Skip to main content

Posts

Showing posts with the label music and film

13 Hours Between Alive And Dead

On the night of September 11,  2012 , Benghazi – the second most populous and the dusty Mediterranean port city in Libya – was quite peaceful until a sudden attack occurred towards the United States Department Special Mission Compound a.k.a. American diplomatic outpost by group of armed men. Christopher Stevens, the US ambassador to Libya, who just arrived at the compound from his office in Tripoli, including the DSS (Diplomatic Security Service) team members, were not ready as the attack was run very fast. The attackers were unstoppable even by the 17 February Martyrs Brigade, a Libya armed militia which tasked to guard the gate and protect the compound. Some people were slain by the armed attackers who then set the building on fire where several persons including the ambassador were trapped inside the ‘safe haven’ room. About 1.5 mile from the burning US compound, there was a CIA secret venue called as “The Annex” where a team of Global Response Staffs (GRS) was stationed. The...

Annelies

(Catatan Film Bumi Manusia - part4/terakhir) Tiba-tiba pemuda pribumi itu menciumnya. Lancang benar. Annelies, gadis yang baru merekah itu, tergeragap dengan wajah memerah. Harusnya ia ingin menampar pemuda kurang ajar itu, atau setidaknya berteriak agar pegawai-pegawainya yang sedang bekerja di hamparan ladang disana berlompatan keluar. Tapi entah apa yang menahannya untuk marah saat itu. Ia cuma menatap sekilas kepada Minke, pemuda yang menjadi tamunya hari itu. "Kauuu..?" tegurnya dengan bibir gemetar. Lalu ia menunduk dan bergegas berjalan menuju arah pulang. Sepanjang jalan ia tak bicara. "Kau marah, Ann?" tanya Minke gugup. Annelies menjawab dengan mempercepat langkah dan mempererat katup bibirnya. Tetapi, jejak ciuman itu terus membuntutinya. Apakah kecerdasan Minke sebagai seorang siswa HBS, apakah ketampanannya yang natural, apakah ciuman lancang itu, entahlah, Annelies merasakan keanehan rasa yang tiba-tiba. Ada sesuatu menyelinap ke dalam ru...

Minke

(Catatan Film Bumi Manusia – part3) Dia adalah seorang priyayi, seorang Raden Mas yang tahu betul soal feodalisme yang merajai tanah Jawa kala itu. Bukan hanya tahu, tapi mengalaminya. Dan ia ingin menjungkalkan adat yang dipegang teguh oleh ayahnya sendiri dengan rasa bangga. Ia menyanjung adat Eropa bahkan tergila-gila dengan egalitarianisme dan humanisme yang ia pelajari di sekolah Belanda, tapi ia meludahi perilaku Belanda yang mengingkari adab dan didikan yang mereka ajarkan sendiri atas nama ego kolonialisme dan warna kulit. Gurunya sendiri, seorang Belanda totok, memanggilnya 'monkey' karena ia pribumi, dan setelahnya ia pun punya nama baru: 'Minke'. Sejak itulah ia membawa nama itu kemanapun. Tak masalah. Otaknya tidak berkurang se-ons pun dengan ejekan itu. Yang paling dibencinya adalah penindasan atas nama apapun kepada manusia. "Beginikah aku harus berlaku? Merangkak-rangkak dengan lutut seperti keong padahal Tuhan memberi manusia kaki untuk b...

Nyai Ontosoroh

(Catatan Film Bumi Manusia - part2) Ayahnya memberi nama Sanikem. Karena tergoda nafsu ingin naik pangkat, ayahnya, seorang jurutulis, menjualnya kepada Herman Mellema, seorang Tuan Belanda ketika ia menginjak usia remaja, masa ketika ia masih suka main lompat tali, dakon, bekel dan kejar-kejaran dengan teman-temannya di sawah. " Nduk , mulai hari ini kowe ndak tinggal di rumah ini lagi. Kowe ikut Tuan Besar Kuasa ke rumahnya," kata ayahnya. Sanikem hanya tertunduk. Mulutnya terkunci rapat tapi hatinya berteriak keras. Percuma. Tak ada yang mendengar, tak juga ibunya yang cuma bisa menangis tapi tak membelanya. Ia sebenarnya berharap ibunya mengaum seperti induk beruang yang kalap saat ada makhluk asing yang coba-coba mendekati anaknya apalagi mau merampasnya. Tapi itu tak terjadi. Ia hanya merasakan kakinya gemetar di hadapan raksasa berkulit putih dan berhidung mbangir yang kemudian membawanya. "Rawat Nyaiku ini baik-baik," perintah Tuan Mellema ...

