"A fool is very dangerous when in power." - Denis Ivanovich Fonvizin
‘A fool’ yang dimaksud oleh Fonvizin bukan orang bodoh, tetapi orang bebal, karena jika melihat konteksnya mengapa dramawan satir Rusia itu berkata seperti itu, ia, melalui karya-karyanya, konsisten mengkritik kaum bangsawan Rusia yang tidak bermoral, yang ketika sedang berkuasa begitu enjoy dan tidak merasa bersalah menindas rakyat yang lemah.
Orang bebal memang sangat berbahaya jika sedang berkuasa.
Berbeda dengan orang bodoh. Obat orang bodoh adalah belajar dan ilmu, tetapi orang bebal nggak ada obatnya. "Though you grind a fool in a mortar, grinding them like grain with a pestle, you will not remove their folly from them." (Sekalipun engkau menumbuk orang bebal dalam lesung, dengan alu bersama-sama gandum, kebebalannya tidak akan lenyap dari padanya.) –Amsal 27:22.
Tentang orang bodoh ini, dalam dunia politik jika merujuk kepada pemimpin, maksud “bodoh” disini lebih kepada pemimpin yang “tidak/belum berpengalaman”. Mempunyai pemimpin yang belum berpengalaman, kita hanya perlu bersabar. Yaaahh.. paling mentok kita kesel. Tetapi kalau ia mau belajar, mau mendengar, mau berubah dan didampingi oleh orang-orang hebat, negara tetap bisa berjalan baik.
Kita ingat kepada Ratu Elizabeth II (wafat 2022).
Sang Ratu naik takhta di usia 25 tahun setelah ayahnya –Raja George VI– wafat.
Walaupun masih muda, tetapi ia didampingi oleh orang-orang hebat yang sebelumnya menjadi pendamping ayahnya.
Di lingkaran dalam keluarga, Sang Ratu tidak bisa terlepas dari bimbingan suaminya, Pangeran Philip (Duke of Edinburgh), dan nasihat ibunya maupun neneknya (Queen Mary) yang berperan sangat besar dalam membentuk mindset Sang Ratu.
Sang Ratu juga memiliki penasihat istana dan kepala administrasi kerajaan, Sir Alan Frederick Tommy Lascelles, yang sangat kompeten dalam urusan birokrasi, konstitusi dan sebagai pihak yang bertanggungjawab dalam relasi antara istana dan kantor pemerintah (perdana menteri). Tommy Lascelles juga menjadi penulis pidato (speech writer) Sang Ratu.
Dalam arena politik, Winston Churchill adalah mentornya yang luar biasa. Churchill seperti menjadi “bapak” bagi Sang Ratu, yang selalu mengayomi di tengah situasi politik dalam negeri dan geopolitik masa itu.
Dalam perjalanan hidupnya yang penuh dengan intrik dan dinamika, Ratu Elizabeth mampu menjalankan peran pentingnya dengan baik.
Jika kita melihat Singapura, tentu ingatan kita langsung tertuju kepada Lee Kuan Yew. Tetapi Lee tidak bakal sukses membawa kemakmuran bagi negaranya jika tidak didampingi oleh Goh Keng Swee (Wakil PM dan Menteri Keuangan) yang menjadi arsitek ekonomi dan industrialisasi Singapura, dan S. Rajaratnam (Menteri Luar Negeri) yang menjadi pemimpin diplomasi global bagi Singapura.
Di lingkaran dalam keluarga, Lee mengandalkan seorang adviser yang piawai dan paling terpercaya, yaitu istrinya, Kwa Geok Choo (gimana nggak terpercaya lha wong dia istri sendiri). Geok Choo adalah seorang lawyer yang brilian lulusan Universitas Cambridge. Dengan kecerdasannya, ia merumuskan draft konstitusi dan hukum Singapura.
Deng Xiaoping, pemimpin modernisasi Tiongkok itu juga didampingi oleh tokoh-tokoh hebat seperti Zhao Ziyang yang membawa ekonomi Tiongkok mampu bersaing dengan pasar dunia, dan Wan Li yang melakukan reformasi pertanian di Tiongkok sehingga negara yang jumlah rakyatnya lebih dari 1,4 milyar itu tak pernah kekurangan pangan.
Di Afrika juga ada tokoh hebat, yaitu Presiden Paul Kagame yang berhasil mengubah Rwanda menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat dan tingkat korupsi terendah di Afrika. Padahal Rwanda memiliki sejarah kelam dengan terjadinya genosida di tahun 1994. Tetapi kesuksesan Kagame tidak diraih sendirian, karena ia memiliki pendamping dari para teknokrat brilian, diantaranya adalah Clare Akamanzi dan Donald Kaberuka yang belakangan menjadi President of African Development Bank selama 10 tahun sampai tahun 2015.
Indonesia juga punya cerita dengan Suharto.
Ia menyadari bahwa ia tidak memiliki kompetensi di bidang ekonomi. Oleh sebab itu ia memilih orang-orang yang kompeten. Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, dan Emil Salim adalah beberapa nama lulusan UC Berkeley yang kemudian dijuluki “Mafia Berkeley”.
Mereka berhasil menjinakkan hiperinflasi Indonesia warisan orde lama yang saat itu mencapai 650%, lalu merestrukturisasi utang luar negeri, dan menjadi arsitek ekonomi orde baru.
Walaupun beberapa tahun setelahnya Suharto meng-govern Indonesia dengan represif, dan sarat dengan isu korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), lalu akhirnya jatuh di tahun 1998, point saya adalah bahwa pendamping yang kompeten itu sangat krusial.
Siapapun bisa dan boleh jadi pemimpin. Adalah hal yang wajar jika tidak semua bidang ia tahu. Makanya perlu support yang bener, support dari orang-orang yang bukan ‘yes man’, bukan ABS (asal bapak senang) dan bukan penjilat.
Setiap pemimpin, presiden, atau raja/ratu, pada awalnya tidak memiliki pengalaman berada di posisi itu, bukan?
Ratu Elizabeth II tidak pernah menjadi ratu sebelum ia naik takhta menggantikan ayahnya. Lee Kuan Yew juga belum pernah menjadi perdana menteri, Deng Xiaoping juga belum, Paul Kagame juga belum, Suharto juga belum punya pengalaman jadi presiden sebelum 1966.
Jadi, seorang pemimpin yang tidak berpengalaman is not dangerous. Tetapi ia perlu memilih orang-orang yang becus, lalu mau belajar, mendengar dan melakukan yang benar.
Yang dangerous adalah pemimpin yang bebal, kata Fonvizin, karena ia keras kepala dan tidak mau mendengar, merasa paling benar, kalau dikritik selalu defensif, lalu marah, dan cenderung menyalahkan orang lain dan mencari kambing hitam.
Pemimpin seperti ini seumpama orang yang berdiri di jalanan, lalu menunjuk setiap orang yang lewat dan berkata, “Orang itu bodoh!”.
Seseorang bertanya, “Di negeri konoha, pemimpinnya gimana, Mas?”
Saya pura-pura tidak mendengar.
“Lebih baik berjumpa dengan beruang betina yang kehilangan anak, daripada dengan orang bebal dengan kebodohannya.” (Amsal 17:12)
***
Serpong, 2 Nov 2026
Titus J.
.jpg)
Comments