Skip to main content

Politik Jeruk Makan Jeruk




Anggota Fraksi Partai Golkar (FPG) DPR-RI, Yudhi Chrisnandi mungkin perlu belajar memilih kursi secara bijak, karena tidak semua kursi walaupun fungsinya sama yaitu untuk duduk, cocok bagi dirinya.

Mungkin pendiriannya untuk berbeda sendiri dengan fraksinya tentang penggunaan hak angket kenaikan harga BBM mendapat applause dari mahasiswa dan dari kalangan pemrotes kebijakan pemerintah yang tidak populer tersebut. Tapi tidak bagi Golkar. Setelah sikapnya itu Yudhi mendapat teguran tertulis dari fraksinya. Ketua Partai Golkar Jusuf Kalla mengatakan teguran itu adalah kartu kuning bagi Yudhi, artinya, kalau di sepak bola pemain yang mendapatkan kartu kuning sampai 2 kali akan otomatis kena kartu merah alias harus out.

Ditinjau dari sisi Partai Golkar, teguran terhadap Yudhi adalah hal yang wajar. Kenapa? Karena Yudhi jelas-jelas “melawan” kebijakan partainya. Mungkin anda complain, “Wah, kalau begitu Golkar tidak demokratis dong.” Ini bukan masalah demokratis atau tidak, tapi sebuah organisasi yang kuat memang harus tertib, teratur dan kompak. Dalam proses apapun selama itu masih dibicarakan di dalam (internal), tiap orang boleh saja berdebat, beradu argumentasi seseru-serunya, kalau perlu menggebrak meja bahkan sampai urat leher putus. Boleh saja, ini kan demokrasi? Setiap orang boleh bicara dan berpendapat. Tetapi setelah ada keputusan, semua anggota seharusnya tunduk. Apa jadinya kalau tiap orang mau “nyelonong” sendiri-sendiri? Bayangkan kalau anggota FPG yang 120 orang itu satu bilang A, yang lain bilang B dan yang lain lagi bilang C. Apa jadinya?

Boleh saja Yudhi bersikap “pro-rakyat” (tanda kutip ini untuk menandai bahwa mereka yang menolak kenaikan harga BBM tidaklah identik dengan apa yang dinamakan pro-rakyat). Boleh saja Yudhi mengikuti hati nuraninya yang tersentuh melihat penderitaan “orang-orang kecil” yang tidak sanggup lagi makan 3 kali sehari, menyekolahkan anak, berobat ke dokter, dan lain-lain karena harga-harga naik sebagai dampak kenaikan harga BBM. Salut buat Yudhi yang punya empati. Tetapi, kenapa dia berada di Partai Golkar?

Kalau kita mau berpikir dengan akal sehat, jelas dong Golkar tidak mau menggunakan hak angket. Kenapa? Lha Ketua Umumnya adalah wapres kok, dan wapres berarti pemerintah. Yang menaikkan harga BBM pemerintah. Justru lucu kalau Golkar melawan pemerintah, seperti jeruk makan jeruk dong? Makanya yang menolak hak angket cuma 2 fraksi, yaitu FPG dan Fraksi Partai Demokrat karena mereka notabene adalah pemerintah itu sendiri.

Lalu, Yudhi Chrisnandi harus bagaimana? Menurut saya dia mesti pilih kursi di PDI-Perjuangan (PDIP), sebab sejak semula sikap PDIP jelas sekali, yaitu mengambil posisi sebagai partai oposisi. Lebih baik bersikap jelas begini, jadi nggak tanggung, nggak banci. Saya kira PDIP enak sekali, mau mengeritik pemerintah nggak ada beban, karena sikapnya jelas. Yang lucu justru partai-partai yang terus-terusan mengeritik pemerintah, tapi terus juga mau duduk jadi menteri. Waktu anggota kabinet bidang ekonomi rapat tentang BBM, bukankah menteri-menteri itu ada dan ikut memberi pendapat serta mengambil keputusan? Setelah keputusan diambil dan dilaksanakan, kenapa partai-partai mereka malah melawan kebijakan, dimana teman-teman mereka yang jadi menteri itu ikut serta memutuskan? Lagi-lagi jeruk makan jeruk.

Kornelius Purba pada tulisannya di The Jakarta Post tanggal 26 Juni mengatakan “All those ministers are lucky enough, because the President still trust them to stay in the Cabinet. According to the basic logic, they should have quit from the Cabinet, or the President should tell them: Get out!” 1)

Dulu di jaman orde baru, sikap seperti itu pernah terjadi pada Sidang Umum MPR tahun 1988, pada tanggal 10 Maret 1988 saat berlangsungnya rapat paripurna MPR untuk mensahkan Suharto menjadi Presiden RI untuk kesekian kalinya. Waktu itu Suharto sebagai calon tunggal presiden, tetapi calon wapresnya ada 2 orang, yaitu Sudharmono dan H. Jaelani Naro (Ketua Umum PPP).

