Skip to main content

Graceful Grace

Grace Natalie ini bukan perempuan biasa. Pertama, di usia yang semuda itu, ia - lahir 1982 - mampu mendirikan partai politik (PSI). Kedua, ia adalah seorang keturunan Tionghoa dan Kristen. Orang bilang ia punya status dobel minoritas. Banyak orang berbisik, status Grace ini bakal jadi batu sandungan baginya di dunia politik. Ini Indonesia, bro & sis!

Tapi justru itu point-nya. Ia berani membuktikan bahwa minoritas itu hanya soal mindset, tidak perlu merasa inferior. Bukankah minoritas yang berkontribusi lebih berguna daripada mereka yang tidak berbuat apa-apa?

PSI mengukir 'partainya anak muda' sebagai identitas. Ini terobosan cerdas. Selama ini anak-anak muda cenderung apatis bahkan anti berpolitik. Dalam pikiran mereka politik terlalu kotor, dan sudah banyak makan korban. Tetapi Grace berhasil mengubah stigma. PSI membawa wajah baru politik. Maka disana berkumpullah anak-anak muda cerdas, beragam dan penuh idealisme.

Mendengar Grace berpidato, wawancara, talk show, kita melihat anak muda dengan pikiran yang jernih dan otak yang cerdas. Politisi-politisi lain berani bicara dan berdebat tetapi kepalanya kosong.

Mungkin bagi partai-partai "tua" yang sudah mapan, PSI hanya dipandang sebelah mata, dianggap penggembira belaka. Terserah. Tapi kenyataannya hanya PSI yang berani teriak lantang untuk melawan intoleransi. Hanya PSI yang berani menolak poligami. Hanya PSI yang melakukan seleksi caleg dengan transparan, agar partainya diisi oleh caleg berkualitas dan berintegritas. Orang-orang seperti ini layak kita dukung, sebab mereka memberikan harapan. Kita ingin mereka mengisi kursi-kursi di Senayan.

"PSI punya 2 fokus perjuangan, yaitu melawan intoleransi dan korupsi," kata Grace. Jujur saya miris dengan keberanian Grace, sebab panggung politik di Indonesia begitu keras. Di luar sana banyak serigala buas. Tetapi ia telah memilih jalan, sebuah jalan yang sempit, yang tidak banyak orang berani menempuhnya.

"Never be afraid to stand with the minority when the minority is right, for the minority which is right will one day be the majority" - William Jennings Bryan
. 
***
Serpong, 3 Apr 2019
Titus J.

Comments

Popular posts from this blog

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...

Forgive Me for Not to Obey Your Fatwa

It’s still fresh in my mind, where Megawati’s PDI (Indonesia Democracy Party) harshly knocked-out by Suharto’s power in 1996. I was still 3 months since I set my feet on Jakarta from my hometown. Everybody knew Megawati was a serious menace of Suharto’s Golkar at that time, and 1996 was only a year ahead of the election. Like previous elections, Golkar always wanted vote majority in order to keep Suharto in reign. Time could not be stopped and Megawati popularity has made the Suharto’s circle depressed. They seemed so fearful the Soekarno’s spirit was coming back. With a very dirt scenario, Suharto’s regime created drama by conspiring with several PDI executives to organize a congress in Medan. The congress, as predicted clearly by everyone, finally appointed Soerjadi as PDI chairman, Fatimah Ahmad as deputy chairman and Butu Hutapea as the secretary general (Soerjadi is Megawati’s predecessor). It means, Megawati who had been selected by National Meeting in Surabaya in 1993, was kick...

The Lawmakers Are Too Proud to be God

My brain suddenly becomes so blunt to understand how some members of Commission VII of the House of Representatives (DPR) use their "looked smart" brain to think smartly. In the hearing between the lawmakers and Pertamina management on February 10, 2009, one of the lawmakers, Effendi Simbolon, humiliated Karen Agustiawan, the CEO of Pertamina by saying she was un-competent to lead the big organization as Pertamina – the prestigious State Owned Company in oil & gas and geothermal energy sector. They even harshly bullied her by putting label on her as Satpam (private security guard) if Karen could not stay away from serving the interest of President Susilo Bambang Yudhoyono and VP Jusuf Kalla. It’s clear to people that some of the “supposed to be respected” lawmakers do not deserve to receive any respects. That is why they cannot respect others, too. They have been acting as judge, even God, when they summon government officials or businessmen to their nest. They grill eve...