Skip to main content

Annelies


(Catatan Film Bumi Manusia - part4/terakhir)

Tiba-tiba pemuda pribumi itu menciumnya. Lancang benar.

Annelies, gadis yang baru merekah itu, tergeragap dengan wajah memerah. Harusnya ia ingin menampar pemuda kurang ajar itu, atau setidaknya berteriak agar pegawai-pegawainya yang sedang bekerja di hamparan ladang disana berlompatan keluar. Tapi entah apa yang menahannya untuk marah saat itu.

Ia cuma menatap sekilas kepada Minke, pemuda yang menjadi tamunya hari itu. "Kauuu..?" tegurnya dengan bibir gemetar. Lalu ia menunduk dan bergegas berjalan menuju arah pulang. Sepanjang jalan ia tak bicara. "Kau marah, Ann?" tanya Minke gugup. Annelies menjawab dengan mempercepat langkah dan mempererat katup bibirnya.

Tetapi, jejak ciuman itu terus membuntutinya.

Apakah kecerdasan Minke sebagai seorang siswa HBS, apakah ketampanannya yang natural, apakah ciuman lancang itu, entahlah, Annelies merasakan keanehan rasa yang tiba-tiba. Ada sesuatu menyelinap ke dalam ruang kosong di hatinya yang selama ini tertutup rapat, yang masuk lewat celah tipis yang hanya bisa dilewati angin yang berhembus lebih lembut daripada sutera. Hatinya menggigil ketika memasuki rumahnya yang lengang, Buitenzorg Wonokromo itu.

Sudah beberapa tahun ia tak punya teman, pun tak ada seorang tamu pun yang menyambangi rumahnya.

Tahun demi tahun yang lewat tidak memberinya kenangan apapun. Jangankan sebuah kenangan, segores tinta untuk satu cerita pun ia tak punya, kecuali peristiwa di satu hari ketika mamanya menjemputnya ke sekolah sebelum bel berdentang. Wajah mamanya merah padam, langkah kakinya panjang-panjang, dan dengan tangannya yang bergetar mamanya menariknya berjalan keluar dari kelas hingga kaki-kaki kecilnya setengah berlari menyaruk kerikil halaman sekolah.

Di depan sekolah Darsam sudah menunggu dengan bendinya. Mamanya menaikkannya ke atas bendi, kemudian dengan sekali keprak Darsam membuat kudanya berlari.

Bertahun Annelies tak punya cerita, hingga kehadiran Minke memberinya cerita tersendiri, yang mengubah sejarah hidupnya.

Tunggu 15 Agustus 2019 di bioskop.

***
Serpong, 12 Ags 2019
Titus J.

Comments

Popular posts from this blog

Bertrand Russell Critical Analysis on Western Philosophy

“Philosophy is something intermediate between theology and science,” said Bertrand Russell. Theology and science occupy their own territory. All definite knowledge belongs to science, all dogma as to what surpasses definite knowledge belongs to theology. Between theology and science there is No Man’s Land, exposed to attack from both sides. For that the philosophy is present. The No Man’s Land is philosophy. Then he added, “Philosophical conceptions are a product of two factors: one, inherited religious and ethical conceptions; the other, the sort of investigation which may be called ‘scientific’.” Bertrand Russell who was born in 1872, he himself was a British philosopher as well as mathematician, logician, historian, writer, and social critic. In this book, which was firstly published in 1945, Russell divided the philosophy chronologically into three parts: Ancient Philosophy, Catholic Philosophy and Modern Philosophy. This book is a widely read and influential philosophical history ...

Eisenhower, The Top Figure Army General, The Modest President

This is a portrait of Dwight D. Eisenhower, a young dreamer, charting a course from Abilene, Kansas, to West Point and beyond. Before becoming the 34th president (two terms from 1953 to 1961), Ike –as he was called–  was a five-star general in the U.S. Army during World War II and served as Supreme Commander of the Allied Expeditionary Force in Europe. This book reveals the journey of the man who worked with incredible subtlety to move events in the direction he wished them to go. In both war and peace, he gave the world confidence in American leadership. In the war period, Ike commanded the largest multinational force ever assembled to fight German troops in leading the Western powers to victory.  During his presidency, he ended a three-year war in Korea with honor and dignity. Not a single American died in combat for the next eight years. He resisted calls for preventive war against the Soviet Union and China, faced down Khruschev over Berlin, and restored stability in Leban...

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...