Skip to main content

Posts

Pleurer Les Cendres

"Dès que le peuple est légitimement assemblé en corps souverain, toute juridiction du gouvernement cesse." (Begitu rakyat secara sah berkumpul sebagai badan berdaulat, maka seluruh yurisdiksi pemerintah pun berakhir) --Jean Jacques Rousseau Itu dikatakan oleh Rousseau di tahun 1700-an. Apa yang dilihatnya pada masyarakat sosial, bahwa rakyat yang lemah tidak akan terus diam. Kelemahan rakyat –pada titik tertentu-- justru akan menjadi letupan yang kuat dan dahsyat, sehingga siapapun tak dapat menahannya, tak juga pentungan polisi, water canon dan gas airmata. Rakyat Perancis yang akhir-akhir ini menggeliat karena tertekan memang sudah ada tanda-tanda “mbrojol” . Ibarat bayi yang mau lahir, kepalanya sudah di bawah, tinggal tunggu waktu saja. Tetapi bahwa kerusuhan pecah begitu rupa, sampai terjadi pembakaran gedung dan penjarahan toko, hal itu mengherankan untuk Perancis yang masyarakatnya sangat menghargai intelektualitas, filsafat, sastra, dan seni. Orang Perancis juga sel...
Recent posts

Tuhan Sudah Mati

Tuhan sudah mati. Karena sudah mati, maka Ia tak dapat melihat orang korupsi. Iblislah yang hidup, dan enaknya ia pro dengan korupsi. Jadi tak perlu takut korupsi, karena iblis siap jadi backing. Tuhan sudah mati, kata Nietzsche dulu. Memang, Tuhan sudah mati, kata orang-orang BNPB yang terjaring OTT oleh KPK kemarin. Mengapa harus menggubris yang sudah mati? Mengapa harus takut kepada yang sudah mati? Menganggap Ia masih ada cuma sebuah kebodohan, kata mereka. Maka para pejabat BNPB itu dengan mata jalang dan mulut penuh air liur membuka tudung saji di atas meja, mengeruk makanan dengan sekop, karena tidak cukup dengan sendok, tak peduli yang dimakan adalah dana siap pakai untuk menanggulangi bencana. Nafsunya edan-edanan. Sementara hutan-hutan di Kalimantan, Sumatera dan Papua terbakar. Sudah berbulan-bulan panas api merobek langit, mendidihkan lapisan atmosfir, mengeringkan udara, memanggang tubuh-tubuh warga yang hanya bisa pasrah. Dan mereka yang katanya hebat itu, ternyata tak ma...

Ia Tidak Jadi Menyentuh Lambung-Nya

Banyak yang bilang Tomas adalah rasul peragu. Ini gara-gara ia tak percaya omongan teman-temannya yang bertemu Yesus di malam hari setelah pagi harinya Yesus bangkit dari kematian.  “Kami telah melihat Tuhan,” kata mereka. “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya,” jawab Tomas. (Yohanes 20:25) Karena hal itu maka Tomas dicap sebagai peragu, nggak percayaan . Ketika Yesus menampakkan diri kepada murid-muridNya (minus Tomas), Ia secara spesifik menunjukkan dua luka yang sangat penting. “Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka.” (Yohanes 20:20). Jadi teman-teman Tomas itu melihat Yesus secara langsung, dari dekat, bahkan melihat lubang bekas paku di tangan-Nya dan luka bekas tikaman tombak di lambung-Nya. Jika Tomas juga ingin melihat dua luka itu seperti yang teman-temannya lihat, dan ingin...

Orang Pajak Itu Resign Oleh Dua Kata

Sejak dulu hingga kini, orang pajak dibenci orang. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan profesi ini, karena orang pajak adalah petugas pemerintah. Dan soal membayar pajak pun juga perintah Allah: “ Berikanlah kepada Kaisar (pemerintah) apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar (pemerintah) dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah .” (Matius 22:21). Tetapi sudah terlanjur ada stigma terhadap orang pajak.  Kita berhak marah, karena pajak yang dipungut dari keringat kita dikorupsi begitu rupa.  Di Indonesia orang pajak (dan bea cukai) banyak terjerat kasus korupsi. Googling saja, pasti akan muncul berderet-deret nama. Walaupun mungkin masih banyak orang pajak yang kerjanya bener, tapi jika masyarakat sudah prejudice , stigma itu sulit untuk diubah. Stigma seperti itu juga terjadi dulu terhadap orang pajak. Gelarnya: pemungut cukai atau tax collector . Salah satunya adalah Matius. Ia seorang yang terpelajar dan cerdas. Ia piawai dalam soal-soal hitungan dan akun...

