Skip to main content

Posts

Showing posts with the label social

Orang Pajak Itu Resign Oleh Dua Kata

Sejak dulu hingga kini, orang pajak dibenci orang. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan profesi ini, karena orang pajak adalah petugas pemerintah. Dan soal membayar pajak pun juga perintah Allah: “ Berikanlah kepada Kaisar (pemerintah) apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar (pemerintah) dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah .” (Matius 22:21). Tetapi sudah terlanjur ada stigma terhadap orang pajak.  Kita berhak marah, karena pajak yang dipungut dari keringat kita dikorupsi begitu rupa.  Di Indonesia orang pajak (dan bea cukai) banyak terjerat kasus korupsi. Googling saja, pasti akan muncul berderet-deret nama. Walaupun mungkin masih banyak orang pajak yang kerjanya bener, tapi jika masyarakat sudah prejudice , stigma itu sulit untuk diubah. Stigma seperti itu juga terjadi dulu terhadap orang pajak. Gelarnya: pemungut cukai atau tax collector . Salah satunya adalah Matius. Ia seorang yang terpelajar dan cerdas. Ia piawai dalam soal-soal hitungan dan akun...

Garudaku Meriang

Bulan Agustus telah lewat. Bulan kemerdekaan pun usai. Saatnya menurunkan merah-putih dari tiang bendera yang terpancang di rumah-rumah kita. Lalu kainnya yang kotor terkena debu kita cuci, jemur, setelah kering kita lipat dan simpan di dalam lemari. Biarkan ia menunggu setahun lagi, dengan harapan semoga tahun depan bisa berkibar lagi. Tetapi, apakah memang hanya di bulan Agustus saja merah-putih kita kibarkan? Bulan Agustus yang sakral, Agustus yang magis..  Yang perlu kita tandai Seperti festival rakyat 27 Agustus yang lalu.  Pada hiruk-pikuk protes (baca: aksi massa) itu di gedung DPR, perhatian kita tersedot oleh rombongan warga Pati. Pemimpin mereka, Supriyono (Mas Botok) mengenakan kaos hitam dengan gambar garuda, tetapi sayapnya diperban, pada kepalanya ada plester atau koyo pereda nyeri dan pusing. Dari sudut matanya meleleh kesedihan. Sang garuda yang kepalanya tertunduk layu dan matanya sayu berucap sambil menggigil, “Aku terno suntik. Awakku loro kabeh.” (bahasa J...

Pelacur Itu Mendahului Kita ke Surga

Ia seorang pelacur. Penulis Injil menyebutnya sebagai perempuan berdosa. "Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa." (Lukas 7:37)  Ia bukan pelacur biasa, tetapi pelacur yang terkenal.  Karena terkenal, maka bolehlah kita katakan bahwa pelanggannya banyak. Dan bolehlah juga kita berimajinasi bahwa ia berparas cantik. Hampir semua orang di kota itu tahu perempuan itu, termasuk Lukas si penulis Injil. Tetapi tampaknya Lukas menjaga kode etik. Ia merahasiakan identitas perempuan itu sehingga tidak menyebutkan namanya. Tak disangka-sangka, perempuan itu datang ke rumah Pak Simon yang pada hari itu mengundang Yesus untuk makan. Kalau di zaman sekarang hal itu seperti courtesy invitation , sebuah basa-basi sopan santun. Dan Yesus memang datang. Ia menghargai undangan itu.  Tak diceritakan oleh Lukas apa saja yang diperbincangkan di meja makan itu, karena ada hal lain yang lebih penting. Perempuan itu berdiri di belakang Yesus sambil menangis. Ia ...

HUT-81 RI: Presiden Tak Usah Pidato

Indonesia ulang tahun lagi. Kali ini 81 tahun. Numpang tanya: Umur segini adalah umur yang matured , atau sudah tua, atau bahkan masih kanak-kanak dan lagi lucu-lucunya? Mungkin sebagian di antara kita bingung, apakah HUT ini harus kita rayakan dengan patriotik dan penuh rasa bangga, atau rasa sebal dan geram? Sudah segini jauh perjalanan bangsa kita, tapi.. Rasanya seperti bukan sebagai bangsa yang sudah 81 tahun merdeka. Adil makmur masih berupa mimpi. Makanan rakyat masih belum bergizi. Pejabat-pejabatnya terus korupsi. Sambil tetap berdoa agar tak ketahuan dan bisa sembunyi Akh, apa hubungan merdeka 81 tahun ini dengan hidup kita sehari-hari? Kita menjalani hidup kita sendiri, cari makan sendiri, mikir untuk bertahan hidup juga sendiri. Semua sudah otomatis. Rakyat tidak perlu diajarin bagaimana cara untuk hidup. Kau kira semuanya ini karena jasa pemerintah dan pejabat? Sorry yee, orang Indonesia sangat pintar cari jalan sendiri demi untuk survive . Coba kita renungkan, bagaimana p...

Mencari Natal

“ I will honor Christmas in my heart, and try to keep it all the year. " - Charles Dickens Jika Natal bukan suatu musim, atau suatu momen, atau sekadar event , apakah Natal akan tinggal di hati kita, dan terus hidup sejalan dengan detak jantung kita? Setelah Silent Night dinyanyikan, setelah nyala lilin dimatikan, setelah pohon terang plastik diturunkan dan disimpan di gudang, setelah pintu gerbang gereja ditutup… Apakah Natal hanya lewat sebentar di suatu waktu, singgah tidak bahkan menyapa pun tidak, karena kita mengabaikannya dan tidak peduli untuk apa ia hadir? Apakah Natal tahun ini masih mengguratkan maknanya di hati kita, sedalam cinta yang dikandung oleh perawan Maria, seteguh tekadnya untuk taat, sekuat kerelaan rahimnya untuk dipinjam sebentar demi sebuah rencana yang ia tidak mengerti sepenuhnya?  Apakah hati kita masih tergugah dengan ketulusan para bangsawan dari Timur, orang-orang Majus itu, yang menempuh perjalanan dari negeri yang jauh hanya untuk menyembah Anak k...