Ia seorang pelacur. Penulis Injil menyebutnya sebagai perempuan berdosa. "Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa." (Lukas 7:37) Ia bukan pelacur biasa, tetapi pelacur yang terkenal. Karena terkenal, maka bolehlah kita katakan bahwa pelanggannya banyak. Dan bolehlah juga kita berimajinasi bahwa ia berparas cantik. Hampir semua orang di kota itu tahu perempuan itu, termasuk Lukas si penulis Injil. Tetapi tampaknya Lukas menjaga kode etik. Ia merahasiakan identitas perempuan itu sehingga tidak menyebutkan namanya. Tak disangka-sangka, perempuan itu datang ke rumah Pak Simon yang pada hari itu mengundang Yesus untuk makan. Kalau di zaman sekarang hal itu seperti courtesy invitation , sebuah basa-basi sopan santun. Dan Yesus memang datang. Ia menghargai undangan itu. Tak diceritakan oleh Lukas apa saja yang diperbincangkan di meja makan itu, karena ada hal lain yang lebih penting. Perempuan itu berdiri di belakang Yesus sambil menangis. Ia ...
Life is beautiful, and also..., simple.