Garudaku Meriang

Bulan Agustus telah lewat. Bulan kemerdekaan pun usai. Saatnya menurunkan merah-putih dari tiang bendera yang terpancang di rumah-rumah kita. Lalu kainnya yang kotor terkena debu kita cuci, jemur, setelah kering kita lipat dan simpan di dalam lemari. Biarkan ia menunggu setahun lagi, dengan harapan semoga tahun depan bisa berkibar lagi. Tetapi, apakah memang hanya di bulan Agustus saja merah-putih kita kibarkan? Bulan Agustus yang sakral, Agustus yang magis..  Yang perlu kita tandai Seperti festival rakyat 27 Agustus yang lalu.  Pada hiruk-pikuk protes (baca: aksi massa) itu di gedung DPR, perhatian kita tersedot oleh rombongan warga Pati. Pemimpin mereka, Supriyono (Mas Botok) mengenakan kaos hitam dengan gambar garuda, tetapi sayapnya diperban, pada kepalanya ada plester atau koyo pereda nyeri dan pusing. Dari sudut matanya meleleh kesedihan. Sang garuda yang kepalanya tertunduk layu dan matanya sayu berucap sambil menggigil, “Aku terno suntik. Awakku loro kabeh.” (bahasa J...

Pelacur Itu Mendahului Kita ke Surga

Ia seorang pelacur. Penulis Injil menyebutnya sebagai perempuan berdosa. "Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa." (Lukas 7:37)  Ia bukan pelacur biasa, tetapi pelacur yang terkenal.  Karena terkenal, maka bolehlah kita katakan bahwa pelanggannya banyak. Dan bolehlah juga kita berimajinasi bahwa ia berparas cantik. Hampir semua orang di kota itu tahu perempuan itu, termasuk Lukas si penulis Injil. Tetapi tampaknya Lukas menjaga kode etik. Ia merahasiakan identitas perempuan itu sehingga tidak menyebutkan namanya. Tak disangka-sangka, perempuan itu datang ke rumah Pak Simon yang pada hari itu mengundang Yesus untuk makan. Kalau di zaman sekarang hal itu seperti courtesy invitation , sebuah basa-basi sopan santun. Dan Yesus memang datang. Ia menghargai undangan itu.  Tak diceritakan oleh Lukas apa saja yang diperbincangkan di meja makan itu, karena ada hal lain yang lebih penting. Perempuan itu berdiri di belakang Yesus sambil menangis. Ia ...

HUT-81 RI: Presiden Tak Usah Pidato

Indonesia ulang tahun lagi. Kali ini 81 tahun. Numpang tanya: Umur segini adalah umur yang matured , atau sudah tua, atau bahkan masih kanak-kanak dan lagi lucu-lucunya? Mungkin sebagian di antara kita bingung, apakah HUT ini harus kita rayakan dengan patriotik dan penuh rasa bangga, atau rasa sebal dan geram? Sudah segini jauh perjalanan bangsa kita, tapi.. Rasanya seperti bukan sebagai bangsa yang sudah 81 tahun merdeka. Adil makmur masih berupa mimpi. Makanan rakyat masih belum bergizi. Pejabat-pejabatnya terus korupsi. Sambil tetap berdoa agar tak ketahuan dan bisa sembunyi Akh, apa hubungan merdeka 81 tahun ini dengan hidup kita sehari-hari? Kita menjalani hidup kita sendiri, cari makan sendiri, mikir untuk bertahan hidup juga sendiri. Semua sudah otomatis. Rakyat tidak perlu diajarin bagaimana cara untuk hidup. Kau kira semuanya ini karena jasa pemerintah dan pejabat? Sorry yee, orang Indonesia sangat pintar cari jalan sendiri demi untuk survive . Coba kita renungkan, bagaimana p...