Darsam

(Catatan Film Bumi Manusia - part1) Dengan logat Madura kental: "Majikanku Nyai dan Noni. Orang yang mereka sukai aku sukai. Kalau Sinyo Robert menghendaki terbunuhnya Tuan Muda Minke, sebaiknya Sinyo sendiri yang kutebang. Kau bukan majikanku. Awas!" Lalu Darsam mencabut parang dan Robert Mellema lari. Tak bisa dibayangkan jika Pakde  Jokowi benar-benar memerankan tokoh Darsam pada film Bumi Manusia garapan sutradara Hanung Bramantyo. Darsam memang satu sosok penting dalam cerita itu. Ia seorang jawara Madura yang menjadi bodyguard Nyai Ontosoroh. Untuk sosok inilah Hanung berangan-angan seandainya Darsam diperankan oleh Jokowi yang dinilainya tepat. "Cari pemeran Minke dan Nyai Ontosoroh tidak sesulit mencari pemeran Darsam, hingga saya lihat Pak Jokowi yang kebetulan juga mengagumi Pram," kata Hanung. Hmm. Ide Hanung sebenarnya boleh juga. Karakter Jokowi yang gigih, "keras kepala" soal menjaga prinsip, dan tak takut apapun boleh jadi cocok...

Just Continue to Make Movies

I would like to praise Indonesian film industry for the achievement within past ten years. Honestly, I have no appetite at all to watch Indonesian movie before. Indonesian movie, to me, at that time was like a coffin that slowly going down to grave. Indonesian movie was dead. But, then Garin Nugroho, Riri Reza, Mira Lesmana, Nia Dinata, Rudi Soedjarwo, Joko Anwar and other potential film directors came and breathed the breath of life into the nostrils of the film industry. The film industry became alive and milestone has been piled ever since. In term of quality, Indonesian movie is doing a quantum leap. Compare to 1980’s era, when the Indonesian movies dominated with vulgar sex exploitation and mystical content, today we look at different face of the Indonesian movies which deserves our two thumbs up. The appearance of those film directors that coloring the film industry with a better quality and creativity has made Indonesian movies are able to speak proudly in international competit...

Diana Krall dan Clint Eastwood

Ketika Diana Krall datang ke Jakarta 6 tahun lalu (2002), saya masih baru menyukainya. Saya membeli kaset “Diana Krall live in Paris” dan berulang-ulang memutarnya di tape compo saya. Makin sering saya putar kasetnya, makin jatuh cinta saya kepadanya. Wah, inilah nuansa jazz yang selama ini saya cari, pikir saya. Jazz yang tidak terlalu njlimet , tapi penuh dengan improvisasi indah dari vocalnya plus instrumen-instrumen pendukungnya. Kita ingin menikmati music jazz, bukan? Di Paris itu Diana diiringi oleh Anthony Wilson (gitar), John Clayton (kontra bass) dan Jeff Hamilton (drum). Dan warna vocal Diana itu betul-betul memabukkan saya, yaitu warna vocal yang cenderung alto, agak berat dan kadang-kadang seperti berbisik serak romantis. Huii… Tidak menyangka setelah waktu itu, di tahun 2008 ini Peter Gontha dengan Java Festival Production-nya mengundang Diana ke Jakarta. Wah, thanks Pak Peter, anda ternyata tahu penyanyi/pemusik yang selama ini saya rindukan. Tanpa pikir panjang lagi saya...