Skip to main content

Posts

Bisakah Aku Mencintai-Mu, Tuhan?

“Oh God, I don’t love you, I don’t even want to love you, but I want to want to love you.” --Teresa of Avila   Tidak mudah untuk menolak cinta, ternyata. Apalagi yang menyatakan cinta adalah Tuhan. Banyak orang menghindari cinta Tuhan, menolak untuk mencintai Tuhan, dan tidak ingin mencintai Tuhan, bukan karena mereka orang jahat, tetapi karena cinta Tuhan adalah cinta yang paling sulit untuk dipahami. Melibatkan diri dalam cinta Tuhan, barangkali bagi mereka, hanya membuang-buang waktu saja, karena toh tidak akan bisa memahaminya. Bagaimana kita memahami cinta kepada seorang penjahat, penjahat yang selama hidupnya hanya berbuat jahat, tetapi pada satu menit terakhir sebelum ajal, kepadanya justru disediakan Firdaus tanpa perbuatan baik apapun yang pernah dilakukannya? Bagaimana kita memahami cinta kepada seorang yang brutal dan ganas, yang menjadi penganiaya orang-orang yang berdoa kepada Tuhan, tetapi pada suatu ketika ia malah dipilih menjadi utusan-Nya, menjadi r...

Bukan Sekadar Soal Perempuan

Tiada seorang pun manusia di dunia ini yang kedekatannya dengan Tuhan melebihi Musa. Jaraknya melebihi dekat. Sejarak nafas dengan hembusannya. Sejarak nadi dengan denyutannya. Ia begitu intim dengan Tuhannya. Tuhan sendiri yang menyatakan bahwa keintiman-Nya dengan Musa melebihi nabi-nabi manapun. “Aku bicara dengan nabi melalui penglihatan, melalui mimpi, tetapi dengan Musa aku bicara berhadap-hadapan. Hanya dia yang boleh memandang rupa-Ku,” kata Tuhan. Itu adalah deklarasi oleh Tuhan saat terjadi sebuah insiden di padang gurun, ketika Musa memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Kakak-kakak Musa, yaitu Miryam dan Harun, nge-gerundel tentang Musa yang memperistri perempuan Kush. Sebagian penafsir Alkitab mengatakan, perempuan Kush yang dimaksud ini adalah Zipora, anak seorang imam di Midian, bukan perempuan lain (Secara paras, orang Midian yang tinggal di padang pasir mirip dengan orang Kush). Tetapi penafsir yang lain mengatakan bahwa perempuan Kush ini bukan Z...

Emak Sudah Pulang Kampung

Emak adalah orang kampung, dan kemarin subuh sekitar jam 4 pagi ia sudah pulang ke “kampung”nya yang kekal. Sudah beberapa kali dalam beberapa bulan terakhir ini ia mengatakan ingin pulang ke rumah Bapa di Surga, yang ia bayangkan sebagai kampung halamannya, yang terhampar sawah dan padi, air sungai yang gemericik, dan angin gunung yang semilir. Emak memang orang yang polos, tidak pernah sekolah, tidak bisa baca-tulis. Kalau bicara pakai Bahasa Jawa, sedikit bisa Bahasa Indonesia tapi belepotan. Tetapi heran, Tuhan sayang sekali dengan Emak. Saya merasa sayangnya Tuhan kepada Emak melebihi sayangnya Tuhan kepada saya. Saya pernah menulis cerita tentang Emak ini di blog ini dengan judul “ Emak Menelepon Tuhan ”. Emak ini bukan keluarga saya. Ia orang lain, bukan sanak, bukan famili, bukan siapa-siapa. Ia ikut mama mertua saya sejak mudanya, bahkan sebelum istri saya lahir. Masa kecil istri saya di kampungnya di Srono, Banyuwangi itu ya kebanyakan dengan Emak. Jadi istri saya ada...

The Success and Mistake of Bloomberg

Michael Rubens Bloomberg –born in Boston on February 14,1942 to a Jewish family-- is an entrepreneur who elected mayor of New York City just after the 9/11 terrorist attack. He was facing myriad of challenges unlike any mayors in US history, and he proved to be successful in governing the city and restoring it from the severe destruction. During his eight years of twelve years tenure, he kept the city safe with the record low crime (then touted as the safest big city in America), managed budgets through fiscal crises, generated jobs, built infrastructure, improved public health, etc. However, his remarkable success was tainted by his ambition to run the third term of mayoralty despite it’s out of rule. He forced a change in the city charter –which limit the mayoralty term to max two consecutive terms-- to allow him to serve a third term. Despite elected for the third term, his performance declined. A pool conducted to get performance rating from the New York City voters resulte...

Penjara Anugerah

Pada suatu hari, dari dalam penjara, Rasul Paulus mengorek isi hatinya hingga tumpah. ”Aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.” Isi hatinya yang tertumpah itu dibiarkannya mengalir. Alirannya membentuk anak sungai yang berkelok-kelok melewati kota-kota di Asia Kecil. Belum puas ia mengorek isi hatinya yang sudah tumpah itu, ia mengorek hatinya lebih dalam lagi. “Tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. Aku adalah yang paling hina dari semua orang kudus...” Dan isi hatinya yang dua kali tertumpah itu membanjiri kota-kota di seluruh dunia. Itulah kebesaran sosok Rasul Paulus. Kebesaran dalam kerendahan-hatinya. Ia besar dalam kecilnya diri, value -nya tinggi dalam rendahnya hati. Sebuah kerendahan-hati yang tulusnya tiada tara. Itu adalah kerendahan-hati ilahi. Godly character. Nilai-nilai luhur kerendahan-hati Paulus itu sengaja dilestarikan oleh Tuhan dengan cara ...

