Skip to main content

Ia Tidak Jadi Menyentuh Lambung-Nya

Banyak yang bilang Tomas adalah rasul peragu. Ini gara-gara ia tak percaya omongan teman-temannya yang bertemu Yesus di malam hari setelah pagi harinya Yesus bangkit dari kematian. 


“Kami telah melihat Tuhan,” kata mereka.

“Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya,” jawab Tomas. (Yohanes 20:25)


Karena hal itu maka Tomas dicap sebagai peragu, nggak percayaan.


Ketika Yesus menampakkan diri kepada murid-muridNya (minus Tomas), Ia secara spesifik menunjukkan dua luka yang sangat penting. “Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka.” (Yohanes 20:20).

Jadi teman-teman Tomas itu melihat Yesus secara langsung, dari dekat, bahkan melihat lubang bekas paku di tangan-Nya dan luka bekas tikaman tombak di lambung-Nya.


Jika Tomas juga ingin melihat dua luka itu seperti yang teman-temannya lihat, dan ingin mencucukkan jarinya ke bekas luka itu sebelum memutuskan untuk percaya, maka tepatkah stigma peragu (doubtful) itu dikenakan kepada Tomas?


Dimana Tomas pada malam itu? Mengapa ia tidak ikut kumpul-kumpul bersama teman-temannya? 

Mungkin malam itu Tomas sedang menggelandang entah kemana. Perasaannya campur-aduk antara sedih, kecewa, marah, bingung, dan entah apa lagi. Pikirannya masih dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Sepanjang hari itu banyak sekali arus informasi berseliweran, kasak-kusuk, desas-desus. Malam itu suasana begitu mencekam.


Ada info terjadi gempa bumi di kuburan, info soal malaikat menggulingkan batu penutup kubur, info bahwa mayat Yesus dicuri orang. Dan info lain lagi Yesus bangkit, tetapi pembawa infonya adalah Maria Magdalena, seorang perempuan yang –sesuai struktur hukum patriarki dan tradisi rabinik Yahudi– kata-katanya dianggap tidak sah.


Bukankah wajar-wajar saja dalam situasi seperti itu Tomas tidak gampang menelan informasi begitu saja, walaupun info itu dari teman-temannya sendiri?


Mengenakan stigma peragu kepada Tomas adalah tidak tepat karena justru Tomas adalah seorang yang tidak ragu-ragu sama sekali.


Pada suatu hari ketika Yesus ingin kembali ke Yudea (karena Ia akan mengerjakan sebuah misi penting berkenaan dengan kematian Lazarus), murid-muridNya mencegah Dia, “Ngapain kembali kesana, Guru? orang-orang Yahudi disana akan membunuh-Mu!” Setelah terjadi diskusi, Yesus tetap pada niat-Nya. Lalu Tomas mengajak teman-temannya, “Ayok kita ikut kesana untuk mati bersama-sama dengan Dia.”


Statement Tomas itu mengandung kekuatan tekad sampai pada titik optimal. Ia tidak ragu-ragu. Ia “nekat” ikut Gurunya untuk menyongsong kematian. Nekat disini bukan bonek (bondo nekat) tapi lebih memiliki arti “apapun yang terjadi, aku siap”


Karakter ragu-ragu dan nekat secara psikologis berada pada dua kutub yang berlawanan. Bagaimana mungkin seorang yang nekat sekaligus adalah seorang peragu?


Jika dilihat di bagian lain, Tomas adalah seorang yang kritis. Ia tidak ragu-ragu bertanya jika ada hal-hal yang tidak ia mengerti.


Yesus pernah menjelaskan, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu. Dan kemana Aku pergi, kamu tahu jalan kesitu.”

Lalu Tomas yang tidak mengerti bertanya, “Tuhan, kami tidak tahu kemana Engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan kesitu?” 

Jawab Yesus, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:1-6)


Sikap Tomas itu mengingatkan kita, agar kita selalu bersikap kritis. Bertanyalah jika tidak mengerti, ungkapkanlah isi hati dengan jujur jika ada yang mengganjal. Sikap seperti ini akan dihargai oleh Tuhan.


Delapan hari setelah malam itu, Yesus menampakkan diri lagi, ketika murid-muridNya (plus Tomas) sedang berkumpul. Secara khusus Ia menghampiri Tomas, “Ini tangan-Ku, ini lambung-Ku, cucukkan tanganmu ke dalam lambung-Ku, dan jangan engkau tidak percaya lagi.”


Tomas tidak jadi mencucukkan tangannya ke dalam lambung Yesus. Hatinya berkobar, bibirnya bergetar, dan dengan berlutut ia berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku!”


Menurut catatan sejarah dan tradisi kuno gereja, rasul Tomas mati martir di India sekitar tahun 72 Masehi karena ditusuk dengan tombak pada waktu ia sedang berdoa. 


Apakah tusukan itu tepat di bagian lambungnya?


***


Serpong, 12 Okt 2026

Titus J.


Comments

Popular posts from this blog

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...

Forgive Me for Not to Obey Your Fatwa

It’s still fresh in my mind, where Megawati’s PDI (Indonesia Democracy Party) harshly knocked-out by Suharto’s power in 1996. I was still 3 months since I set my feet on Jakarta from my hometown. Everybody knew Megawati was a serious menace of Suharto’s Golkar at that time, and 1996 was only a year ahead of the election. Like previous elections, Golkar always wanted vote majority in order to keep Suharto in reign. Time could not be stopped and Megawati popularity has made the Suharto’s circle depressed. They seemed so fearful the Soekarno’s spirit was coming back. With a very dirt scenario, Suharto’s regime created drama by conspiring with several PDI executives to organize a congress in Medan. The congress, as predicted clearly by everyone, finally appointed Soerjadi as PDI chairman, Fatimah Ahmad as deputy chairman and Butu Hutapea as the secretary general (Soerjadi is Megawati’s predecessor). It means, Megawati who had been selected by National Meeting in Surabaya in 1993, was kick...

The Lawmakers Are Too Proud to be God

My brain suddenly becomes so blunt to understand how some members of Commission VII of the House of Representatives (DPR) use their "looked smart" brain to think smartly. In the hearing between the lawmakers and Pertamina management on February 10, 2009, one of the lawmakers, Effendi Simbolon, humiliated Karen Agustiawan, the CEO of Pertamina by saying she was un-competent to lead the big organization as Pertamina – the prestigious State Owned Company in oil & gas and geothermal energy sector. They even harshly bullied her by putting label on her as Satpam (private security guard) if Karen could not stay away from serving the interest of President Susilo Bambang Yudhoyono and VP Jusuf Kalla. It’s clear to people that some of the “supposed to be respected” lawmakers do not deserve to receive any respects. That is why they cannot respect others, too. They have been acting as judge, even God, when they summon government officials or businessmen to their nest. They grill eve...