Skip to main content

Posts

Colin Powell Who Firmed About His Calling

General Colin Powell was not only a successful military soldier, but also politician, diplomat, and statesman. In the 1995s, he was a presidential icon and considered the most trusted man in the United States. The author of this book, Jeffrey J. Matthews, wrote, “The Republicans, including some stalwart conservatives, also wanted Powell on board in any way they could entice him: as a governor, a senator, as vice president, or even president.” Countless journalists had imagined him as a presidential candidate, one who would be supported by both Republican and Democratic voters. This is rare for a candidate who gets support from both parties. U.S. News & World Report had published the cover story “Colin Powell Superstar: From Pentagon to the White House?” But Powell resisted. When he became the frontrunner in preliminary presidential election polls, he announced, “Ultimately, I had to look deep into my own soul, standing aside from the expectations and enthusiasms of othe...

Pada Semerbaknya Bau Mur

*Renungan Jumat Agung* Pada malam itu, pada sesi pengambilan keputusan, Yusuf dari Arimatea mengangkat tangannya. Ia melihat sekeliling ruangan. Tak ada tangan lain yang teracung ke atas. Tidak. Ternyata ia tidak sendiri. Tiba-tiba satu tangan lagi terangkat di barisan sebelah kanan. Dilihatnya tangan Nikodemus tegak lurus ke atas. Saat itulah mereka beradu pandang. Dalam perdebatan di sidang tadi, Nikodemus mempertanyakan, “Apakah hukum kita menghukum seseorang sebelum didengar keterangannya terlebih dahulu?” Tetapi sanggahan Nikodemus dan Yusuf tertelan oleh berbagai argumen yang dikemukakan kebanyakan anggota sidang yang lebih pro Kayafas. Yusuf dan Nikodemus masih menunggu dan berharap ada tangan-tangan lain yang terangkat. Ruang sidang sangat lengang sehingga jika ada jarum yang terjatuh akan terdengar oleh setiap telinga. Detik-detik yang menegangkan itu tidak berlangsung lama, karena Kayafas, pemimpin rapat sidang Sanhedrin itu, kemudian berbicara dengan suara berat, “...

Pilpres: Memilih Etika

  Saya nemu file sepuluh tahun lalu ini. Judulnya “ Jokowi or Prabowo? ” Artikel ini saya tulis untuk koran The Jakarta Post di Readers’ Forum tanggal 2 April 2014. Ini awal saya mendukung Jokowi di pilpres. Kemenangannya saya rayakan bersama teman-teman yang sepemikiran: ingin punya pemimpin yang sederhana, merakyat, dan bersih. Dan keinginan itu terjawab dengan kinerjanya selama lima tahun. Saat itu Jokowi sering dihina dan dilecehkan, tetapi ia tak ambil pusing. Hal lain yang membesarkan hati, kita melihat keluarganya pun biasa-biasa saja. Gibran jualan martabak, Kaesang jualan pisang, Kahiyang seorang putri yang tidak menonjol sebagai putri Presiden. Ketiga anak ini betul-betul jauh dari sorotan dan tidak pernah ngerecokin bapaknya. Lalu Jokowi maju lagi di pilpres untuk kedua kalinya. Saya nyoblos dia lagi. Ia adalah role model yang memberi harapan. Di periode kedua ini, Jokowi punya grip yang semakin kuat dalam memegang kendali pemerintahan. Jika tingkat kepuasan pu...

Condy Delivers Master Class in Statecraft

Condoleezza Rice or Condy as she is called, is known as one of the world’s most admired women who played a critical role as the most confidante of President George W. Bush from 2001 to 2009. Bush appointed her as the National Security Advisor in his first term of presidency, and when Bush was re-elected for the second term, he asked Condy to be the Secretary of State. In United States, if the President were to resign or die, the Secretary of State is fourth in line of succession after the Vice President, the Speaker of the House, and the President pro tempore of the Senate. Besides this critical position, the US Secretary of State is in charge to shape and carry out the President’s foreign policy for which she had to travel around the globe even to the countries deem America is enemy. The 9/11 terrorist attack occurred just nine months after Condy took the position as National Security Advisor and she proved that she was competent in managing crisis. “There’re a lot of work to do...

