Skip to main content

Posts

Lee Kuan Yew: Ojo Kesusu

Betapa sabarnya Lee Kuan Yew (LKY). Ia tidak buru-buru menjadikan anaknya, Lee Hsien Loong, langsung menggantikannya ketika LKY lengser sebagai Perdana Menteri di tahun 1990. Waktu itu, Lee junior sudah menjadi anggota parlemen (umur 32 tahun), lalu menapaki karirnya sebagai Menteri Perdagangan dan Industri (umur 34 tahun), lalu Wakil Menteri Pertahanan. Di ketentaraan (SAF - Singapore Armed Forces), ia berpangkat Brigadir Jenderal. Toh LKY belum menganggap anaknya cukup. Ia tidak mau anaknya langsung lompat. "Don’t look for shortcuts. Jangan instan, ojo kesusu,” katanya. Itu tidak pantas. Di dunia politik dikenal adanya fatsun politik, artinya kesantunan politik atau etika politik. Kita sering mendengar bahwa politik itu kotor. Tetapi yang menjadikannya kotor sebenarnya adalah manusia yang berpolitik. Padahal politik itu juga punya etika. Lalu LKY digantikan oleh Goh Chok Tong sebagai Perdana Menteri di tahun 1990. PM Goh mempercayakan beberapa jabatan penting kep...

Mother Teresa Itu Sudah Pergi

In Memoriam Elasa Noviani (20 Nov 1966 – 10 Sep 2023) Sudah lebih dari 13 tahun saya mengenal Elasa (Ela). Bukan sekadar mengenalnya, tetapi kami bersama-sama “nyemplung” dalam pelayanan di bidang yang sama selama bertahun-tahun. Ketika saya dipercaya sebagai pemimpin redaksi majalah Nafiri GKY BSD sekitar tahun 2010-an, ada yang merekomendasikan nama Ela untuk masuk dalam staf redaksi. Saya tidak kenal Ela, tetapi ketika saya telepon dan saya ajak untuk bergabung di Nafiri, dia langsung bersedia. Saya memberikan tugas-tugas penulisan, wawancara, dan mencari narasumber. Ia selalu bersemangat ketika menerima tugas apalagi wawancara tentang kesaksian jemaat, potret (mini biografi jemaat yang akan diangkat kisah hidupnya), dan serpihan perjalanan yang menceritakan pengalaman spiritualnya ketika ia dalam perjalanan ke suatu tempat (dalam rangka business trip , liburan, atau ketika ia pelayanan ke tempat-tempat kumuh dan kaum marginal). Di situlah Ela menunjukkan komitmennya. Tak pe...

How The Killing of Jesus Taken Place

This book is not a religious book as said by the authors, Bill O’Reilly and Martin Dugard, but a history. Thus, despite they are both Roman Catholics who were educated in religious schools, they wrote this book more from the historical point of view than Christianity faith. They refrain of mixing the story with divine things despite a lot of stories and words are taken from the Bible. In this book, the authors do not address Jesus as Messiah, but as a man who was preaching about peace and love, His standpoint as opposition of the religious leaders for which had made Him as the most wanted enemy of Sanhedrin, and, how the plot to kill Him was planned. The story about Jesus (and killing Jesus) of course will not be completed without looking at the Roman empire domination in the land of Israel prior to Jesus birth, as we can see in this book how the emperor governed the defeated land; from Julius Caesar until Caesar Augustus under whom baby Jesus born, then Emperor Tiberius who ruled ...

Bush - Good or Bad?

Despite this book has been acclaimed as a fair assessment of Bush’s presidency, the author seems not able to hide the sharp criticism tone towards the 43 rd president of America. “Rarely in the history of the United States has the nation been so ill-served as during the presidency of George W. Bush,” wrote the book opening remarks. This book tells Bush’s story from his youth, his time at schools and university, his professional career as well as political career. This book also shows foreign policy of America was not in good hands under Bush administration, especially the global war that he declared post 9/11. No wonder indeed, during the presidential election, George W. Bush once expressed his interest in the presidency and confessed his lack of knowledge about foreign affairs. In chapter 9, under the title “Asleep at the Switch”, the story tells how Bush was so relax prior to the 9/11 terrorist attack that shocked not only America but the entire world. It was several times t...

