Skip to main content

Nyai Ontosoroh

(Catatan Film Bumi Manusia - part2)

Ayahnya memberi nama Sanikem.

Karena tergoda nafsu ingin naik pangkat, ayahnya, seorang jurutulis, menjualnya kepada Herman Mellema, seorang Tuan Belanda ketika ia menginjak usia remaja, masa ketika ia masih suka main lompat tali, dakon, bekel dan kejar-kejaran dengan teman-temannya di sawah.

"Nduk, mulai hari ini kowe ndak tinggal di rumah ini lagi. Kowe ikut Tuan Besar Kuasa ke rumahnya," kata ayahnya. Sanikem hanya tertunduk. Mulutnya terkunci rapat tapi hatinya berteriak keras. Percuma. Tak ada yang mendengar, tak juga ibunya yang cuma bisa menangis tapi tak membelanya. Ia sebenarnya berharap ibunya mengaum seperti induk beruang yang kalap saat ada makhluk asing yang coba-coba mendekati anaknya apalagi mau merampasnya.

Tapi itu tak terjadi. Ia hanya merasakan kakinya gemetar di hadapan raksasa berkulit putih dan berhidung mbangir yang kemudian membawanya.

"Rawat Nyaiku ini baik-baik," perintah Tuan Mellema kepada pembantunya sesampainya di rumah.

Boerderij Buitenzorg, di Wonokromo, Surabaya itu menyulap Sanikem yang ijo royo-royo itu menjadi Nyai Ontosoroh yang merah delima. Tuan Mellema memperlakukannya dengan baik bak boneka kesayangan. Tak hanya itu, semua ilmu yang ia miliki diturunkannya. Otak Nyainya ternyata cerdas. Ia melahap teori ekonomi yang umumnya menjadi makanan para sinyo dan noni Belanda di bangku sekolah. Tak lama ia menguasai manajemen perusahaan hingga perusahaan mereka jadi makin besar dalam genggamannya.

Di waktu malam, Sang Nyai menenggelamkan dirinya di kamar bersama buku-buku berbahasa Belanda. Pengetahuannya yang luas membuatnya tegak. Ia berbicara dengan orang-orang Belanda tanpa menunduk. Bahasa Belandanya fasih.

Dari benih Tuannya itu, ia melahirkan dua anak. Tapi.. ah, statusnya hanyalah seorang Nyai. Ia sadar bahwa ia hanyalah "apa" dan bukan "siapa".

Lalu angin puting beliung itu menerjang, merontokkan pilar-pilar hatinya, merajam kemanusiaannya.

Tetapi ia masih punya harga diri dan bara api. Dengan bara itu ia akan melawan, sehormat-hormatnya.

Tunggu 15 Agustus 2019 di bioskop.

***
Serpong, 1 Ags 2019

Titus J.

Comments

Popular posts from this blog

Bertrand Russell Critical Analysis on Western Philosophy

“Philosophy is something intermediate between theology and science,” said Bertrand Russell. Theology and science occupy their own territory. All definite knowledge belongs to science, all dogma as to what surpasses definite knowledge belongs to theology. Between theology and science there is No Man’s Land, exposed to attack from both sides. For that the philosophy is present. The No Man’s Land is philosophy. Then he added, “Philosophical conceptions are a product of two factors: one, inherited religious and ethical conceptions; the other, the sort of investigation which may be called ‘scientific’.” Bertrand Russell who was born in 1872, he himself was a British philosopher as well as mathematician, logician, historian, writer, and social critic. In this book, which was firstly published in 1945, Russell divided the philosophy chronologically into three parts: Ancient Philosophy, Catholic Philosophy and Modern Philosophy. This book is a widely read and influential philosophical history ...

Eisenhower, The Top Figure Army General, The Modest President

This is a portrait of Dwight D. Eisenhower, a young dreamer, charting a course from Abilene, Kansas, to West Point and beyond. Before becoming the 34th president (two terms from 1953 to 1961), Ike –as he was called–  was a five-star general in the U.S. Army during World War II and served as Supreme Commander of the Allied Expeditionary Force in Europe. This book reveals the journey of the man who worked with incredible subtlety to move events in the direction he wished them to go. In both war and peace, he gave the world confidence in American leadership. In the war period, Ike commanded the largest multinational force ever assembled to fight German troops in leading the Western powers to victory.  During his presidency, he ended a three-year war in Korea with honor and dignity. Not a single American died in combat for the next eight years. He resisted calls for preventive war against the Soviet Union and China, faced down Khruschev over Berlin, and restored stability in Leban...

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...