Lee Kuan Yew: Ojo Kesusu

Betapa sabarnya Lee Kuan Yew (LKY). Ia tidak buru-buru menjadikan anaknya, Lee Hsien Loong, langsung menggantikannya ketika LKY lengser sebagai Perdana Menteri di tahun 1990. Waktu itu, Lee junior sudah menjadi anggota parlemen (umur 32 tahun), lalu menapaki karirnya sebagai Menteri Perdagangan dan Industri (umur 34 tahun), lalu Wakil Menteri Pertahanan. Di ketentaraan (SAF - Singapore Armed Forces), ia berpangkat Brigadir Jenderal. Toh LKY belum menganggap anaknya cukup. Ia tidak mau anaknya langsung lompat. "Don’t look for shortcuts. Jangan instan, ojo kesusu,” katanya. Itu tidak pantas. Di dunia politik dikenal adanya fatsun politik, artinya kesantunan politik atau etika politik. Kita sering mendengar bahwa politik itu kotor. Tetapi yang menjadikannya kotor sebenarnya adalah manusia yang berpolitik. Padahal politik itu juga punya etika. Lalu LKY digantikan oleh Goh Chok Tong sebagai Perdana Menteri di tahun 1990. PM Goh mempercayakan beberapa jabatan penting kep...

Mother Teresa Itu Sudah Pergi

In Memoriam Elasa Noviani (20 Nov 1966 – 10 Sep 2023) Sudah lebih dari 13 tahun saya mengenal Elasa (Ela). Bukan sekadar mengenalnya, tetapi kami bersama-sama “nyemplung” dalam pelayanan di bidang yang sama selama bertahun-tahun. Ketika saya dipercaya sebagai pemimpin redaksi majalah Nafiri GKY BSD sekitar tahun 2010-an, ada yang merekomendasikan nama Ela untuk masuk dalam staf redaksi. Saya tidak kenal Ela, tetapi ketika saya telepon dan saya ajak untuk bergabung di Nafiri, dia langsung bersedia. Saya memberikan tugas-tugas penulisan, wawancara, dan mencari narasumber. Ia selalu bersemangat ketika menerima tugas apalagi wawancara tentang kesaksian jemaat, potret (mini biografi jemaat yang akan diangkat kisah hidupnya), dan serpihan perjalanan yang menceritakan pengalaman spiritualnya ketika ia dalam perjalanan ke suatu tempat (dalam rangka business trip , liburan, atau ketika ia pelayanan ke tempat-tempat kumuh dan kaum marginal). Di situlah Ela menunjukkan komitmennya. Tak pe...

How The Killing of Jesus Taken Place

This book is not a religious book as said by the authors, Bill O’Reilly and Martin Dugard, but a history. Thus, despite they are both Roman Catholics who were educated in religious schools, they wrote this book more from the historical point of view than Christianity faith. They refrain of mixing the story with divine things despite a lot of stories and words are taken from the Bible. In this book, the authors do not address Jesus as Messiah, but as a man who was preaching about peace and love, His standpoint as opposition of the religious leaders for which had made Him as the most wanted enemy of Sanhedrin, and, how the plot to kill Him was planned. The story about Jesus (and killing Jesus) of course will not be completed without looking at the Roman empire domination in the land of Israel prior to Jesus birth, as we can see in this book how the emperor governed the defeated land; from Julius Caesar until Caesar Augustus under whom baby Jesus born, then Emperor Tiberius who ruled ...

Bush - Good or Bad?

Despite this book has been acclaimed as a fair assessment of Bush’s presidency, the author seems not able to hide the sharp criticism tone towards the 43 rd president of America. “Rarely in the history of the United States has the nation been so ill-served as during the presidency of George W. Bush,” wrote the book opening remarks. This book tells Bush’s story from his youth, his time at schools and university, his professional career as well as political career. This book also shows foreign policy of America was not in good hands under Bush administration, especially the global war that he declared post 9/11. No wonder indeed, during the presidential election, George W. Bush once expressed his interest in the presidency and confessed his lack of knowledge about foreign affairs. In chapter 9, under the title “Asleep at the Switch”, the story tells how Bush was so relax prior to the 9/11 terrorist attack that shocked not only America but the entire world. It was several times t...

