Skip to main content

Berteman Dengan Mie Instant



Seorang teman memberitahu saya, harga-harga yang naik belakangan ini sungguh sangat terasa dampaknya terutama bagi masyarakat bawah (kurang mampu).
Teman saya ngobrol dengan koleganya yang bekerja di sebuah supermarket besar. Obrolan berawal dari keluh-kesah tentang kecenderungan sepinya penjualan sejak bulan Juni 2008. Apa penyebabnya? Apakah karena harga-harga naik (sejak pemerintah menaikkan harga BBM), atau karena bulan Juni-Juli adalah bulan liburan sehingga banyak yang keluar kota, atau karena orang-orang lagi pada berhemat menjelang tahun ajaran baru dimana biaya sekolah harus lebih diutamakan daripada belanja?

Menurut kolega teman saya yang dari supermarket itu, memang benar ada penurunan penjualan terhadap barang-barang kebutuhan pokok. Beberapa item yang sangat menyolok adalah penjualan daging ayam turun sampai 30% dari bulan sebelumnya, daging sapi turun drastis sekitar 40%, bahkan penjualan telurpun begitu mengejutkan karena terjun bebas (prosentasenya saya lupa).

Tetapi yang lebih mengejutkan adalah, justru penjualan mie instant naik sangat significant. Mie instant? Ya betul, mie instant laku keras hari-hari ini!

Kalau penjualan daging sapi turun kita masih bisa maklum karena mungkin orang-orang sedang berhemat. Yang biasanya makan daging sapi oke-lah down-grade ke daging ayam. Tetapi bukankah penjualan daging ayam juga turun? Bagi yang biasanya makan daging ayam, dalam situasi sulit oke juga untuk down-grade ke telur agar tetap bisa dapat protein/gizi. Tetapi penjualan telur kali inipun turun drastis. Apa yang terjadi sebenarnya?

Teman saya mengatakan, memang di dalam dunia retail, grafik penjualan di bulan-bulan dalam setahun selalu mempunyai bentuk yang kurang lebih sama, dan kecenderungan penjualan yang turun di bulan Juni-Juli adalah wajar karena faktor liburan ataupun tahun ajaran baru. Nanti mulai Agustus trend penjualan akan naik lagi. Tetapi anjloknya penjualan di bulan Juni-Juli tidak pernah sefantastis kali ini, apalagi terhadap barang-barang kebutuhan pokok karena semua orang tetap perlu makan walaupun harus berlibur atau menyekolahkan anak.

Tetapi keanehan lain muncul karena di masa liburan ini tempat-tempat liburan ramai bukan main. Kidzania yang memasang tarif masuk cukup mahal berjubel dan harus antri. Minggu lalu teman saya mengantar tamu dari Jepang ke hotel Shangri-la untuk makan, tetapi harus batal karena meja-meja sudah fully-booked. Jangan-jangan keadaan sulit ini hanya dialami oleh teman-teman (maaf) kalangan bawah yang gajinya pas-pasan.

Melihat konsumsi mie instant hari-hari ini meloncat drastis, saya merasa miris. Sebegitu sulitkah keadaan sekarang sehingga orang-orang harus men-down-grade menu makannya sampai ke level mie instant? Atau dengan kata lain, mie instant menjadi cara pelarian mereka untuk tetap makan nasi dengan lauk, ketimbang makan nasi putih yang hambar?

Keadaan seperti itu mengingatkan saya waktu masih kecil, masih sekolah di SD/SMP di masa-masa sulit tahun 1980-an. Ibu saya sangat pandai mengatur uang untuk belanja, dan saya belajar mengamati bagaimana “cash-flow” di dompet ibu waktu itu. Kalau di meja makan ada telur, berarti cash-flow lancar. Kalau di meja makan ada ayam goreng, berarti cash-flow amat-sangat lancar. Tapi kalau di meja makan hanya ada sayur dan krupuk saja, wah, pasti cash-flow ibu lagi seret. Apalagi kalau ibu sudah mengambil pisau, kemudian dengan pisau itu digarisnya krupuk-krupuk itu menjadi 2 bagian, berarti masing-masing anak hanya dapat jatah krupuk separo (saya 7 bersaudara). Kami tidak mengerti arti gizi, yang penting kenyang. Waktu itu belum ada mie instant.

Sekarang tampaknya keadaan berulang. Semua harga (terutama kebutuhan pokok) naik. Teman saya cerita tetangga rumahnya yang buka warung kelontong terpaksa memasang harga telur Rp. 1000,- per butir untuk mereka (pembeli) yang tidak mampu beli telur secara kiloan. Juga mie instant, dijualnya secara eceran per bungkus untuk mereka yang hanya punya nasi putih. Tampaknya sekarang mie instant menjadi first option untuk menjadi pendamping nasi putih.

Ya, begitulah cara teman-teman kita menyiasati keadaan. Yang penting makan masih ada rasanya, kenyang dan halal. Sayapun sekali-sekali juga masih makan mie instant kok, tetapi mie instant yang lengkap dengan sayur (caisim) dan telur.

***

Serpong, 6 Juli 2008
Titus J.

Comments

Anonymous said…
Sedikit masukan boleh kan? Sekitar tahun 80an sudah ada mie instan kok. Namanya dulu Supermie dan juga Sarimie. Kenapa gue tau, karena gue juga sempet ngerasain makan mie melulu waktu itu...bukan hobby, tapi ya karena memang mampunya makan itu kok...hehe. Memang ibu2 kita itu para CFO (Chief Financial Officer) yang handal...

Popular posts from this blog

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...

Forgive Me for Not to Obey Your Fatwa

It’s still fresh in my mind, where Megawati’s PDI (Indonesia Democracy Party) harshly knocked-out by Suharto’s power in 1996. I was still 3 months since I set my feet on Jakarta from my hometown. Everybody knew Megawati was a serious menace of Suharto’s Golkar at that time, and 1996 was only a year ahead of the election. Like previous elections, Golkar always wanted vote majority in order to keep Suharto in reign. Time could not be stopped and Megawati popularity has made the Suharto’s circle depressed. They seemed so fearful the Soekarno’s spirit was coming back. With a very dirt scenario, Suharto’s regime created drama by conspiring with several PDI executives to organize a congress in Medan. The congress, as predicted clearly by everyone, finally appointed Soerjadi as PDI chairman, Fatimah Ahmad as deputy chairman and Butu Hutapea as the secretary general (Soerjadi is Megawati’s predecessor). It means, Megawati who had been selected by National Meeting in Surabaya in 1993, was kick...

When A Street Crime Is Negotiable

That is true a bad guy will not be the bad guy forever. Sometimes, depending on the situation, a bad guy, in fact, still has compassion to his victim. No matter it’s because of pity or something else, but crime in Jakarta is not always appears in horror. The spirit of hometown solidarity for example, is also one of the factors that can be used to win the crime. It’s like what had happened to my team (my subordinate) when I was working for a private bank in Jakarta. Just call him Fresman. May be his parent expected him to always being fresh, I don’t know, but that’s true, his temperament is cool, calm, and always smiles – never looked stressful in any situation. He was very good and talented person in his job. He could always accomplish every job that I gave to him, as long as I described a clear instruction and a clear target date. And, every job was done rightfully. One day he came lately to office, gasped for breath and came to my desk in hurry. “Sorry sir, I am late,” he said while ...