Kita sering melihat orang yang perbuatannya jahat sekali.
Lalu memastikan bahwa orang seperti itu tidak bakal bisa berubah.
Kita memandang orang seperti itu tidak layak diampuni. Bahkan kita berharap kalau bisa ia lekas mati saja.
Tetapi pandangan Tuhan jauh berbeda.
Dan Ia punya cerita soal transformasi yang dialami oleh seorang muda militan bernama Saulus, yang membuktikan bahwa di dunia ini tak ada yang tak dapat diubah
Bagi Tuhan, tak ada suatu kejahatan yang terlampau jahat yang tak dapat diampuni.
Sebelumnya Saulus adalah seorang yang garang, yang menyeret orang-orang yang beribadah, yang memanggil nama Tuhan, agar menyangkal imannya.
Padahal Saulus sendiri adalah seorang muda yang taat beragama.
Tetapi ia justru mengejar-ngejar orang dengan surat kuasa penuh dari pemimpin agama yang ditanda-tangani oleh imam besar untuk mempersekusi umat Tuhan.
Saulus yang terpelajar dan cerdas mengerti bahwa ia perlu landasan hukum.
Surat kuasa itu ia gunakan untuk melegalkan aksi brutalnya.
Jika pemerintah Romawi mau menjeratnya atas pelanggaran hukum, imam besarlah yang bertanggung-jawab karena meng-approved surat kuasa itu.
Dan di zaman itu pemerintah Romawi agak enggan berurusan dengan imam besar dalam soal-soal agama.
Maka Saulus mengejar mereka sampai ke kota-kota lain.
Dengan hati yang berkobar-kobar.
Dengan hati penuh kebencian.
Tetapi..
Ketika ia memasuki kota Damsyik (Damaskus), sebuah cahaya yang sinarnya lebih terang daripada matahari menghentikannya.
Ia rebah ke tanah, lalu terdengarlah suara, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?”
“Siapakah Engkau, Tuhan?” tanyanya.
“Akulah Yesus yang kau aniaya itu,” jawab suara itu.
Di situlah titik-balik kehidupan Saulus, yang kemudian dinamai Paulus.
Tuhan mengatakan kepada Ananias, seorang murid-Nya, bahwa Ia telah memilih Paulus untuk menjadi alat di tangan Tuhan untuk mengerjakan rencana-Nya di dunia ini.
“Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku,” kata Tuhan.
Aneh bin ajaib.
Jika ada seorang yang begitu jahat malah dipilih oleh Tuhan menjadi hamba-Nya, apa lagi yang dapat kita katakan kalau bukan karena anugerah?
Anugerah Tuhan memang tidak masuk akal.
Perjumpaan dengan Tuhan telah mengubah Saulus.
Dari seorang yang brutal menjadi seorang yang penuh kasih.
Paulus, setelah menjadi rasul, mengajarkan bahwa tanpa kasih, kita nothing.
“Sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak memiliki kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan pada akhirnya akan tinggal tiga hal, yaitu iman, pengharapan dan kasih, tetapi yang paling besar di antaranya adalah kasih,” tulisnya di dalam 1 Korintus 13.
Bagaimana mungkin seseorang yang menghunus pedang dan penuh nafsu membunuh tiba-tiba bicara soal kasih?
Sesungguhnya kita yang tampaknya “baik-baik saja” barangkali tidak lebih baik daripada Saulus.
Dan kejahatan kita yang “sedikit-sedikit saja” belum tentu tidak lebih jahat daripada perbuatan Saulus, bukan?
Jika kita begitu yakin bahwa sudah selayaknya Tuhan mengampuni kita, mengapa kita bersikap sinis terhadap orang jahat dan menganggap ia tidak layak diampuni?
Tuhan tidak sulit mengampuni kita sejahat apapun kita.
Tetapi Ia berkata, “Jika engkau tidak mengampuni kesalahan saudaramu, maka Bapamu di Surga juga tidak akan mengampunimu.”
***
Serpong, 10 Ags 2026
Titus J.

Comments