Barabas Pulang

Renungan Jumat Agung Hari Jumat itu, di sebuah warung remang-remang, Barabas minum anggur hingga mabuk. Ia merayakan pembebasannya bersama dengan kawan-kawannya yang sebenarnya sudah melupakannya. Sebenarnya mereka telah mencoret nama Barabas dari anggota gerombolan para pemberontak itu begitu mereka tahu Barabas telah dijatuhi hukuman mati. Mereka menantikan kabar kapan eksekusi mati di tiang salib akan dilakukan, lalu mereka akan memberikan penghormatan terakhir ala kadarnya. Tetapi tiba-tiba di Jumat pagi itu terjadi hiruk-pikuk di depan gedung pengadilan di Yerusalem. Berita begitu cepat menyebar ke segala penjuru kota bahkan hingga ke bilik-bilik tertutup tempat gerombolan kawan-kawan Barabas itu bersembunyi. “Ada lotre!” kata seseorang. “Tuan Gubernur akan melotre satu orang kriminal untuk dibebaskan!” kata yang lain. Benar. Pada hari raya Paskah orang Yahudi, sesuai tradisi, penguasa Romawi akan membebaskan satu orang terpidana mati. Ada banyak terpidana mati yang meri...

13 Hours Between Alive And Dead

On the night of September 11,  2012 , Benghazi – the second most populous and the dusty Mediterranean port city in Libya – was quite peaceful until a sudden attack occurred towards the United States Department Special Mission Compound a.k.a. American diplomatic outpost by group of armed men. Christopher Stevens, the US ambassador to Libya, who just arrived at the compound from his office in Tripoli, including the DSS (Diplomatic Security Service) team members, were not ready as the attack was run very fast. The attackers were unstoppable even by the 17 February Martyrs Brigade, a Libya armed militia which tasked to guard the gate and protect the compound. Some people were slain by the armed attackers who then set the building on fire where several persons including the ambassador were trapped inside the ‘safe haven’ room. About 1.5 mile from the burning US compound, there was a CIA secret venue called as “The Annex” where a team of Global Response Staffs (GRS) was stationed. The...

Maria And The Beauty of Tennis

If there is something or some event that made Maria Sharapova a tennis player, it would be Chernobyl, a nuclear reactor that exploded and became a disaster in 1986, a year before she born in Nyagan, Russia - that might be the thing that changed her life. She wrote the words in this book. But if there is someone who play an extraordinary role in Maria Sharapova’ successful career, I would say it’s her father. Yuri Sharapov, her father, decided to leave his job in Russia to bring Maria to Florida, United States when Maria was six years old, with the only purpose to find the best tennis academy and coach for Maria. He risked everything to get Maria landed in Florida - the sacred land of tennis academies – with courage and determination that Maria could be a star. Yuri and Maria arrived in America with only seven hundred dollars in pocket and knowing only a few words of English. This was crazy. But as the wise people say, strong determination will open the way. His braveness to achieve t...

Amanat Kematian

“Serahkan surat ini kepada panglima Yoab!” titah Raja Daud kepada Uria. Maka dengan dada bergemuruh –dada seorang patriot sejati– Uria mengambil sikap sempurna, tegap. Matanya lurus menatap rajanya, sang panglima tertinggi, lalu badannya berbalik, kakinya dihentakkan ke tanah, kemudian berjalan cepat menuju kudanya yang tali kekangnya tertambat pada sebuah pohon di halaman istana raja. Hatinya mantap. Ia menepuk kepala kudanya satu-dua kali, dan setelah duduk di atas pelananya, ia menyelipkan surat dari raja di balik baju zirahnya. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeprak kudanya tanpa menoleh ke belakang menuju medan pertempuran. Dalam perjalanannya, Uria terus memikirkan tentang pertempuran pasukannya melawan bani Amon yang sudah berlarut-larut sekian lama. “Strategi apa lagi yang akan dilakukan pasukannya untuk segera menyudahi pertempuran?” pikir Uria. “Mengapa raja sampai harus memanggilku pulang dan memintaku membawa surat ini kepada panglima Yoab? Hmm.. surat ini p...

The Six Watchmen

This is a documentary about  the  six former heads of Shin Bet, Israel's internal security service who were tasked to guard their country from terrorist threats. Israel's Shin Bet,  the  equivalent of  the  American FBI and Secret Service, is a very crucial unit that must be led by  the  best person. You will see  the  men in this book. The  author of this book, Dror Moreh who is an Israeli cinematographer and director, conducted an intensive and lengthy interviews to six Shin Bet leaders, i.e. Avraham Shalom, Ya'akov Peri, Carmi Gilon, Ami Ayalon, Avi Dichter, and Yuval Diskin who headed  the  service from 1980 to 2011 respectively. The   Gatekeepers ,  the  title that Moreh chose, told a story about  the  character,  the  determination,  the  thought and  the  decision  the  six men should make in their daily live most of which was made in  the ...

The Bridge And The Checkpoint

If you have watched the film Bridge of Spies --directed by Steven Spielberg with Tom Hanks and Mark Rylance as the main actors—you will find different angle and detail when you read the book. The film (released in 2015) was more telling about James Donovan (played by Tom Hanks) who appointed by American government as the lawyer of suspected Soviet spy Rudolf Abel who was arrested in the US at 21 June 1957, while in this book, the story of James Donovan was not too detail described, instead the book writer –Giles Whittell—told more about the story of William Fisher aka Rudolf Abel who had multiple disguise names such as Emil Goldfus, Martin Collins, Robert Callan, and many more. He was KGB colonel and the most senior undercover Soviet agent in North America from 1948 to 1957. The other figures who were written in this book, of course, were Francis Gary Powers, an American pilot who was captured when his spy plane shot down by Soviet Army, and Frederic Pryor, a young American student...