Skip to main content

Baru 58 Tahun


Masih muda dirimu, Pak.
Bahkan jika waktu mengantarmu sepuluh tahun bahkan duapuluh tahun ke depan, kau akan tetap muda, sebab kemudaan bukan soal umur, bukan soal raga, tetapi soal semangat, soal pola pikir, soal kedewasaan, dan soal attitude.

Engkau bergerak tak kenal lelah, menapakkan kakimu dari Timur hingga Barat negeri ini, bahkan seandainya waktu dan tenagamu tak membatasi, niscaya tak sejengkal tanahpun di negeri ini yang tak kau jejaki, yang tak kau sambangi, hanya untuk menyapa rakyat, dan menularkan semangat optimisme itu, bahwa esok selalu ada harapan.

Masih muda dirimu, Pak.
Tetapi sudah banyak yang kau lakukan selama hampir lima tahun ini, dengan mencucurkan keringat, menahan pukulan, hinaan, dan segala jenis caci-maki, dari mereka yang tak menganggapmu ada.

Kau pernah berkata betapa masih banyak lagi keinginan dan cita-citamu yang ingin kau kerjakan, jika kau masih diberi kesempatan.
Tapi, Pak, belum cukupkah luka yang mencabik tubuhmu yang kerempeng itu? "Biarkan orang menghinaku, melukaiku, asalkan Indonesia selamat," katamu.

Hari ini orang-orang menyiapkan kue ulang tahun untukmu, tetapi engkau tampak begitu canggung, karena memang tak pernah kau rayakan hari jadimu, apalagi dengan kue ulang tahun dan lilin, sebab bagimu mensyukuri hidup bukan soal ritual tahunan, apalagi dengan pesta, atau dengan bentuk kemewahan lainnya.

Bagimu yang sederhana, umur adalah tanggungjawab, adalah pengabdian, adalah doa. Karena disitulah bertemunya kebajikan dan kearifan, yang mengajarkan betapa waktu dan kesempatan adalah anugerah-Nya semata. 
Bawalah kami menyusuri jalanmu untuk meraih mimpi, mimpimu, mimpiku, mimpi kita semua, yang selama ini tersembunyi dan tak pernah tergali.

Masih muda dirimu, Pak. 
Ah, seandainya kami menemukanmu sejak dulu...
Selamat ulang tahun..

Anyone who stops learning is old, whether at twenty or eighty. Anyone who keeps learning stays young (Henry Ford)

***
Serpong, 21 Jun 2019
Titus J.

Comments

Popular posts from this blog

Eisenhower, The Top Figure Army General, The Modest President

This is a portrait of Dwight D. Eisenhower, a young dreamer, charting a course from Abilene, Kansas, to West Point and beyond. Before becoming the 34th president (two terms from 1953 to 1961), Ike –as he was called–  was a five-star general in the U.S. Army during World War II and served as Supreme Commander of the Allied Expeditionary Force in Europe. This book reveals the journey of the man who worked with incredible subtlety to move events in the direction he wished them to go. In both war and peace, he gave the world confidence in American leadership. In the war period, Ike commanded the largest multinational force ever assembled to fight German troops in leading the Western powers to victory.  During his presidency, he ended a three-year war in Korea with honor and dignity. Not a single American died in combat for the next eight years. He resisted calls for preventive war against the Soviet Union and China, faced down Khruschev over Berlin, and restored stability in Leban...

Bertrand Russell Critical Analysis on Western Philosophy

“Philosophy is something intermediate between theology and science,” said Bertrand Russell. Theology and science occupy their own territory. All definite knowledge belongs to science, all dogma as to what surpasses definite knowledge belongs to theology. Between theology and science there is No Man’s Land, exposed to attack from both sides. For that the philosophy is present. The No Man’s Land is philosophy. Then he added, “Philosophical conceptions are a product of two factors: one, inherited religious and ethical conceptions; the other, the sort of investigation which may be called ‘scientific’.” Bertrand Russell who was born in 1872, he himself was a British philosopher as well as mathematician, logician, historian, writer, and social critic. In this book, which was firstly published in 1945, Russell divided the philosophy chronologically into three parts: Ancient Philosophy, Catholic Philosophy and Modern Philosophy. This book is a widely read and influential philosophical history ...

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...