Skip to main content

Peace on Earth

Natal datang lagi. Apa kesan kita tentang Natal? Dunia merayakan Natal setahun sekali dengan menyematkan kalimat "Peace on Earth" atau “Damai di bumi” – sebuah announcement yang sudah terlalu biasa kita baca di setiap bulan Desember.  Apakah damai menyirami bumi hanya setahun sekali? Jika benar demikian, betapa merana dan menderitanya dunia karena gersang dan kerontang.

Pada setiap Natal, kita mendengar lagu ‘Silent Night’ mendayu begitu syahdu lewat penyanyi sopran atau instrumentalia. Lagu ini selalu mengingatkan kita betapa nestapanya malam yang sunyi itu ketika Yesus dilahirkan. Tetapi ajaib, kenestapaan itu justru membawa kabar baik, kabar damai kepada para gembala yang hidupnya juga nestapa, dan tidak kepada Herodes yang duduk jumawa di istananya.

Malam kudus sunyi senyap, di kandang Efrata terang besar turunlah, kata lagu itu. Di situlah damai itu memilih tempatnya untuk dilahirkan. Damai lebih suka datang dalam kesunyian dan menyapa yang nestapa. Bukan kenestapaan lahiriah, tetapi kenestapaan batiniah dimana ada hati yang membutuhkan. Mestinya kita merayakan Natal dengan hati yang nestapa karena sadar bahwa kita membutuhkan Sang Damai itu untuk mengisi setiap ruang kosong di hati kita.

“Berbahagialah mereka yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah,” kata Sang Damai itu. Apakah kita benar-benar menghidupi damai itu dan menyiramkannya kepada bumi yang gersang dan kerontang? Sayang sekali, Natal sering kita agungkan hanya melalui perayaan yang gegap-gempita, sedangkan damai yang menjadi esensi Natal kita singkirkan di pojok yang gelap.

Kita yang setiap tahun memasang tulisan “Damai di bumi” di dinding gereja harusnya menjadi ‘peace ambassador’ - dimulai dari diri kita, lalu keluarga kita dan mengalir terus menyentuh orang-orang terdekat. Ini bukan moment setahun sekali tetapi harus kita hidupi setiap saat. Jika setiap ruang di keluarga kita memancarkan damai ke luar rumah, maka dunia ini niscaya akan teduh, bukan? “What can you do to promote world peace? Go home and love your family,” kata Mother Teresa.  
***
Serpong, Des 2013
Titus J.

Comments

Popular posts from this blog

Eisenhower, The Top Figure Army General, The Modest President

This is a portrait of Dwight D. Eisenhower, a young dreamer, charting a course from Abilene, Kansas, to West Point and beyond. Before becoming the 34th president (two terms from 1953 to 1961), Ike –as he was called–  was a five-star general in the U.S. Army during World War II and served as Supreme Commander of the Allied Expeditionary Force in Europe. This book reveals the journey of the man who worked with incredible subtlety to move events in the direction he wished them to go. In both war and peace, he gave the world confidence in American leadership. In the war period, Ike commanded the largest multinational force ever assembled to fight German troops in leading the Western powers to victory.  During his presidency, he ended a three-year war in Korea with honor and dignity. Not a single American died in combat for the next eight years. He resisted calls for preventive war against the Soviet Union and China, faced down Khruschev over Berlin, and restored stability in Leban...

Bertrand Russell Critical Analysis on Western Philosophy

“Philosophy is something intermediate between theology and science,” said Bertrand Russell. Theology and science occupy their own territory. All definite knowledge belongs to science, all dogma as to what surpasses definite knowledge belongs to theology. Between theology and science there is No Man’s Land, exposed to attack from both sides. For that the philosophy is present. The No Man’s Land is philosophy. Then he added, “Philosophical conceptions are a product of two factors: one, inherited religious and ethical conceptions; the other, the sort of investigation which may be called ‘scientific’.” Bertrand Russell who was born in 1872, he himself was a British philosopher as well as mathematician, logician, historian, writer, and social critic. In this book, which was firstly published in 1945, Russell divided the philosophy chronologically into three parts: Ancient Philosophy, Catholic Philosophy and Modern Philosophy. This book is a widely read and influential philosophical history ...

Jesus Way Tak Segampang Busway

Jesus Way yang diartikan “cara Yesus” atau “jalan Yesus” tampaknya berupa jalan sempit dan sedikit orang menyukainya/memilihnya. Ini pernah dikatakan oleh Yesus sendiri: “ Karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya .” (Matius 7:14). Semua orang, atau sebagian besar orang, memilih jalan lebar tanpa hambatan agar sebisa mungkin lebih cepat sampai tujuan. Jalan sempit hanya memperlama waktu, tidak efektif, dan tidak sesuai tuntutan zaman yang serba cepat dan instan. Sebenarnya jalan sempit tidak apa-apa asalkan lancar. Ternyata tidak. Jesus way bukan seperti jalur khusus bus atau busway di Jakarta. Busway – walaupun sempit, hanya pas untuk satu bus – memberikan privilege karena dikhususkan untuk bus tanpa ada hambatan apapun. Ikut melaju di busway enak sekali, diprioritaskan, tidak ikut ngantri bermacet-macetan di jalan. Jesus way tidak seperti busway . Dulu ada kisah seorang anak muda yang kaya raya, yang sedang mencar...