Skip to main content

Posts

Forgive Me for Not to Obey Your Fatwa

It’s still fresh in my mind, where Megawati’s PDI (Indonesia Democracy Party) harshly knocked-out by Suharto’s power in 1996. I was still 3 months since I set my feet on Jakarta from my hometown. Everybody knew Megawati was a serious menace of Suharto’s Golkar at that time, and 1996 was only a year ahead of the election. Like previous elections, Golkar always wanted vote majority in order to keep Suharto in reign. Time could not be stopped and Megawati popularity has made the Suharto’s circle depressed. They seemed so fearful the Soekarno’s spirit was coming back. With a very dirt scenario, Suharto’s regime created drama by conspiring with several PDI executives to organize a congress in Medan. The congress, as predicted clearly by everyone, finally appointed Soerjadi as PDI chairman, Fatimah Ahmad as deputy chairman and Butu Hutapea as the secretary general (Soerjadi is Megawati’s predecessor). It means, Megawati who had been selected by National Meeting in Surabaya in 1993, was kick...

When God Is Not Powerful Anymore

We often perceive that God has to be powerful and can do anything. We force HIM to show His power, force HIM to do something that we want to. We are sure He will always hear us and help us because what we ask is any good things. We are trying to praise HIM and adore HIM by saying: “ Oh God, You are so powerful, You could do anything and You could change anything as nothing is impossible for You. ” But, then, after days gone and nothing happen, we disappointed to, and, even mock HIM. A drunk fights with his habit and intends to stop the behavior, but the more he attempts to stop the more he faces temptation. He then prays to God asking God to change him to be a good man. After several years he still struggles with that, but instead deeper involved as a drunken master. In the desperate and hopeless situation he eventually tells everybody: “ God is not powerful. In fact He could not change me. What’s wrong with my request? I asked a good thing! ” A woman experiences a bitter relationship ...

Let's Pray For Peace In GAZA

I received an email from my friend who has been working in Dubai since 2006 telling me that new year’s eve in the country (UAE) was not so as lively as usual before. While we, who are living in Indonesia particularly Jakarta so cheerful celebrating new year with fireworks and long night party. My friend told me the people of Dubai quietly stayed at home or went to mosques and churches to pray for Palestinian. There was no party, no fireworks, no trumpet blown in the night of 31 Dec 08. The UAE government asked everybody to welcome new year calmly as part of apprehensive attitude upon what was happening in Gaza – Palestine. The UAE government said it was not a wise attitude conducting a party while brothers and sisters in Palestine are moaning from pain in the war zone. War always creates deep misery, not to the elite figures, but to ordinary people. We don’t need to care either Israel or Hamas is standing in the right side. We don’t need to blame either Simon Peres or Ismail Haniya who...

Impromptu Moment

Waktu saya masih kecil, menjelang hari Natal tiba, ibu saya membuatkan bagi saya satu stel pakaian, yang nantinya akan saya kenakan pada hari Natal. Pakaian itu dari tahun ke tahun modelnya sama, yaitu sepotong celana pendek yang berwarna polos, tetapi di bagian bawahnya diberi kombinasi kain dari bahan lain yang bercorak garis atau kembang atau motif lain – melingkar selebar 3 senti sepenuh pipa kakinya. Bajupun juga demikian, warnanya senada dengan celananya tetapi diberi kombinasi kain dari bahan lain pula di bagian bawah lengan (melingkar setebal 3 senti sepenuh pipa lengannya). Di bagian tempat kancing kain kombinasi yang sama memanjang dari kerah ke bawah, juga di bagian sakunya. Mudah-mudahan anda bisa membayangkan seperti apa sepasang pakaian itu jadinya. Mengapa harus dimodel demikian? Karena kain-kain itu dikumpulkan ibu saya dari kain-kain sisa orang yang menjahitkan pakaiannya kepada ibu. Ya, ibu saya memang seorang penjahit, yang hanya punya 1 mesin jahit. Belakangan dari ...

Mahalnya Rp. 15 ribu

Sungguh tidak tertata dunia pendidikan di Indonesia ini. Lebih tepat kalau saya katakan: Tidak terurus. Kemarin saya menonton TV, pada acara “Nusantara”, TV Elshinta menayangkan figur seorang kepala sekolah SD yang merangkap sebagai pemulung. Bapak ini bernama Pak Mahmud. Setiap hari Pak Mahmud mengajar di sekolah itu, dan setiap hari pula sehabis pulang mengajar beliau harus memulung sampah untuk menyambung nafkah keluarganya. Kita tidak perlu bertanya berapa gaji Pak Mahmud sebagai seorang kepala sekolah di SD reyot itu, karena dengan mengikuti kesehariannya sudahlah dapat diketahui tanpa kita perlu berhitung dulu. Dan jika seorang kepala sekolah harus menjadi pemulung sampah, berapa rupiah murid-murid SD itu membayar biaya sekolahnya? Untuk hal inipun kita tidak perlu bertanya apa-apa. Jika memulung, Pak Mahmud memakai pakaian yang kumuh, bersandal jepit, berjalan mengais tumpukan sampah, lalu memilah-milahnya untuk barang-barang yang bisa dijual. Tapi jika beliau mengajar di kelas...

