Skip to main content

Posts

The Stories Our Children Tell Us

(published by The Jakarta Post on 29 Apr 2014. Click here ) The shocking, saddening sexual abuse of a 6-year-old kindergarten pupil by cleaning staff recently, has alerted us to the threats our children face every day. Our innocent children are vulnerable, even when they are at school. We consider school the safest place for kids — but in this case it has failed to guarantee our children’s security, even it is a prestigious international school. Not only have children become the targets of predators moving freely at school, but also they suffer traumatic impacts for the rest of their lives. Only the grace of God can heal a wounded soul. We would like to convey a deep sympathy and pray for the innocent victim concerned. I imagine schools as places where children are happy while they are learning and playing. Schools should be places where our children feel at home. They go to school to know the world better and in the knowledge they are expected to make the world better someday. ...

Jokowi or Prabowo?

( published by The Jakarta Post on 2 Apr 2014. Click here ) As the legislative election approaches, people are beginning to talk about those who will be contesting the presidential election — a warmer topic than the number of seats parties might secure in the House of Representatives. Even without knowing the results of the April 9 election, it is quite obvious that it will be a straight forward duel between current Jakarta Governor Joko “Jokowi” Widodo and chief patron of the Gerindra Party Prabowo Subianto.  The two figures are polar opposites with regards to their background, careers, experiences and even appearance. Jokowi is modest, low profile, “down to earth” and skinny. Prabowo is glamorous, high profile, strong, decisive and muscular. Let the people decide. But before that, their parties must work very hard to win at least 25 percent of the popular vote, or 20 percent of the seats in the House in order to put forward a presidential candidate on their own. Otherwise,...

Peace on Earth

Natal datang lagi. Apa kesan kita tentang Natal? Dunia merayakan Natal setahun sekali dengan menyematkan kalimat "Peace on Earth" atau “Damai di bumi” – sebuah announcement yang sudah terlalu biasa kita baca di setiap bulan Desember.   Apakah damai menyirami bumi hanya setahun sekali? Jika benar demikian, betapa merana dan menderitanya dunia karena gersang dan kerontang. Pada setiap Natal, kita mendengar lagu ‘ Silent Night’ mendayu begitu syahdu lewat penyanyi sopran atau instrumentalia . Lagu ini selalu mengingatkan kita betapa nestapanya malam yang sunyi itu ketika Yesus dilahirkan. Tetapi ajaib, kenestapaan itu justru membawa kabar baik, kabar damai kepada para gembala yang hidupnya juga nestapa, dan tidak kepada Herodes yang duduk jumawa di istananya . Malam kudus sunyi senyap, di kandang Efrata terang besar turunlah, kata lagu itu. Di situlah damai itu memilih tempatnya untuk dilahirkan. Damai lebih suka datang dalam kesunyian dan menyapa yang nestapa...

Lagu Terakhir di Atlantik

Entah apa yang ada di benak Wallace Henry Hartley ketika ia memainkan lagu “ Nearer, My God, to Thee ” dengan gesekan biolanya yang menyayat hati di tengah malam yang dingin tanggal 15 April 1912. Peristiwia itu sudah terjadi lebih dari 100 tahun yang lalu, namun namanya tak pernah tidak disebut setiap kali orang membicarakan tenggelamnya kapal Titanic . Ia adalah pemimpin band yang sehari-hari bertugas menghibur para penumpang first class di kapal mewah itu. Selain itu, tugasnya adalah memainkan musik di waktu dinner , setelah dinner dan di kebaktian hari Minggu selama Titanic berlayar mengarungi samudera dari Southampton, Inggris ke New York, Amerika. Hartley, yang waktu itu berumur 33 tahun, adalah seorang Kristen Methodist yang taat. Di masa kecilnya ia adalah anggota paduan suara anak-anak di gerejanya. Ia dikirim oleh ayahnya untuk belajar musik di George Street School, Colne, Inggris dan memperdalam biola. Karirnya sebagai pemain biola membawanya dari satu kapal pe...

Susan is not only Jokowi's issues

( published by The Jakarta Post on 2 Oct 2013. Click here ) It was not wrong for Jakartans to elect Joko “Jokowi” Widodo and Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama as their leaders. The two’s bravery in respecting pluralism in Jakarta is like an oasis in the middle of a drought. Their firm stance on retaining Susan Jasmine Zulkifli as the Lenteng Agung subdistrict head must be supported despite several protests from certain groups of people demanding Susan’s removal just because she is a Christian. The stance of Jokowi and Ahok not to bow to protesters is very important, because this will give a valuable example of how leaders must defend the Constitution at any cost to our beloved country. “I would neither transfer nor demote any officials because of their religion. I judge them based on their ability whether they can complete the tasks I set them or not,” said Jokowi. The protesters are obviously fanatics, rejecting a leader with a different religion without looking at the leader’s...

Jakarta Needs "Insane" Leaders

published by The Jakarta Post on 16 Aug 2013. Click here ) Jakarta Deputy Governor Basuki “Ahok” Tjahaya Purnama may believe in the principle held by Mark Twain: “If you tell the truth, you don’t have to remember anything.” Many leaders in this country fail to tell the truth, which is why they can’t be direct like Ahok, who says everything blatantly. If usually leaders try to behave as sweet as possible to maintain a good image, Ahok shows his original character. He realizes that being a “bad cop” is not easy, and he is fully aware of the risks. As he has no hidden agenda, why shouldn’t he speak freely? His activities are recorded and uploaded to Youtube for transparency. Recently, he was told to have a psychological checkup because of his frequent sharp remarks. Rather than countering this cynical comment, he stated that he was insane. His outspoken style shocks people and sometimes makes them anxious. A couple of times I have heard him say, “I am not fearful of anything,...

