Skip to main content

Posts

Showing posts with the label characters

The Brothers Who Taught The World How to Fly

The first, this is a story about perseverance. The second, it’s about the spirit of a family where love, trust, and encouragement was planted, grew and flourished. The Wright brothers, Wilbur and Orville, began their dream that ‘man can fly’ in their home in Dayton, Ohio, in 1896. At that time, Orville, 25, was struck by the dreaded typhoid, for days he lay in a delirium, close to death. It was a month before he could sit up in bed. His brother, Wilbur, 29, reading a book for Orville about German glider enthusiast Otto Lilienthal who had recently been killed in an accident. Lilienthal had been doing his aviation experiment by taking lesson from the birds. He died after crashed several times of which the last caused him a broken spine. Apparently, the book about Lilienthal failure triggered Wilbur and Orville’s mind to do experiment based on the lesson-learned. “The works of Lilienthal had ‘infected’ us with the unquenchable enthusiasm and transformed idle curiosity into the activ...

Ibu

Menangislah Pak, sebab menangis bukanlah tanda kelemahan. Bukan pula tanda kecengengan. Ia hanya sebuah bahasa Yang tak mampu dituturkan oleh kata-kata Tentang sesuatu yang ada di dalam Yang terpukul dan remuk-redam Kesesakan hatimu tak mungkin kami sepenuhnya tahu Yang kehilangan Ibu, justru di saat-saat yang paling kau perlu Untuk menopangmu, Dengan kasih dan doa seorang Ibu. Ah, seandainya kau bisa menyandarkan kepalamu di dadanya, Seperti seorang anak kecil yang penat, lalu 'nyambat' Menantikan tangan yang keriput itu, mengelus kepalamu, Sambil berpesan, "Sing sabar yo le.." Tetapi Pak, kami tahu bahwa kau bukanlah orang yang suka show-off Apalagi pamer derita dan airmata Bahkan ketika pelupuk matamu sudah hendak pecah, Kau masih berusaha untuk menyumbatnya agar tak membuncah. Tetapi sekuat apapun upayamu menidurkan duka, Duka itu tetap meremas hatimu, Hingga tiba-tiba matamu tergenang basah, Lalu kau terpaksa harus menyingkir di sudut...

Rantang Marta

Sejak pagi Marta telah berdandan dengan cantik. Ia menuju ke dapur dan mengecek semua persediaan yang diperlukannya untuk tamunya. Kemudian dengan tergopoh-gopoh ia menuju bilik tempat Maria, saudaranya tidur. "Kau tidak bersiap menyambut Guru?" sergah Marta dengan nada jengkel. Ditariknya selimut yang masih melingkari tubuh Maria dengan rapat. Ia menuju jendela yang hanya berupa lubang tanpa tirai di tengah bilik itu, lalu menjulurkan kepalanya keluar. "Lihat, Maria, merah di Timur sana sudah mulai pecah, sebentar lagi menguning dan terang!" katanya lagi. Maria bangkit dan bergegas ke belakang. Sehari-hari kampung di Betania itu begitu damai dan tenang, tetapi hari itu tiba-tiba berubah ramai. Ada kabar melompat dari mulut ke mulut bahwa seorang Pengajar keliling akan lewat dan mampir ke rumah Maria dan Marta. Matahari sudah tinggi ketika Yesus, Sang Pengajar keliling itu sampai di rumah mereka. Marta melompat ke dapur dan berdenting-dentanglah suara pera...

The Power of Ikhlas

(Kisah Dua Janda - Part 2) Ah, satu lagi seorang janda telah membikin malu kita, pada suatu masa, ketika kelaparan hebat melanda tanah Israel. Di Sarfat janda itu hidup, tak kalah miskin daripada janda yang mempersembahkan dua peser itu di bait Allah. Lalu mampirlah Nabi Elia. “Buatkan bagiku sepotong roti,” kata Elia. “Maaf Tuan, aku hanya punya segenggam tepung dan sedikit minyak, yang hanya cukup untukku dan anakku pada hari ini, dan besok aku tidak punya apa-apa lagi, selain kain kafan yang sudah kusiapkan untukku dan anakku,” jawab janda itu. Tetapi Elia menjawab, “Bikinkan roti untukku terlebih dahulu, baru untukmu dan anakmu.” "Duhai Nabi, Tuan sungguh tidak punya rasa," pikir janda itu. Wajar ia berpikir demikian, karena Nabi itu meminta makan padanya di saat paceklik dan janda itu hanya punya nafas sehari lagi, dan itupun dimintanya pula? Janda itu memandang anaknya yang tergolek memegangi perutnya yang mulai perih. Tetapi mata Elia seakan berbicara. ...