Sumbang

(sebuah cerpen) ”Sesungguhnya perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk Kerajaan Surga. Demikianlah kata Yesus kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat,” kata pengajar itu kepada Maria. ”Benarkah?” tanya Maria. "Benar, karena mereka merasa dirinya benar dan suci dengan melakukan ibadahnya, sedangkan perempuan sundal itu merasa dirinya hina karena seorang pendosa". "Ceritakanlah kepadaku tentang kemunafikan”, pinta Maria kepada pengajar itu. Maka pengajar itu mulailah bercerita: Di gereja yang besar itu laki-laki itu sangat dikenal. Usianya belum terlalu tua, kira-kira 50 tahun. Ia sangat terpandang, bukan hanya karena kekayaannya, namun terlebih karena kiprahnya dalam kegiatan-kegiatan kerohanian. Sudah belasan tahun ia terlibat sebagai aktivis di gereja itu. Semua orang tahu, lelaki itu seorang yang saleh, dan sukses. Siapa yang tidak tahu bahwa bisnisnya maju, mobilnya banyak, dan rumahnya mewah? Siapa yang tak kenal dengan bau parfumnya yang semerba...

Cukup Satu Nama Saja

Coba sebut 1 nama saja untuk seorang pemain sepak bola Nasional, yang olehnya kita boleh bangga. Jika ada, saya yakin tak berapa lama lagi Indonesia akan masuk putaran final Piala Dunia. Kalau tidak di 2010 di Afrika Selatan, tunggulah dengan sabar sampai tahun 2014, atau 2018. Tetapi jika jawabannya no name , anda jangan pernah berani bermimpi, karena sampai bumi berhenti berputar tidak akan pernah ada satu nama. Lihat saja gambar di sebelah ini, betapa unbelievable . Olah raga yang menjunjung tinggi sportifitas selalu dan selalu dinodai dengan tingkah-polah memalukan seperti ini 1) . Yang begini yang bikin Indonesia, negeri pecinta sepak bola, terus meratap dan tak pernah bisa bermimpi untuk suatu saat mendengarkan lagu Indonesia Raya berkumandang, pada menit-menit sebelum sebuah pertandingan internasional dimulai. Tidak nasionaliskah kita jika kita mematikan televisi atau mengubah channel televisi ketika pertandingan Liga Indonesia berlangsung? Tidak nasionaliskah kita jika kita me...

RUU Pornografi, oh Alangkah Repotnya

Menyusun rancangan undang-undang anti pornografi memang sungguh repot. Bagaimana tidak? Sedangkan dalam mendefinisikan pornografi saja sudah menghasilkan multi tafsir. Pada Bab I Pasal 1 RUU Pornografi disebutkan: “ Pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat .” Pornografi sendiri menurut kamus Oxford cuma dijelaskan secara singkat, yaitu: “ Printed or visual material intended to stimulate sexual excitement. ” Sedangkan menurut kamus Webster, pornografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu porne (prostitute) + graphein (to write) - menjadi “ pornographos ”, yang berarti “ writing about prostitutes ”. Penjelasan lebih detail dari ka...

Diana Krall dan Clint Eastwood

Ketika Diana Krall datang ke Jakarta 6 tahun lalu (2002), saya masih baru menyukainya. Saya membeli kaset “Diana Krall live in Paris” dan berulang-ulang memutarnya di tape compo saya. Makin sering saya putar kasetnya, makin jatuh cinta saya kepadanya. Wah, inilah nuansa jazz yang selama ini saya cari, pikir saya. Jazz yang tidak terlalu njlimet , tapi penuh dengan improvisasi indah dari vocalnya plus instrumen-instrumen pendukungnya. Kita ingin menikmati music jazz, bukan? Di Paris itu Diana diiringi oleh Anthony Wilson (gitar), John Clayton (kontra bass) dan Jeff Hamilton (drum). Dan warna vocal Diana itu betul-betul memabukkan saya, yaitu warna vocal yang cenderung alto, agak berat dan kadang-kadang seperti berbisik serak romantis. Huii… Tidak menyangka setelah waktu itu, di tahun 2008 ini Peter Gontha dengan Java Festival Production-nya mengundang Diana ke Jakarta. Wah, thanks Pak Peter, anda ternyata tahu penyanyi/pemusik yang selama ini saya rindukan. Tanpa pikir panjang lagi saya...

Rindu Ketupat

Tiba-tiba saya begitu rindu ketupat. Saat-saat seperti ini mengingatkan saya akan ketupat yang selalu saya nikmati di kampung halaman saya dulu begitu lebaran tiba. Dulu, sekitar 25 tahun yang lalu (hmm.. sudah lama sekali masa itu), tetangga dan teman sekampung berdatangan ke rumah dan masing-masing membawa senampan penuh ketupat, serantang sayur bersantan yang berisi nangka muda, kacang panjang dan opor ayam, dan yang paling saya suka…adalah bubuk kedelai. Ibu saya kemudian membagi-bagi ketiga komponen itu ke dalam beberapa piring (sejumlah kami waktu itu – tujuh piring). Cara membaginya adalah dengan cara mengiris-iris ketupat itu menjadi potongan kecil-kecil, menyiramnya dengan sayur bersantan itu lalu terakhir menaburinya dengan bubuk kedelai yang harum itu. Kami semua makan dengan lahap. Ibu dan bapak saya biasanya makan belakangan. Belum habis ketupat itu di piring-piring kami, datanglah tetangga kami yang lain membawa senampan ketupat dan teman-temannya itu. Dan teruslah merek...