Ketika ketua MPR Kharis Suhud mau mengetokkan palu untuk mensahkan Suharto (setelah teriakan koor “setuju” dari seluruh anggota), tiba-tiba terdengarlah teriakan interupsi dari barisan tempat duduk FABRI. Dialah Brigjend. Ibrahim Saleh. Pria tinggi kurus ini lalu maju ke mimbar dan di depan microphone menyatakan ganjalannya tentang wapres. Sekitar 6 bulan setelah insiden yang menggegerkan itu Ibrahim Saleh di-recall dari keanggotaannya di DPR/MPR, kemudian ia surut dari pentas politik 2).

Ya memang berbeda sah-sah saja, tapi mengemukakan perbedaan harusnya tidak di sembarang tempat. Tidak harus asal beda. Layaknya sebuah instrumental jazz yang dimainkan di nada dasar G, yang mengalun dengan cantik penuh improvisasi, tapi tiba-tiba suara saxophone-nya nyelonong masuk dengan nada dasar F. Wah report...


***
Catatan:
1) Segment “Commentary” The Jakarta Post tanggal 26 Juni 2008 berjudul “Questioning cowardly ministers around President SBY” oleh Kornelius Purba, ditulis setelah DPR memutuskan untuk menggunakan hak angket terhadap kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM
2) Mengenai interupsi Ibrahim Saleh, dapat dibaca pada buku “Benny – Tragedi seorang loyalis” yang ditulis oleh Julius Pour.


Serpong, 9 Juli 2008
Titus J.

Comments

Popular posts from this blog

Eisenhower, The Top Figure Army General, The Modest President

This is a portrait of Dwight D. Eisenhower, a young dreamer, charting a course from Abilene, Kansas, to West Point and beyond. Before becoming the 34th president (two terms from 1953 to 1961), Ike –as he was called–  was a five-star general in the U.S. Army during World War II and served as Supreme Commander of the Allied Expeditionary Force in Europe. This book reveals the journey of the man who worked with incredible subtlety to move events in the direction he wished them to go. In both war and peace, he gave the world confidence in American leadership. In the war period, Ike commanded the largest multinational force ever assembled to fight German troops in leading the Western powers to victory.  During his presidency, he ended a three-year war in Korea with honor and dignity. Not a single American died in combat for the next eight years. He resisted calls for preventive war against the Soviet Union and China, faced down Khruschev over Berlin, and restored stability in Leban...

Bertrand Russell Critical Analysis on Western Philosophy

“Philosophy is something intermediate between theology and science,” said Bertrand Russell. Theology and science occupy their own territory. All definite knowledge belongs to science, all dogma as to what surpasses definite knowledge belongs to theology. Between theology and science there is No Man’s Land, exposed to attack from both sides. For that the philosophy is present. The No Man’s Land is philosophy. Then he added, “Philosophical conceptions are a product of two factors: one, inherited religious and ethical conceptions; the other, the sort of investigation which may be called ‘scientific’.” Bertrand Russell who was born in 1872, he himself was a British philosopher as well as mathematician, logician, historian, writer, and social critic. In this book, which was firstly published in 1945, Russell divided the philosophy chronologically into three parts: Ancient Philosophy, Catholic Philosophy and Modern Philosophy. This book is a widely read and influential philosophical history ...

Jesus Way Tak Segampang Busway

Jesus Way yang diartikan “cara Yesus” atau “jalan Yesus” tampaknya berupa jalan sempit dan sedikit orang menyukainya/memilihnya. Ini pernah dikatakan oleh Yesus sendiri: “ Karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya .” (Matius 7:14). Semua orang, atau sebagian besar orang, memilih jalan lebar tanpa hambatan agar sebisa mungkin lebih cepat sampai tujuan. Jalan sempit hanya memperlama waktu, tidak efektif, dan tidak sesuai tuntutan zaman yang serba cepat dan instan. Sebenarnya jalan sempit tidak apa-apa asalkan lancar. Ternyata tidak. Jesus way bukan seperti jalur khusus bus atau busway di Jakarta. Busway – walaupun sempit, hanya pas untuk satu bus – memberikan privilege karena dikhususkan untuk bus tanpa ada hambatan apapun. Ikut melaju di busway enak sekali, diprioritaskan, tidak ikut ngantri bermacet-macetan di jalan. Jesus way tidak seperti busway . Dulu ada kisah seorang anak muda yang kaya raya, yang sedang mencar...