Skip to main content

Petrus, Laut dan Tuhan

Beberapa tahun lalu, saya bersama serombongan teman naik kapal nelayan untuk mencari ikan di tengah laut. Maksudnya ingin healing dengan aktivitas memancing di tengah laut, bukan di kolam pemancingan. Bayangan asyiknya berlayar sehari-semalam di tengah lautan bermain-main di kepala menjelang keberangkatan.

Saat hari masih sore, kami berangkat menuju ke sebuah kampung nelayan di daerah Binuangeun, Lebak, Banten. Sesampainya di sana, hari sudah malam, dan kami menginap di sebuah losmen sederhana untuk istirahat sejenak sambil menunggu pagi. Sekitar jam empat subuh kami dibawa menuju ke tengah laut menggunakan perahu kecil. Di sana sudah menunggu kapal yang lebih besar, seingat saya ada tujuh kamar tidur di dalamnya. Kapal inilah yang membawa kami ke tengah laut dengan harapan membawa pulang hasil tangkapan yang banyak. 

Dari kapal itu kami menikmati pemandangan laut yang begitu indah, dengan semburat sinar matahari dan hembusan angin serta gerakan ombak yang mengayun-ayun kapal. Kami tertawa-tawa, makan dan minum, mengobrol ngalor-ngidul sambil melemparkan umpan ke laut. 

Namun, makin ke tengah laut, ombak semakin besar, mengangkat badan kapal lalu membantingnya. Begitu terus berulang-ulang. Suara tawa pun meredup, lalu berhenti total. Beberapa teman, termasuk saya, mengalami mabuk laut sampai menumpahkan semua isi perut. 

Kapal terus bergerak ke tengah laut seiring senja beranjak. Dalam gelap malam, saya melihat di depan saya ombak setinggi tiga-empat meter, seperti sebuah dinding yang tiba-tiba berdiri. Setelah itu, ganti badan kapal yang naik, seolah ada tangan raksasa yang mengangkatnya, lalu menghempaskannya lagi. Demikianlah terjadi sepanjang malam.

Saya dan beberapa teman yang tak kuasa bertahan akhirnya memilih berbaring di dalam kamar. Namun kami tidak bisa tidur karena kapal terus bergoyang. Dan tiap kali kapal diterjang ombak besar, terdengar suara keras. Tebakan saya, suara itu berasal dari lambung kapal yang dihajar ombak. 

Saya mengintip dari celah dinding kamar, tetapi sejauh saya melihat, hanya hitam yang membentang. Saat itulah saya benar-benar pasrah, hati saya menciut, dan berharap pagi cepat datang. Gelombang laut dan tiupan angin di waktu malam sungguh menakutkan.

Apalagi jika dari balik kegelapan tiba-tiba muncul satu sosok berjubah putih yang berjalan mendekat, seperti yang dialami oleh murid-murid Yesus. “Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru, “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut.” (Matius 14:26).

Dalam kegelapan di tengah laut seperti itu, mungkin yang terlihat hanya sebuah jubah berjalan, tanpa kepala, tanpa kaki. Suatu makhluk yang tak berwujud dan mungkin hanya tampak seperti sehelai kain putih yang bergerak-berjalan-berkibar di antara hitamnya malam.

Namun dalam ketakutan itu, untunglah Yesus mengeluarkan suara, “Tenanglah! Ini Aku. Jangan takut!”

Bayangkan jika Yesus tetap membisu dan terus berjalan menghampiri mereka, mungkin kejadiannya akan sama seperti di film horor. Mungkin semua murid yang berada di dalam perahu akan terjun menceburkan diri ke laut (karena tidak dapat lari tunggang-langgang, bukan?) dan mencari selamat masing-masing.

Namun dari semua murid, hanya Petrus yang langsung merespons, “Tuhan, apabila itu Engkau, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” 

Entah apa yang mendorong Petrus berinisiatif “menantang” Gurunya. Seolah ia mengatakan, “Engkau bisa berjalan di atas air, buat aku untuk bisa seperti itu juga.”

Saya yakin Petrus bukan sok jago, tetapi pada detik itu iman Petrus meletup seperti sumbat botol yang mencelat akibat tekanan dari dalam. Ingat bahwa respons Petrus terjadi setelah ia mendengar suara Yesus. Petrus sangat dekat dengan Gurunya dan saya yakin ia mengenal suara Gurunya. Ketika Yesus mengabulkan permintaannya, terbukti ia benar-benar dapat berjalan di atas air.

Ketika Petrus berjalan di atas air, tidak ada yang tahu apakah air laut (danau Galilea) di telapak kakinya terasa seperti kasur empuk atau aspal yang keras. Yang jelas, ia benar-benar berjalan dengan kakinya di atas air, seolah berjalan di atas benda yang solid.

Kakinya melangkah mendatangi Gurunya. Selama beberapa detik atau menit itu, entah apa yang dirasakan Petrus. Dari perahu, teman-temannya memandang Petrus dengan terbengong-bengong dan mata terbelalak. Perasaan mereka tentu campur-aduk antara takut, kagum, heran, bingung, dan tak percaya.

Tak diceritakan berapa langkah Petrus berhasil melawan hukum Archimedes itu. Namun setelah “keberhasilannya” berjalan, ia mulai menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia melihat gelombang tinggi seakan hendak menelan tubuhnya dan merasakan angin bertiup kencang menerpa seakan hendak merobohkannya. Selebihnya, ia hanya melihat kegelapan yang mengelilinginya.

Saat itu jam tiga dini hari. Ia benar-benar ketakutan. Mungkin sama dengan yang saya alami seperti cerita saya tadi. 

