Skip to main content

Garudaku Meriang

Bulan Agustus telah lewat.

Bulan kemerdekaan pun usai.

Saatnya menurunkan merah-putih dari tiang bendera yang terpancang di rumah-rumah kita.

Lalu kainnya yang kotor terkena debu kita cuci, jemur, setelah kering kita lipat dan simpan di dalam lemari.

Biarkan ia menunggu setahun lagi, dengan harapan semoga tahun depan bisa berkibar lagi.


Tetapi, apakah memang hanya di bulan Agustus saja merah-putih kita kibarkan?

Bulan Agustus yang sakral, Agustus yang magis.. 

Yang perlu kita tandai

Seperti festival rakyat 27 Agustus yang lalu. 


Pada hiruk-pikuk protes (baca: aksi massa) itu di gedung DPR, perhatian kita tersedot oleh rombongan warga Pati.

Pemimpin mereka, Supriyono (Mas Botok) mengenakan kaos hitam dengan gambar garuda, tetapi sayapnya diperban, pada kepalanya ada plester atau koyo pereda nyeri dan pusing. Dari sudut matanya meleleh kesedihan.

Sang garuda yang kepalanya tertunduk layu dan matanya sayu berucap sambil menggigil, “Aku terno suntik. Awakku loro kabeh.” (bahasa Jawa: antarkan aku ke dokter, badanku sakit semua).


Orang-orang desa di Jawa jika sedang sakit akan datang ke dokter atau mantri, yang biasanya tidak hanya memberi obat untuk diminum, tetapi juga akan menyuntik si sakit. Si sakit ini baru merasa marem (bahasa Jawa: puas) jika sudah disuntik. Tidak tahu apakah karena suatu sugesti atau memang suntikannya cespleng, yang jelas si sakit ini ketika pamitan kepada dokter atau mantri sudah merasa separo sembuh. Besoknya akan sembuh bener (Ini zaman waktu saya masih kecil ya, nggak tahu apakah zaman sekarang masih seperti ini. Yang jelas garuda di kaos Mas Botok minta suntik).


Jika mulut yang bicara tidak didengar, mungkin kaos bisa menggantikan.

Bahasa kaos Mas Botok yang satire.

Sindirannya menggunakan garuda, karena garuda adalah Indonesia.

Garuda yang cakarnya mencengkeram bhinneka tunggal ika itu mewakili seluruh rakyat, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote.

“Aku terno suntik, awakku loro kabeh,” keluh sang garuda.

Dulu di ruang-ruang kelas sekolahku, garuda bertengger gagah di depan kelas. Kepalanya tegak, paruhnya runcing mengkilat, sorot matanya tajam, sayapnya mengembang anggun, dan cakarnya kokoh.


Tetapi saat ini garudaku lisut. Badannya meriang, sakit semua, tidak cuma pegel linu.

Nafasnya tersengal-sengal karena kebanyakan menghirup asap karhutla di Kalimantan, Sumatera dan Papua.

Ia tidak kuat lagi terbang.

Jangankan terbang, jalan saja sempoyongan.

Ia harus dipapah kanan-kiri agar tidak tumbang.


Mungkinkah garuda kekurangan makanan bergizi?

Ahh tidak mungkin.. ada MBG.

Garudaku mungkin lupa minum jamu cap MBG.


“Kapan kowe ngeterne aku suntik? Ojo suwe-suwe” (bahasa Jawa: kapan kamu mengantar aku berobat ke dokter? Jangan lama-lama) tanya garuda kepada kita.

Memang kita perlu pelopor, ya rakyat yang punya tekad seperti warga Pati itu.

Sebuah ikhtiar agar garuda sembuh.

Kalau enggak, warna hitam kaos Mas Botok itu bisa saja bukan sekadar simbol.

Tetapi suatu kekhawatiran yang sudah berulang kali diserukan oleh rakyat: Hitam. Indonesia gelap.


Tetapi Pak Presiden yakin bahwa ia akan membawa Indonesia cerah.

Lewat pidato-pidatonya, lewat podium yang digebrak-gebrak, lewat MBG, lewat suaranya yang menggelegar: “Hidup Jokowi..!!!”


Garudaku makin menggigil. 

Kali ini tambah mengigau, “Kapan kowe ngeterne aku suntik? Aku njaluk suntik ping pindo.”


Serpong, 1 Sep 2026

Titus J.


Comments

Popular posts from this blog

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...

Forgive Me for Not to Obey Your Fatwa

It’s still fresh in my mind, where Megawati’s PDI (Indonesia Democracy Party) harshly knocked-out by Suharto’s power in 1996. I was still 3 months since I set my feet on Jakarta from my hometown. Everybody knew Megawati was a serious menace of Suharto’s Golkar at that time, and 1996 was only a year ahead of the election. Like previous elections, Golkar always wanted vote majority in order to keep Suharto in reign. Time could not be stopped and Megawati popularity has made the Suharto’s circle depressed. They seemed so fearful the Soekarno’s spirit was coming back. With a very dirt scenario, Suharto’s regime created drama by conspiring with several PDI executives to organize a congress in Medan. The congress, as predicted clearly by everyone, finally appointed Soerjadi as PDI chairman, Fatimah Ahmad as deputy chairman and Butu Hutapea as the secretary general (Soerjadi is Megawati’s predecessor). It means, Megawati who had been selected by National Meeting in Surabaya in 1993, was kick...

When A Street Crime Is Negotiable

That is true a bad guy will not be the bad guy forever. Sometimes, depending on the situation, a bad guy, in fact, still has compassion to his victim. No matter it’s because of pity or something else, but crime in Jakarta is not always appears in horror. The spirit of hometown solidarity for example, is also one of the factors that can be used to win the crime. It’s like what had happened to my team (my subordinate) when I was working for a private bank in Jakarta. Just call him Fresman. May be his parent expected him to always being fresh, I don’t know, but that’s true, his temperament is cool, calm, and always smiles – never looked stressful in any situation. He was very good and talented person in his job. He could always accomplish every job that I gave to him, as long as I described a clear instruction and a clear target date. And, every job was done rightfully. One day he came lately to office, gasped for breath and came to my desk in hurry. “Sorry sir, I am late,” he said while ...