Nyalimu Pak!

“Saya ditakut-takuti, diancam, ada intelijen asing bergerak kalau kita ambil alih Freeport,” kata Presiden Jokowi dalam pertemuannya dengan Bara JP hari Minggu yang lalu. Cerita Jokowi ini memang sepercik kisah dalam proses panjang pengambil-alihan saham Freeport dimana sebelumnya Indonesia cuma punya 9% saham saja. Jokowi maunya menjadi 51% sehingga bisa menjadi pengendali. Bicara mengenai Freeport tidak bisa lepas dari sejarah dan politik. Dimulai tahun 1960an ketika Amerika Serikat mendukung dan mengakui bahwa Irian Barat adalah bagian dari wilayah kedaulatan RI. Titik itu merupakan pintu masuk kehadiran Freeport di Papua melalui Kontrak Karya yang ditanda-tangani oleh (alm) Presiden Suharto di tahun 1967. Tetapi bertahun-tahun Indonesia cuma punya saham yang kecil. Setiap kali Indonesia mengajak berunding dengan Freeport, baik soal pembangunan smelter maupun soal peningkatan saham menjadi pemegang mayoritas, Freeport selalu berada di atas angin. Berbagai ancaman seperti akan ...

Pilatus: Ecce Homo!

*Renungan Jumat Agung* Pilatus sedang berada di dalam gedung pengadilan. Ia menunggu kedatangan imam-imam dan para pemuka agama Yahudi. Kabarnya, mereka akan menghadapkan seorang pengacau kepadanya untuk diadili. Sebagai Gubernur Yudea ia berwenang mengadili perkara sebagai hakim tunggal. Keputusannya mutlak. Pilatus sudah tahu. Beberapa hari lalu Orang yang disebut Yesus dari Nazaret ini membuat gempar kota Yerusalem ketika Ia memasuki kota dengan menunggang seekor keledai. Orang banyak menyebut-Nya raja. “Hmmhh.. seorang raja menunggang keledai?” pikir Pilatus. Petugas intelnya juga memberi informasi kepadanya bahwa Orang ini sama sekali tidak berbahaya bagi Romawi. Tetapi Pilatus tahu bahwa kaum agama Yahudi menganggap-Nya pengacau karena dengki. Belum sempat ia mencicipi anggur yang terhidang di atas meja, terdengarlah suara hiruk-pikuk di luar gedung pengadilan. Tampaknya mereka sudah datang, katanya lirih pada diri sendiri. “Orang ini menghujat Allah!” kata salah seoran...

Bisakah Aku Mencintai-Mu, Tuhan?

“Oh God, I don’t love you, I don’t even want to love you, but I want to want to love you.” --Teresa of Avila   Tidak mudah untuk menolak cinta, ternyata. Apalagi yang menyatakan cinta adalah Tuhan. Banyak orang menghindari cinta Tuhan, menolak untuk mencintai Tuhan, dan tidak ingin mencintai Tuhan, bukan karena mereka orang jahat, tetapi karena cinta Tuhan adalah cinta yang paling sulit untuk dipahami. Melibatkan diri dalam cinta Tuhan, barangkali bagi mereka, hanya membuang-buang waktu saja, karena toh tidak akan bisa memahaminya. Bagaimana kita memahami cinta kepada seorang penjahat, penjahat yang selama hidupnya hanya berbuat jahat, tetapi pada satu menit terakhir sebelum ajal, kepadanya justru disediakan Firdaus tanpa perbuatan baik apapun yang pernah dilakukannya? Bagaimana kita memahami cinta kepada seorang yang brutal dan ganas, yang menjadi penganiaya orang-orang yang berdoa kepada Tuhan, tetapi pada suatu ketika ia malah dipilih menjadi utusan-Nya, menjadi r...