Kim Dae-jung dan Warisan Divine Character-nya

Memberi pengampunan itu seharusnya tidak rugi apa-apa, karena kita tidak ‘ kulakan’ pengampunan sehingga harus menghitung-hitung modal berapa, jual berapa dan untung berapa. Filosofi sederhana ini mewarnai prinsip hidup Kim Dae-jung (alm), Presiden Korea Selatan ke-8. Perjalanan hidupnya sebelum ia terpilih menjadi Presiden sangat berliku, tetapi dunia mengaguminya bukan karena ketahanannya dalam penderitaan, melainkan karena karakter mulia yang dimilikinya. Sekitar dua puluh tahun sebelum ia menjadi Presiden, pada tahun 1980, Kim Dae-jung dijatuhi hukuman mati karena aktifitas politiknya menentang tirani Presiden (waktu itu) Chun Doo-hwan. Intervensi dari Amerika Serikat membuat hukumannya dikurangi menjadi 20 tahun penjara dan ia harus menjalani pembuangan ke AS. Ketika ia pulang ke Korsel, ia masih harus menjalani tahanan rumah tetapi kemudian ia diperbolehkan mencalonkan diri dalam pemilu Presiden. Tahun 1998 ia terpilih menjadi Presiden Korsel ke-8. Di kursi presiden,...

Dua Janda Yang Membikin Malu Kita

Ah, janda itu. Ia telah membikin malu kita. Ia berjalan pelahan sambil tertunduk, karena ia sadar dan rumangsa (tahu diri) bahwa orang-orang yang memberi persembahan sebelum dia adalah orang-orang berduit, yang waktu menuju peti persembahan berjalan dengan langkah tegap dan kepala mendongak. Janda itu berjalan gemetar karena ia tahu bukan hanya orang-orang kaya yang sedang berada di bait Allah itu, tetapi Seorang Pengajar top, yaitu Yesus, baru saja menyelesaikan khotbah-Nya. Janda itu menggenggam rapat-rapat uang recehnya agar tak ada yang tahu berapa keping dalam genggamannya yang akan dimasukkan ke peti persembahan (Tak ada orang yang bangga karena memberi receh, bukan?). Ia begitu miskin. Semiskin apakah ia? Hari itu ia cuma punya dua peser. Itu bukan uang sisa-sisa, tetapi memang ia hanya punya dua peser itu. Peser adalah mata uang terkecil Yahudi. Untuk membantu kita membayangkan berapa banyak yang janda itu punyai, baiklah kita konversi nilai peser itu ke Rupiah. ...

ME-RECALL CERITA “THE GOOD SAMARITAN”

Saya sungguh kagum kepada “The Good Samaritan” yang diceritakan Tuhan Yesus ketika mengajar topik mengasihi sesama manusia.   Pasti bukan kebetulan ketika suatu hari saya melihat 2 pengendara sepeda motor (berboncengan) sedang terguling di atas aspal tepat di depan mobil saya yang sedang melaju. Rupanya sepeda motor mereka slip karena jalanan licin penuh lumpur basah sehabis hujan. Untung saya sigap menginjak pedal rem, sebab kalau tidak, pasti mereka tergilas. Harusnya saya lewati saja karena saat itu saya harus pergi dengan anak dan istri saya ke suatu tempat di Cibubur. Tetapi cerita tentang “The Good Samaritan” itu tiba-tiba mampir di kepala saya seolah ingin mengingatkan saya. “Masakan saya menjadi orang Lewi dan Imam yang lewat dari seberang jalan padahal melihat jelas ada orang sekarat habis dirampok?” kata saya dalam hati. Maka saya pinggirkan mobil, turun dan menghampiri 2 orang yang masih tertimpa sepeda motor itu. Saat itu saya langsung tawarkan bantuan, dan atas...

Menorehkan 'Finishing Well' Pada Sejarah

  Sudah beberapa minggu ini pikiran saya terganggu oleh dua kata. Entah apa hebatnya dua kata itu, dan entah mengapa seolah dua kata itu begitu powerful sampai membuat saya terus-menerus memikirkannya. Yang jelas dua kata itu menggelisahkan saya. Dua kata itu tidak lain adalah: Finishing well . Kata-kata “Finishing well” ini sudah sering saya dengar, tetapi hanya sebentar saja singgah di otak saya, dan setelah beberapa waktu kemudian ia pergi lagi. Lama tidak pernah memikirkannya, tahu-tahu dua kata ini mampir lagi di pikiran saya. Semua ini gara-gara berita menghebohkan di Amerika Serikat baru-baru ini, yang dengan cepat lantas menyebar ke seluruh penjuru dunia termasuk ke Indonesia. Suatu pagi tanggal 11 November, saya membaca surat kabar langganan saya, The Jakarta Post, dan terkejut menemukan berita di halaman depan berjudul “ Admitting to affair, Petraeus resigns as CIA chief ”. Yang ditulis di berita itu tidak lain adalah David Petraeus, seorang Jenderal Angkatan Dara...