Persembahan Yang Tulus

(Kisah Dua Janda - Part 1) Ah, janda itu. Ia telah membikin malu kita. Ia berjalan pelahan sambil tertunduk, karena ia rumangsa bahwa orang-orang yang memberi persembahan sebelum dia adalah orang-orang berduit, yang waktu menuju peti persembahan berjalan dengan langkah tegap dan kepala mendongak. Janda itu berjalan gemetar karena ia tahu bukan hanya orang-orang kaya yang sedang berada di bait Allah itu, tetapi Seorang Pengajar top, baru saja menyelesaikan khotbah-Nya dan sedang duduk memperhatikan. Janda itu menggenggam rapat-rapat uang recehnya agar tak ada yang tahu berapa keping dalam genggamannya yang akan dimasukkan ke peti persembahan. Ia begitu miskin. Semiskin apakah ia? Hari itu ia cuma punya dua peser. Peser adalah mata uang terkecil Yahudi. Jika dikonversi ke Rupiah, 1 peser kira-kira sama dengan Rp. 500 uang sekarang. Janda miskin itu pada hari itu hanya punya Rp. 1.000. Betapa miskinnya. Ia benar-benar lebih miskin dari pengemis manapun, pemulung manapun, da...

Baru 58 Tahun

Masih muda dirimu, Pak. Bahkan jika waktu mengantarmu sepuluh tahun bahkan duapuluh tahun ke depan, kau akan tetap muda, sebab kemudaan bukan soal umur, bukan soal raga, tetapi soal semangat, soal pola pikir, soal kedewasaan, dan soal attitude. Engkau bergerak tak kenal lelah, menapakkan kakimu dari Timur hingga Barat negeri ini, bahkan seandainya waktu dan tenagamu tak membatasi, niscaya tak sejengkal tanahpun di negeri ini yang tak kau jejaki, yang tak kau sambangi, hanya untuk menyapa rakyat, dan menularkan semangat optimisme itu, bahwa esok selalu ada harapan. Masih muda dirimu, Pak. Tetapi sudah banyak yang kau lakukan selama hampir lima tahun ini, dengan mencucurkan keringat, menahan pukulan, hinaan, dan segala jenis caci-maki, dari mereka yang tak menganggapmu ada. Kau pernah berkata betapa masih banyak lagi keinginan dan cita-citamu yang ingin kau kerjakan, jika kau masih diberi kesempatan. Tapi, Pak, belum cukupkah luka yang mencabik tubuhmu yang kerempeng itu? ...

Kasih Yunarto

Saya tidak kaget jika banyak yang membenci Yunarto Wijaya, Direktur Eksekutif Charta Politika. Tetapi saya kaget ketika tahu bahwa ia menjadi salah satu target pembunuhan bersama dengan empat pejabat tinggi Indonesia yang terungkap baru-baru ini. Biasanya sebuah plot pembunuhan bermotif politik akan menyasar pejabat penting negara. Tujuannya tak lain adalah membuat geger. Jadi empat target pejabat tinggi yang ada dalam list tersebut merupakan target vital yang bisa berdampak sangat serius secara politik apabila rencana itu terlaksana. Tetapi menyasar target seorang pemimpin lembaga survey? Toto – panggilan akrab Yunarto – hanya seorang analis politik yang kebetulan mengelola sebuah lembaga survey. Begitu berbahayakah ia bagi seseorang atau sekelompok orang? Ia toh hanya berteman dengan angka-angka, dan semua angka yang direlease oleh lembaganya bisa dipertanggung-jawabkan karena berbasis ilmu. Angka-angka itu berbicara dengan gamblang. Lagipula, bukankah ilmu tak dapat dise...

