Skip to main content

Berjalan ke Yerusalem


Pra-Paskah 2019 - hari#5

Paskah tidak hanya mengingatkan kita tentang penderitaan tapi juga kemenangan, tidak hanya mengingatkan kita tentang kehinaan tapi juga kemuliaan, tidak hanya tentang kematian tapi juga kehidupan. Paskah adalah kisah paradoks.

Beberapa kali dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Yesus sudah mengatakan tentang penderitaan, kehinaan dan kematian yang harus Ia hadapi itu. "Mari kita berangkat kesana, dan disanalah Aku akan menanggung hinaan, persekusi oleh para imam, tuntutan mati, dan disalibkan," kata-Nya kepada murid-muridNya.

Tidak ada tokoh yang begitu "firmed" dalam menyikapi penderitaan dan kematian yang ia tahu bakal dialaminya. Seseorang bisa sangat "firmed" untuk mengejar cita-cita dan meraih sukses, lalu berusaha dengan segenap daya dan upaya agar apa yang didambakannya tercapai. Bahkan seorang panglima perang pun akan selalu ingin pulang membawa kemenangan dengan tetap hidup. Tetapi untuk sebuah tujuan yang berakhir dengan kematian, Yesuslah yang mengerjakannya dengan niat yang maksimal.

Ia menuju Yerusalem untuk menyongsong kematian sebagai sebuah mandat. "Makanan-Ku adalah melakukan pekerjaan yang diberikan oleh Bapa kepada-Ku," kata-Nya ketika murid-muridNya bertanya soal makanan kepada-Nya. Ia harus mengecap kematian untuk memenangkan perang dan memberikan kehidupan. Betapa paradoks. Hal ini aneh, tidak masuk akal, dan menjadi bahan tertawaan oleh dunia.

Tetapi itulah kasih yang melampaui segala akal, yang tidak bisa dipahami kecuali dengan memandang kepada salib. Salib yang mengerikan itu Ia rasakan sebagai wujud keindahan kasih yang Ia lakukan dengan setulus hati dan segenap niat. Inilah paradoks yang Yesus tunjukkan, ketika Ia mengambil tempat mengerikan yang harusnya diperuntukkan untuk kita agar kita memperoleh tempat yang mulia milik-Nya. "I have found a paradox, that if you love until it hurts, there can be no more hurt, only more love," kata Mother Teresa.

Kasih yang melampaui segala akal itu membuat niat-Nya begitu "firmed" untuk berangkat ke Yerusalem. Disanalah Ia merebut tempat kita di kayu salib, agar kita tidak terluka. 

***
Serpong, 11 Mar 2019
Titus J.

Comments

Popular posts from this blog

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...

Forgive Me for Not to Obey Your Fatwa

It’s still fresh in my mind, where Megawati’s PDI (Indonesia Democracy Party) harshly knocked-out by Suharto’s power in 1996. I was still 3 months since I set my feet on Jakarta from my hometown. Everybody knew Megawati was a serious menace of Suharto’s Golkar at that time, and 1996 was only a year ahead of the election. Like previous elections, Golkar always wanted vote majority in order to keep Suharto in reign. Time could not be stopped and Megawati popularity has made the Suharto’s circle depressed. They seemed so fearful the Soekarno’s spirit was coming back. With a very dirt scenario, Suharto’s regime created drama by conspiring with several PDI executives to organize a congress in Medan. The congress, as predicted clearly by everyone, finally appointed Soerjadi as PDI chairman, Fatimah Ahmad as deputy chairman and Butu Hutapea as the secretary general (Soerjadi is Megawati’s predecessor). It means, Megawati who had been selected by National Meeting in Surabaya in 1993, was kick...

The Lawmakers Are Too Proud to be God

My brain suddenly becomes so blunt to understand how some members of Commission VII of the House of Representatives (DPR) use their "looked smart" brain to think smartly. In the hearing between the lawmakers and Pertamina management on February 10, 2009, one of the lawmakers, Effendi Simbolon, humiliated Karen Agustiawan, the CEO of Pertamina by saying she was un-competent to lead the big organization as Pertamina – the prestigious State Owned Company in oil & gas and geothermal energy sector. They even harshly bullied her by putting label on her as Satpam (private security guard) if Karen could not stay away from serving the interest of President Susilo Bambang Yudhoyono and VP Jusuf Kalla. It’s clear to people that some of the “supposed to be respected” lawmakers do not deserve to receive any respects. That is why they cannot respect others, too. They have been acting as judge, even God, when they summon government officials or businessmen to their nest. They grill eve...