Skip to main content

Posts

Showing posts with the label family

Yang Terpuruk di Onggokan Sampah

Di zaman sekarang yang penuh dusta, pura-pura, dan tidak apa adanya, integritas sungguh amat langka. Integritas seolah tenggelam dalam onggokan sampah, makin lama makin terpuruk, terabaikan, terhina. Orang yang menjunjung tinggi integritas banyak ditertawakan, dianggap aneh dan nyeleneh karena berbeda. Tetapi saya nemu integritas dalam diri seorang anak muda, cewek, belum lama lulus kuliah, seperti yang diceritakan oleh istri saya setelah mengobrol dengan seorang mama, di suatu hari minggu sepulang dari gereja. Anak muda itu mengikuti interview kerja di suatu perusahaan, satu bank dari China kantor Jakarta. Pada sesi interview yang pertama, sampailah pada pertanyaan seputar riwayat kesehatan.  Anak muda itu menjelaskan semuanya tentang kondisinya apa adanya, tidak ada yang ditutup-tutupi. "Saya menderita autoimmune ," jelasnya.  "Wah, nanti kalau interview lanjutan, jangan menyebut punya autoimmune , pasti kamu tidak diterima," kata interviewer itu.  "Tapi saya...

Emak Sudah Pulang Kampung

Emak adalah orang kampung, dan kemarin subuh sekitar jam 4 pagi ia sudah pulang ke “kampung”nya yang kekal. Sudah beberapa kali dalam beberapa bulan terakhir ini ia mengatakan ingin pulang ke rumah Bapa di Surga, yang ia bayangkan sebagai kampung halamannya, yang terhampar sawah dan padi, air sungai yang gemericik, dan angin gunung yang semilir. Emak memang orang yang polos, tidak pernah sekolah, tidak bisa baca-tulis. Kalau bicara pakai Bahasa Jawa, sedikit bisa Bahasa Indonesia tapi belepotan. Tetapi heran, Tuhan sayang sekali dengan Emak. Saya merasa sayangnya Tuhan kepada Emak melebihi sayangnya Tuhan kepada saya. Saya pernah menulis cerita tentang Emak ini di blog ini dengan judul “ Emak Menelepon Tuhan ”. Emak ini bukan keluarga saya. Ia orang lain, bukan sanak, bukan famili, bukan siapa-siapa. Ia ikut mama mertua saya sejak mudanya, bahkan sebelum istri saya lahir. Masa kecil istri saya di kampungnya di Srono, Banyuwangi itu ya kebanyakan dengan Emak. Jadi istri saya ada...

The Brothers Who Taught The World How to Fly

The first, this is a story about perseverance. The second, it’s about the spirit of a family where love, trust, and encouragement was planted, grew and flourished. The Wright brothers, Wilbur and Orville, began their dream that ‘man can fly’ in their home in Dayton, Ohio, in 1896. At that time, Orville, 25, was struck by the dreaded typhoid, for days he lay in a delirium, close to death. It was a month before he could sit up in bed. His brother, Wilbur, 29, reading a book for Orville about German glider enthusiast Otto Lilienthal who had recently been killed in an accident. Lilienthal had been doing his aviation experiment by taking lesson from the birds. He died after crashed several times of which the last caused him a broken spine. Apparently, the book about Lilienthal failure triggered Wilbur and Orville’s mind to do experiment based on the lesson-learned. “The works of Lilienthal had ‘infected’ us with the unquenchable enthusiasm and transformed idle curiosity into the activ...