Bukan Sekadar Soal Perempuan

Tiada seorang pun manusia di dunia ini yang kedekatannya dengan Tuhan melebihi Musa. Jaraknya melebihi dekat. Sejarak nafas dengan hembusannya. Sejarak nadi dengan denyutannya. Ia begitu intim dengan Tuhannya. Tuhan sendiri yang menyatakan bahwa keintiman-Nya dengan Musa melebihi nabi-nabi manapun. “Aku bicara dengan nabi melalui penglihatan, melalui mimpi, tetapi dengan Musa aku bicara berhadap-hadapan. Hanya dia yang boleh memandang rupa-Ku,” kata Tuhan. Itu adalah deklarasi oleh Tuhan saat terjadi sebuah insiden di padang gurun, ketika Musa memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Kakak-kakak Musa, yaitu Miryam dan Harun, nge-gerundel tentang Musa yang memperistri perempuan Kush. Sebagian penafsir Alkitab mengatakan, perempuan Kush yang dimaksud ini adalah Zipora, anak seorang imam di Midian, bukan perempuan lain (Secara paras, orang Midian yang tinggal di padang pasir mirip dengan orang Kush). Tetapi penafsir yang lain mengatakan bahwa perempuan Kush ini bukan Z...

Emak Sudah Pulang Kampung

Emak adalah orang kampung, dan kemarin subuh sekitar jam 4 pagi ia sudah pulang ke “kampung”nya yang kekal. Sudah beberapa kali dalam beberapa bulan terakhir ini ia mengatakan ingin pulang ke rumah Bapa di Surga, yang ia bayangkan sebagai kampung halamannya, yang terhampar sawah dan padi, air sungai yang gemericik, dan angin gunung yang semilir. Emak memang orang yang polos, tidak pernah sekolah, tidak bisa baca-tulis. Kalau bicara pakai Bahasa Jawa, sedikit bisa Bahasa Indonesia tapi belepotan. Tetapi heran, Tuhan sayang sekali dengan Emak. Saya merasa sayangnya Tuhan kepada Emak melebihi sayangnya Tuhan kepada saya. Saya pernah menulis cerita tentang Emak ini di blog ini dengan judul “ Emak Menelepon Tuhan ”. Emak ini bukan keluarga saya. Ia orang lain, bukan sanak, bukan famili, bukan siapa-siapa. Ia ikut mama mertua saya sejak mudanya, bahkan sebelum istri saya lahir. Masa kecil istri saya di kampungnya di Srono, Banyuwangi itu ya kebanyakan dengan Emak. Jadi istri saya ada...

The Success and Mistake of Bloomberg

Michael Rubens Bloomberg –born in Boston on February 14,1942 to a Jewish family-- is an entrepreneur who elected mayor of New York City just after the 9/11 terrorist attack. He was facing myriad of challenges unlike any mayors in US history, and he proved to be successful in governing the city and restoring it from the severe destruction. During his eight years of twelve years tenure, he kept the city safe with the record low crime (then touted as the safest big city in America), managed budgets through fiscal crises, generated jobs, built infrastructure, improved public health, etc. However, his remarkable success was tainted by his ambition to run the third term of mayoralty despite it’s out of rule. He forced a change in the city charter –which limit the mayoralty term to max two consecutive terms-- to allow him to serve a third term. Despite elected for the third term, his performance declined. A pool conducted to get performance rating from the New York City voters resulte...

Penjara Anugerah

Pada suatu hari, dari dalam penjara, Rasul Paulus mengorek isi hatinya hingga tumpah. ”Aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.” Isi hatinya yang tertumpah itu dibiarkannya mengalir. Alirannya membentuk anak sungai yang berkelok-kelok melewati kota-kota di Asia Kecil. Belum puas ia mengorek isi hatinya yang sudah tumpah itu, ia mengorek hatinya lebih dalam lagi. “Tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. Aku adalah yang paling hina dari semua orang kudus...” Dan isi hatinya yang dua kali tertumpah itu membanjiri kota-kota di seluruh dunia. Itulah kebesaran sosok Rasul Paulus. Kebesaran dalam kerendahan-hatinya. Ia besar dalam kecilnya diri, value -nya tinggi dalam rendahnya hati. Sebuah kerendahan-hati yang tulusnya tiada tara. Itu adalah kerendahan-hati ilahi. Godly character. Nilai-nilai luhur kerendahan-hati Paulus itu sengaja dilestarikan oleh Tuhan dengan cara ...