Bulan Agustus telah lewat. Bulan kemerdekaan pun usai. Saatnya menurunkan merah-putih dari tiang bendera yang terpancang di rumah-rumah kita. Lalu kainnya yang kotor terkena debu kita cuci, jemur, setelah kering kita lipat dan simpan di dalam lemari. Biarkan ia menunggu setahun lagi, dengan harapan semoga tahun depan bisa berkibar lagi. Tetapi, apakah memang hanya di bulan Agustus saja merah-putih kita kibarkan? Bulan Agustus yang sakral, Agustus yang magis.. Yang perlu kita tandai Seperti festival rakyat 27 Agustus yang lalu. Pada hiruk-pikuk protes (baca: aksi massa) itu di gedung DPR, perhatian kita tersedot oleh rombongan warga Pati. Pemimpin mereka, Supriyono (Mas Botok) mengenakan kaos hitam dengan gambar garuda, tetapi sayapnya diperban, pada kepalanya ada plester atau koyo pereda nyeri dan pusing. Dari sudut matanya meleleh kesedihan. Sang garuda yang kepalanya tertunduk layu dan matanya sayu berucap sambil menggigil, “Aku terno suntik. Awakku loro kabeh.” (bahasa J...
Life is beautiful, and also..., simple.