Setitik Bara, Sepotong Harapan

"You can cut all the flowers but you cannot keep spring from coming” – Pablo Neruda   Seperti musim semi, demikianlah harapan harusnya mewujud. Musim semi menggantikan kebekuan musim dingin. Ia menumbuhkan tunas-tunas kecil pada ranting yang daunnya meranggas. Lalu helai demi helai daun bermunculan, dan warna-warni bunga setelahnya. Alam selalu patuh pada waktu dan sabar menunggu gilirannya. Musim semi selalu menghembuskan kehangatan dan membawa perubahan. Ia menerbitkan harapan. “ When flowers bloom, so does hope ,” kata tulisan di sebuah tembok kota. Ada yang bilang, jangan pernah kehilangan harapan, karena ada saatnya dalam suatu episode hidup, tiba-tiba kita terseret masuk dalam kegelapan, bahkan kegelapan yang paling pekat. Jika kita tak mampu menghalau petaka menghabiskan segala yang kita miliki, sisakan harapan. Itulah yang diceritakan oleh ayah saya tentang harapan yang dimilikinya. Waktu itu saya masih berumur empat tahun. Saya sendiri tak pernah ingat pe...

Nasihat Dari Balik Penjara

--To err is human; to forgive, divine– Alexander Pope Setiap malam gadis remaja itu menghabiskan waktu bersama ibunya sebelum keduanya beranjak tidur. Ibunya akan selalu memberikan nasihat-nasihat sesuai dengan jadwal membaca Alkitab pada hari itu. Paling tidak selama satu jam anak dan ibu itu akan mengobrol sampai kantuk datang. Nasihat-nasihat ibunya selalu baru sehingga anak itu merasa sayang jika melewatkan satu atau beberapa bagian di dalamnya. “Jadi siapakah yang lebih berbahagia di antara keduanya, yang diampuni atau yang mengampuni, Mama?” tanya gadis remaja itu. Malam itu mereka sampai pada kisah pengampunan sesuai bacaan pada Matius 18. “Yang mengampuni, Sayang,” jawab ibunya sambil meletakkan Alkitabnya di pangkuannya. “Mengapa?” tanya gadis remaja itu. Di sekolah SMP-nya, ia pernah menanyakan hal yang sama kepada guru agamanya, dan gurunya menjawab ‘sama saja’ – sebuah jawaban yang tidak memuaskan hatinya. “Karena orang yang mengampuni adalah orang yan...

Mumpung masih ada waktu

Kamu sudah sebelas tahun sekarang. Tidak terlalu aku pedulikan cepatnya waktu berlalu, hingga tiba-tiba aku sadari tinggi badanmu sudah sampai di kupingku, dan aku tak bisa lagi menggendong kamu seperti dulu. Time flies… Sebentar lagi kamu akan melepaskan masa kanak-kanakmu dan menjadi gadis remaja. Aku tak bisa lagi menganggapmu sebagai anak kecil, karena cara berpikirmu pasti akan berbeda, jauh berbeda dengan jalan pikiranku semasa aku seumur kamu dulu. Sekarang aku harus lebih sabar mendengarkan dan menyambut pertanyaan-pertanyaanmu, walau terkadang pertanyaan-pertanyaanmu membuat aku tergagap. Dari situlah aku menyadari bahwa tidaklah mungkin mengurung pikiranmu di dalam ruang yang sempit, apalagi menahan langkahmu yang panjang dan cepat, langkah kaki yang akan membawamu meraih cita-cita dan masa depan. Mumpung masih ada waktu. Seandainya aku bisa meminta agar waktu melambatkan putarannya sedikit saja, agar aku punya lebih banyak waktu bersamamu dan menebus wak...

Merawat Cinta Dengan Matematika Cinta

Cinta bukan matematika. Benar, cinta bukan urusan tambah-kurang-kali-bagi seperti matematika, tetapi ada matematika cinta. Dalam matematika setiap angka adalah ajaib, karena dengan angka-angka itu orang dapat menciptakan apa saja. Namun keajaiban angka dalam matematika masih countable . Sebut saja berapapun angka yang bisa kita sebut, ia tetap countable . Tidak demikian dengan matematika cinta. Kata jurnalis Amerika Mignon McLaughlin (1913 – 1983), “I n the arithmetic of love, one plus one equals everything, and two minus one equals nothing .” Formula matematika cinta dari McLaughlin itu sepertinya derivatif (turunan) dari formula yang sangat tua ketika Tuhan menyatukan dua manusia pertama: “ S ebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia . ” (Markus 10:7-9) S...