangka, ini bukan memberikan stigma bahwa semua perusahaan China seperti itu ya.


Kita pasti sering membaca di banyak perusahaan yang memasang disclaimer bahwa mereka akan memperlakukan semua orang setara dan sama tanpa membedakan kondisi bawaannya: disabilitas, gender, keturunan, ras/etnis, dan sebagainya. Bukankah seseorang tidak dapat memilih dilahirkan seperti apa?


Harusnya ini menjadi standar, tidak boleh ada diskriminasi. Dalam pekerjaan, seseorang dinilai dari kualitasnya, dan dari value hidupnya. Apakah seseorang yang fisiknya sehat pasti lebih baik daripada yang punya autoimmune?


Anak muda itu di awal penempatan kerja ditugaskan di gudang, mengurusi stok barang. 

Tetapi tidak lama ia dipromosikan ke bagian finance, dapat better position, better pay. Jika ia tidak performed, masa secepat itu ia dipromosikan?


Apakah pengalamannya terjadi secara kebetulan? Sudah lama saya kenal anak itu, yang rajin dan setia dalam pelayanan (dulu ia melayani sebagai barista, lalu bekerja di sebuah cafe). Karena cukup mengenalnya, saya yakin apa yang dialaminya dalam cerita di atas adalah suatu bukti bahwa Tuhan menghargai mereka yang masih menjunjung tinggi integritas.


Jika kita umpamakan integritas adalah seperti batu permata, maka sebuah permata tetap berkilau walaupun berada di tengah onggokan sampah.

Ketika banyak orang membuang integritas karena dianggap tidak penting lagi, dan sibuk memoles diri serta berlomba-lomba untuk tampil sempurna dengan kepura-puraan demi meraih sukses, harusnya kita mendidik anak-anak kita untuk selalu memegang integritas apapun risikonya.


Anak muda itu sudah mengawali kehidupan karirnya dengan integritas "kecil", tetapi benih yang kecil ini akan menjadi modal dasar yang kuat jika kelak ia makin dipercaya untuk suatu tanggungjawab yang lebih besar.


Pada akhirnya, berlaku apa adanya akan menenangkan, sedangkan terus tampil berpura-pura akan melelahkan.


"Try not to become a man (a woman) of success, but rather try to become a man (a woman) of value" --Albert Einstein


***

Jakarta, 13 Ags 2026

Titus J.


Comments

Popular posts from this blog

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...

Forgive Me for Not to Obey Your Fatwa

It’s still fresh in my mind, where Megawati’s PDI (Indonesia Democracy Party) harshly knocked-out by Suharto’s power in 1996. I was still 3 months since I set my feet on Jakarta from my hometown. Everybody knew Megawati was a serious menace of Suharto’s Golkar at that time, and 1996 was only a year ahead of the election. Like previous elections, Golkar always wanted vote majority in order to keep Suharto in reign. Time could not be stopped and Megawati popularity has made the Suharto’s circle depressed. They seemed so fearful the Soekarno’s spirit was coming back. With a very dirt scenario, Suharto’s regime created drama by conspiring with several PDI executives to organize a congress in Medan. The congress, as predicted clearly by everyone, finally appointed Soerjadi as PDI chairman, Fatimah Ahmad as deputy chairman and Butu Hutapea as the secretary general (Soerjadi is Megawati’s predecessor). It means, Megawati who had been selected by National Meeting in Surabaya in 1993, was kick...

When A Street Crime Is Negotiable

That is true a bad guy will not be the bad guy forever. Sometimes, depending on the situation, a bad guy, in fact, still has compassion to his victim. No matter it’s because of pity or something else, but crime in Jakarta is not always appears in horror. The spirit of hometown solidarity for example, is also one of the factors that can be used to win the crime. It’s like what had happened to my team (my subordinate) when I was working for a private bank in Jakarta. Just call him Fresman. May be his parent expected him to always being fresh, I don’t know, but that’s true, his temperament is cool, calm, and always smiles – never looked stressful in any situation. He was very good and talented person in his job. He could always accomplish every job that I gave to him, as long as I described a clear instruction and a clear target date. And, every job was done rightfully. One day he came lately to office, gasped for breath and came to my desk in hurry. “Sorry sir, I am late,” he said while ...