Kegelapan lautan sangat berbeda dengan kegelapan daratan. Lautan yang gelap sungguh menciutkan nyali, mengiris hati. Di kedalamannya ia menyimpan misteri.

Pada hari cerah laut akan dipenuhi dengan baris-baris puisi yang indah, tetapi pada malam hari, ungkapan puisi romantis seperti apa yang dapat ditorehkan tentang laut?

Ketika kita berada di tengah hamparan laut di waktu malam, serasa ada mata yang sedang mengamati dan telinga yang sedang mendengarkan kita. Saat angin menderu lalu gelombang mulai datang bergulung-gulung, serasa ada mulut yang menganga seolah ingin menelan kita. 

Sedetik iman Petrus meletup, sedetik pula imannya menciut.

Tiupan angin yang dingin membuatnya tiba-tiba menggigil, lalu ia menyadari ada yang tidak normal dengan keadaannya saat itu. Lalu pikirnya, “Apa ini sungguhan? Atau jangan-jangan aku berhalusinasi?”

Ketika itulah Petrus tak lagi memandang Gurunya, walau ia sudah semakin dekat. Hatinya bimbang, tak memercayai apa yang terjadi. Ia bahkan menyangkal kenyataan dengan sebuah ketakutan bahwa sebentar lagi pasti ia akan tenggelam. Ketika ia berpikir bakal tenggelam, ia pun tenggelam. Dan benar, telapak kakinya yang tadi menjejak sesuatu yang padat tiba-tiba terperosok ke lubang cair yang seketika menyedotnya ke bawah. Spontan ia berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!”

Untung sekali lagi, Gurunya mengulurkan tangan-Nya dan memegangnya, lalu berkata, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” 

Betapa cepatnya imannya meletup, tetapi betapa cepat pula imannya seperti kerupuk yang tersiram air. Itulah Petrus yang spontan, polos, berani, dan tak berbasa-basi.

Di lain peristiwa menjelang kematian Yesus, keberaniannya juga meletup dengan cepat, tetapi pupus dengan cepat pula.

"Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku," kata Yesus. "Biarpun mereka semua terguncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak," jawab Petrus dengan spontan dan gagah berani (Matius 26:31-33). Namun ketika Yesus ditangkap dan dibawa ke hadapan imam besar, lalu ada orang menudingnya, "Engkau pasti murid-Nya!", maka ia pun menjawab, "Ah, ngawur! Aku tak kenal Dia!"

Ia terkejut ketika mendengar ayam berkokok dan menangis tersedu-sedu ketika mata Gurunya menatap matanya. Tatapan mata itu begitu penuh arti. Tatapan yang mengingatkan, bukan menghakimi.

Di pertemuan terakhirnya setelah Yesus bangkit dari kematian, ada rasa sesak di dada Petrus ketika Gurunya menemuinya dan mengajaknya sarapan. Ia tak berani ngomong apa-apa, tidak spontan dan ceplas-ceplos seperti sebelumnya. Suasananya agak kaku, ada perasaan tak enak, karena ia ingat telah menyangkal-Nya tiga kali.

Namun Gurunya merengkuh hatinya, “Simon, apakah engkau mengasihi Aku?”

Itu bukan pertanyaan literal –Tuhan tahu bahwa Petrus mengasihi-Nya– tetapi sapaan yang memiliki arti khusus. Seolah Gurunya ingin mengatakan, “Sudahlah. It’s okay. Aku tahu kamu, Aku mengerti kamu.”

Cuma itu. Pertanyaan selembut itu saja yang mengulik hati Petrus hingga ia tak tahan lagi. Sebuah pertanyaan yang memulihkan.

Dan setelahnya ia benar-benar menjadi batu karang.

***
Serpong, Apr 2026
Titus J.

Comments

Popular posts from this blog

Eisenhower, The Top Figure Army General, The Modest President

This is a portrait of Dwight D. Eisenhower, a young dreamer, charting a course from Abilene, Kansas, to West Point and beyond. Before becoming the 34th president (two terms from 1953 to 1961), Ike –as he was called–  was a five-star general in the U.S. Army during World War II and served as Supreme Commander of the Allied Expeditionary Force in Europe. This book reveals the journey of the man who worked with incredible subtlety to move events in the direction he wished them to go. In both war and peace, he gave the world confidence in American leadership. In the war period, Ike commanded the largest multinational force ever assembled to fight German troops in leading the Western powers to victory.  During his presidency, he ended a three-year war in Korea with honor and dignity. Not a single American died in combat for the next eight years. He resisted calls for preventive war against the Soviet Union and China, faced down Khruschev over Berlin, and restored stability in Leban...

Bertrand Russell Critical Analysis on Western Philosophy

“Philosophy is something intermediate between theology and science,” said Bertrand Russell. Theology and science occupy their own territory. All definite knowledge belongs to science, all dogma as to what surpasses definite knowledge belongs to theology. Between theology and science there is No Man’s Land, exposed to attack from both sides. For that the philosophy is present. The No Man’s Land is philosophy. Then he added, “Philosophical conceptions are a product of two factors: one, inherited religious and ethical conceptions; the other, the sort of investigation which may be called ‘scientific’.” Bertrand Russell who was born in 1872, he himself was a British philosopher as well as mathematician, logician, historian, writer, and social critic. In this book, which was firstly published in 1945, Russell divided the philosophy chronologically into three parts: Ancient Philosophy, Catholic Philosophy and Modern Philosophy. This book is a widely read and influential philosophical history ...

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...