Ia seorang pelacur. Penulis Injil menyebutnya sebagai perempuan berdosa. "Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa." (Lukas 7:37) Ia bukan pelacur biasa, tetapi pelacur yang terkenal. Karena terkenal, maka bolehlah kita katakan bahwa pelanggannya banyak. Dan bolehlah juga kita berimajinasi bahwa ia berparas cantik. Hampir semua orang di kota itu tahu perempuan itu, termasuk Lukas si penulis Injil. Tetapi tampaknya Lukas menjaga kode etik. Ia merahasiakan identitas perempuan itu sehingga tidak menyebutkan namanya. Tak disangka-sangka, perempuan itu datang ke rumah Pak Simon yang pada hari itu mengundang Yesus untuk makan. Kalau di zaman sekarang hal itu seperti courtesy invitation , sebuah basa-basi sopan santun. Dan Yesus memang datang. Ia menghargai undangan itu. Tak diceritakan oleh Lukas apa saja yang diperbincangkan di meja makan itu, karena ada hal lain yang lebih penting. Perempuan itu berdiri di belakang Yesus sambil menangis. Ia ...
Indonesia ulang tahun lagi. Kali ini 81 tahun. Numpang tanya: Umur segini adalah umur yang matured , atau sudah tua, atau bahkan masih kanak-kanak dan lagi lucu-lucunya? Mungkin sebagian di antara kita bingung, apakah HUT ini harus kita rayakan dengan patriotik dan penuh rasa bangga, atau rasa sebal dan geram? Sudah segini jauh perjalanan bangsa kita, tapi.. Rasanya seperti bukan sebagai bangsa yang sudah 81 tahun merdeka. Adil makmur masih berupa mimpi. Makanan rakyat masih belum bergizi. Pejabat-pejabatnya terus korupsi. Sambil tetap berdoa agar tak ketahuan dan bisa sembunyi Akh, apa hubungan merdeka 81 tahun ini dengan hidup kita sehari-hari? Kita menjalani hidup kita sendiri, cari makan sendiri, mikir untuk bertahan hidup juga sendiri. Semua sudah otomatis. Rakyat tidak perlu diajarin bagaimana cara untuk hidup. Kau kira semuanya ini karena jasa pemerintah dan pejabat? Sorry yee, orang Indonesia sangat pintar cari jalan sendiri demi untuk survive . Coba kita renungkan, bagaimana p...