Vivere Pericoloso a la Yunarto

Kalau nonton Yunarto Wijaya di TV, kita tahu ia cerdas. Sebagai Direktur Eksekutif Charta Politika, analisanya tajam, bahasanya membumi, tidak muter-muter. Toto (panggilan akrabnya) kaya dengan data dan referensi. Ia berani mempertahankan argumentasi karena scientific-based. Ia suka menyentil, agak nakal dan terkadang menohok, tapi apa yang disampaikannya bukan konten fitnah. Ini yang terpenting. Di alam demokrasi ini, setiap orang bebas berekspresi, dengan gaya apapun, mau serius atau lucu, mau ngegas atau kalem, ok-ok saja, yang penting jangan fitnah, jangan rasis. Fitnah dan rasis ini merusak demokrasi, merusak kehidupan. Toto sudah kenyang diperlakukan rasis. Di media sosial ia sering diolok-olok karena ia keturunan Tionghoa. Ada yang kasar memanggilnya 'Cina', atau yang lebih kasar lagi 'Cina kafir'. Dibully seperti itu sudah biasa. "Jika Prabowo-Sandi menang, berani nggak Yunarto pindah ke negara komunis, China atau Korut? Ayok taruhan," tantan...

Memetik Rejeki

Dalam setiap kesempatan saya naik transportasi online, baik ketika saya beredar di Jakarta maupun dari rumah menuju stasiun kereta dan sebaliknya, di dalam mobil saya sering mengajak ngobrol sopirnya. Walaupun ngobrolnya "ngalor-ngidul", dua hal yang selalu saya tanyakan adalah dimana sopir itu tinggal, dan bagaimana order hari itu. Soal tempat tinggal ini sering mengejutkan saya. Ada sopir yang berasal dari Purwakarta. Sopir ini cuma pulang ke Purwakarta seminggu sekali, dan selama beredar di Jakarta, malam hari ia tidur di dalam mobil. Kalau mandi ia mencari toilet umum. Dari sini saja kita mengerti betapa hebat perjuangannya untuk memetik rejekinya. Pernah juga sopir saya adalah seorang wanita, berjilbab. Ia mulai meng-on-kan aplikasinya jam 7 pagi, setelah ia antarkan anaknya ke sekolah. "Saya cuma sampai jam 1 siang aja Pak," katanya. "Kok nggak sampai sore Bu?" tanya saya. Ibu ini lalu menjelaskan bahwa ia harus menjemput anaknya dari sekol...

Graceful Grace

Grace Natalie ini bukan perempuan biasa. Pertama, di usia yang semuda itu, ia - lahir 1982 - mampu mendirikan partai politik (PSI). Kedua, ia adalah seorang keturunan Tionghoa dan Kristen. Orang bilang ia punya status dobel minoritas. Banyak orang berbisik, status Grace ini bakal jadi batu sandungan baginya di dunia politik. Ini Indonesia, bro & sis! Tapi justru itu point-nya. Ia berani membuktikan bahwa minoritas itu hanya soal mindset, tidak perlu merasa inferior. Bukankah minoritas yang berkontribusi lebih berguna daripada mereka yang tidak berbuat apa-apa? PSI mengukir 'partainya anak muda' sebagai identitas. Ini terobosan cerdas. Selama ini anak-anak muda cenderung apatis bahkan anti berpolitik. Dalam pikiran mereka politik terlalu kotor, dan sudah banyak makan korban. Tetapi Grace berhasil mengubah stigma. PSI membawa wajah baru politik. Maka disana berkumpullah anak-anak muda cerdas, beragam dan penuh idealisme. Mendengar Grace berpidato, wawancara, talk sho...

Cerita Jokowi

Menarik sekali memperhatikan model kampanye Jokowi. Ia keliling daerah untuk bertemu masyarakat, bukan untuk berpidato, tetapi mengajak ngobrol. Enak melihat kampanye model begini, tidak ada teriak-teriak dan marah-marah. Dalam setiap kunjungannya itu selalu ada cerita. Cerita itu lalu ditulis (tim penulisnya cerdas), dan diposting di akun medsosnya beserta foto atau video. Semua yang ditulis itu sederhana dan tidak bombastis. Tetapi walaupun sederhana, tulisan-tulisan itu sarat dengan pesan, memberikan informasi tentang denyut nadi masyarakat yang ia kunjungi dan hasil kerjanya selama ini. Postingannya mendapat ratusan ribu 'view' dan 'like'. Memang tidak semua berkomentar positif, ada sebagian memaki. Lucu juga model follower begini, mereka mem-follow hanya untuk memaki. Kampanye dengan model cerita seperti itu sangat produktif, konstruktif dan edukatif. Membaca cerita Jokowi, kita seperti dibawa keliling Indonesia dan melihat negeri ini dalam keadaan apa adan...