Skip to main content

Bukan Aku, Ya Rabi?

Ciuman itu hanya suatu tanda.

Suatu bahasa tubuh yang semestinya untuk kasih sayang yang hangat.

Tetapi malam itu menjadi kode pengkhianatan

Yang begitu halus, begitu sopan.

Tetapi sangat dingin.

Dengan kode itu ia melakukan serah-terima.


“Salaaamm Rabi,” lalu Yudas Iskariot mencium Yesus dengan lembut sekali.

Tetapi Yesus merasa pipinya bagai dipagut ular.


Sekitar 70-80 tahun sebelumnya, Brutus, sahabat Julius Caesar, mengkhianati sahabatnya itu dengan suatu trik, yaitu menjebak pemimpin Roma itu di sidang senat di Curia, Pompey. Ketika para senator itu mengeluarkan belati dan menikamnya, Brutus ikut menikamnya.


 "Et tu, Brute?" (Kau juga, Brutus?), tanya Caesar. Hasrat Caesar untuk melawan langsung surut begitu ia tahu sahabatnya juga ikut dalam persekongkolan itu.

Caesar tidak menyangka, dan ia terlalu berbaik sangka kepada sahabatnya yang sangat disayanginya itu. Ia hanya menatap Brutus dan membiarkan tubuhnya meregang nyawa tanpa perlawanan.


Entahlah, apakah Yudas pernah membaca kematian Julius Caesar karena pengkhianatan Brutus itu.


“Kau menyerahkan Aku dengan ciuman?” tanya Yesus.


Yesus juga tidak berhasrat untuk melawan.

Berbeda dengan Julius Caesar, Yesus tidak melawan karena Ia sudah tahu apa yang bakal terjadi pada-Nya. Ia memang harus menjalaninya dan menggenapi semua yang sudah tertulis tentang Dia dalam nubuat para nabi.


Bahkan ketika Simon Petrus yang menghunus pedangnya dan mengiris telinga salah satu prajurit yang ikut dalam penyergapan itu, Yesus menegurnya, “Kau sangka bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi Kitab Suci yang mengatakan harus terjadi demikian?” (Matius 26:53-54)


Ia sudah tahu, dan Ia sudah siap. “Biarlah kehendak-Mu yang jadi,” doa-Nya beberapa menit sebelumnya.


Ciuman di Getsemani itu adalah premeditated betrayal, suatu pengkhianatan yang terencana. Beberapa hari sebelumnya Yudas secara sadar mendatangi mahkamah agama, "Apa yang akan engkau berikan padaku jika aku menyerahkan Dia?" Dan ketika para imam itu menjanjikan imbalan 30 keping perak, Alkitab menulis: "Mulai saat itu ia mencari kesempatan untuk menyerahkan Yesus." 

Angka 30 keping perak adalah harga seorang budak. “Tetapi jika lembu itu menanduk seorang budak laki-laki atau perempuan, maka pemiliknya harus membayar tiga puluh syikal perak kepada tuan budak itu.” (Keluaran 21:32). 

Betapa recehannya Yudas menimbang harga Gurunya.

Padahal Gurunya sudah mengingatkannya, di malam itu waktu mereka berkumpul untuk perjamuan Paskah.

“Kamu sudah bersih, hanya tidak semua,” kata-Nya memulai pembasuhan kaki murid-muridNya.

“Heh, apa yang dimaksud tidak semua bersih?” pikir Yudas.

Belum sempat lebih jauh ia berpikir, tibalah giliran kakinya.

Ketika Yesus memegang kakinya, angin berdesir mengelus betisnya karena ujung jubahnya tersingkap. Kakinya berkeringat walaupun saat itu udara begitu dingin. Ia berusaha melawan gemetar kakinya saat ia celupkan kakinya pelan-pelan ke dalam baskom. Air dingin di dalam baskom membuat sekujur tubuhnya menggigil.

Yesus menggosok kaki Yudas yang berdaki. Suara percikan air di dalam baskom itu membuat malam yang sunyi makin mencekam. Waktu yang hanya beberapa menit itu seakan berdetak satu tahun bagi Yudas. Hatinya berkecamuk. Ia tidak bisa merasakan air yang mengguyur kakinya ketika Yesus membilasnya, dan baru tergeragap ketika Yesus mengelap kakinya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya.

"Sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku," kata-Nya. Dan Yudas pun berpura-pura bertanya, "Bukan aku, ya Rabi?" 

Yudas memandangi kakinya yang sudah bersih. Ia menatap Yesus, lalu menunduk. Dilihatnya baskom bekas kakinya yang airnya sudah keruh. Sekeruh hatinya. Ia menatap Yesus lagi, tetapi tak melihat apa-apa selain 30 keping perak yang sedang bermain-main di depan matanya. Ia ingin mendengar suara hatinya di kedalaman yang paling sunyi, tetapi suara kepingan perak di kepalanya menindas suara hatinya, lalu menghitamkan hatinya.

Brutus menikam dengan belati, Yudas menikam dengan ciuman.

Keduanya sama-sama pengkhianat. Tetapi siapa yang lebih sadis?

Ah, bukan soal siapa yang lebih sadis, tetapi persoalannya adalah, ada berapa persen Brutus dalam diri kita dan berapa persen Yudas dalam diri kita?


“Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.” (Amsal 27:6)


***

Serpong, 4 Nov 2026

Titus J.


Comments

Popular posts from this blog

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...

Forgive Me for Not to Obey Your Fatwa

It’s still fresh in my mind, where Megawati’s PDI (Indonesia Democracy Party) harshly knocked-out by Suharto’s power in 1996. I was still 3 months since I set my feet on Jakarta from my hometown. Everybody knew Megawati was a serious menace of Suharto’s Golkar at that time, and 1996 was only a year ahead of the election. Like previous elections, Golkar always wanted vote majority in order to keep Suharto in reign. Time could not be stopped and Megawati popularity has made the Suharto’s circle depressed. They seemed so fearful the Soekarno’s spirit was coming back. With a very dirt scenario, Suharto’s regime created drama by conspiring with several PDI executives to organize a congress in Medan. The congress, as predicted clearly by everyone, finally appointed Soerjadi as PDI chairman, Fatimah Ahmad as deputy chairman and Butu Hutapea as the secretary general (Soerjadi is Megawati’s predecessor). It means, Megawati who had been selected by National Meeting in Surabaya in 1993, was kick...

The Lawmakers Are Too Proud to be God

My brain suddenly becomes so blunt to understand how some members of Commission VII of the House of Representatives (DPR) use their "looked smart" brain to think smartly. In the hearing between the lawmakers and Pertamina management on February 10, 2009, one of the lawmakers, Effendi Simbolon, humiliated Karen Agustiawan, the CEO of Pertamina by saying she was un-competent to lead the big organization as Pertamina – the prestigious State Owned Company in oil & gas and geothermal energy sector. They even harshly bullied her by putting label on her as Satpam (private security guard) if Karen could not stay away from serving the interest of President Susilo Bambang Yudhoyono and VP Jusuf Kalla. It’s clear to people that some of the “supposed to be respected” lawmakers do not deserve to receive any respects. That is why they cannot respect others, too. They have been acting as judge, even God, when they summon government officials or businessmen to their nest. They grill eve...