Nyalimu Pak!

“Saya ditakut-takuti, diancam, ada intelijen asing bergerak kalau kita ambil alih Freeport,” kata Presiden Jokowi dalam pertemuannya dengan Bara JP hari Minggu yang lalu. Cerita Jokowi ini memang sepercik kisah dalam proses panjang pengambil-alihan saham Freeport dimana sebelumnya Indonesia cuma punya 9% saham saja. Jokowi maunya menjadi 51% sehingga bisa menjadi pengendali. Bicara mengenai Freeport tidak bisa lepas dari sejarah dan politik. Dimulai tahun 1960an ketika Amerika Serikat mendukung dan mengakui bahwa Irian Barat adalah bagian dari wilayah kedaulatan RI. Titik itu merupakan pintu masuk kehadiran Freeport di Papua melalui Kontrak Karya yang ditanda-tangani oleh (alm) Presiden Suharto di tahun 1967. Tetapi bertahun-tahun Indonesia cuma punya saham yang kecil. Setiap kali Indonesia mengajak berunding dengan Freeport, baik soal pembangunan smelter maupun soal peningkatan saham menjadi pemegang mayoritas, Freeport selalu berada di atas angin. Berbagai ancaman seperti akan ...

Pilatus: Ecce Homo!

*Renungan Jumat Agung* Pilatus sedang berada di dalam gedung pengadilan. Ia menunggu kedatangan imam-imam dan para pemuka agama Yahudi. Kabarnya, mereka akan menghadapkan seorang pengacau kepadanya untuk diadili. Sebagai Gubernur Yudea ia berwenang mengadili perkara sebagai hakim tunggal. Keputusannya mutlak. Pilatus sudah tahu. Beberapa hari lalu Orang yang disebut Yesus dari Nazaret ini membuat gempar kota Yerusalem ketika Ia memasuki kota dengan menunggang seekor keledai. Orang banyak menyebut-Nya raja. “Hmmhh.. seorang raja menunggang keledai?” pikir Pilatus. Petugas intelnya juga memberi informasi kepadanya bahwa Orang ini sama sekali tidak berbahaya bagi Romawi. Tetapi Pilatus tahu bahwa kaum agama Yahudi menganggap-Nya pengacau karena dengki. Belum sempat ia mencicipi anggur yang terhidang di atas meja, terdengarlah suara hiruk-pikuk di luar gedung pengadilan. Tampaknya mereka sudah datang, katanya lirih pada diri sendiri. “Orang ini menghujat Allah!” kata salah seoran...

Bisakah Aku Mencintai-Mu, Tuhan?

“Oh God, I don’t love you, I don’t even want to love you, but I want to want to love you.” --Teresa of Avila   Tidak mudah untuk menolak cinta, ternyata. Apalagi yang menyatakan cinta adalah Tuhan. Banyak orang menghindari cinta Tuhan, menolak untuk mencintai Tuhan, dan tidak ingin mencintai Tuhan, bukan karena mereka orang jahat, tetapi karena cinta Tuhan adalah cinta yang paling sulit untuk dipahami. Melibatkan diri dalam cinta Tuhan, barangkali bagi mereka, hanya membuang-buang waktu saja, karena toh tidak akan bisa memahaminya. Bagaimana kita memahami cinta kepada seorang penjahat, penjahat yang selama hidupnya hanya berbuat jahat, tetapi pada satu menit terakhir sebelum ajal, kepadanya justru disediakan Firdaus tanpa perbuatan baik apapun yang pernah dilakukannya? Bagaimana kita memahami cinta kepada seorang yang brutal dan ganas, yang menjadi penganiaya orang-orang yang berdoa kepada Tuhan, tetapi pada suatu ketika ia malah dipilih menjadi utusan-Nya, menjadi r...