Skip to main content

Shirley

Tagar #kaburajadulu tampaknya sudah mulai sepi. Tetapi jika masih ada Gen Y (millennial) atau Gen Z yang mau kabur, jangan kabur ke luar negeri. Kabur saja ke Maluku Utara.

Maluku Utara punya Gubernur hebat. Namanya Shirley Tjoanda.

Bu Gubernur punya banyak cita-cita, banyak rencana, banyak program untuk membangun daerahnya, dan kamu para Gen Y dan Gen Z yang idealis dapat mencoba melamar jadi timnya.

Shirley sebenarnya adalah seorang Ibu rumah tangga. Ia tak pernah menyangka apalagi kepengin jadi pemimpin daerah. Tetapi Oktober tahun lalu, suaminya, Benny Laos, meninggal dunia karena kecelakaan di tengah-tengah proses pilgub Maluku Utara. Benny maju sebagai salah satu calon.

Di tengah kesedihan dan kegalauan itu Shirley bermaksud ke Jakarta ingin melupakan segalanya. Tetapi banyak yang meminta (termasuk partai pengusung) Shirley yang maju menggantikan suaminya sebagai calon. Ia sempat merenung, akankah ia menepi dan terus berduka atas kehilangan orang yang paling dicintainya, atau masuk gelanggang untuk berkarya bagi masyarakat? Setelah berdoa dan berdiskusi dengan tiga anaknya, akhirnya ia memutuskan maju. Ia menang dengan 51,68% suara.

Satu hal yang mengagumkan dari Shirley sehingga ia menang adalah: instinct keibuannya.

“Saya adalah ibu dari tiga anak, saya akan jadi ibu bagi 1,3 juta warga Maluku Utara,” katanya.

Dalam kontestasi politik waktu itu, Shirley adalah satu-satunya calon perempuan di antara tiga calon laki-laki. 

Tidak ada yang lebih bisa memahami hati seorang ibu daripada seorang perempuan. Kekuatan hati ibu yang ingin memeluk anak-anaknya itulah yang rupanya merebut hati para perempuan di Maluku Utara sehingga Shirley menang. 

Shirley membuktikan bahwa ia adalah pemimpin daerah yang bekerja. Setelah dilantik, ia langsung tancap gas. Pada semester 1 tahun ini, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara adalah 33,21%, tertinggi dari seluruh provinsi di Indonesia.

Ia turun ke lapangan, bertemu rakyat, memberikan solusi. Ketika berbicara, kata-katanya tertata apik, berkualitas, tidak plonga-plongo, tanda bahwa ia adalah orang cerdas, orang sekolahan. Ia lulus sarjana International Business Management dari Universitas Kristen Petra, Surabaya.

Wahai para Gen Y dan Gen Z, kabur aja ke Maluku Utara. Lihatlah Ternate, Tidore, Halmahera, dan Morotai yang sangat indah. Di tangan Bu Gubernur yang suka diving ini, daerah ini akan menyaingi Bali dan Raja Ampat.

Maluku Utara bakal maju dan sejahtera, karena warganya pintar memilih pemimpinnya.

***

Serpong, 19 Sep 2025

Titus J.


Comments

Popular posts from this blog

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...

Forgive Me for Not to Obey Your Fatwa

It’s still fresh in my mind, where Megawati’s PDI (Indonesia Democracy Party) harshly knocked-out by Suharto’s power in 1996. I was still 3 months since I set my feet on Jakarta from my hometown. Everybody knew Megawati was a serious menace of Suharto’s Golkar at that time, and 1996 was only a year ahead of the election. Like previous elections, Golkar always wanted vote majority in order to keep Suharto in reign. Time could not be stopped and Megawati popularity has made the Suharto’s circle depressed. They seemed so fearful the Soekarno’s spirit was coming back. With a very dirt scenario, Suharto’s regime created drama by conspiring with several PDI executives to organize a congress in Medan. The congress, as predicted clearly by everyone, finally appointed Soerjadi as PDI chairman, Fatimah Ahmad as deputy chairman and Butu Hutapea as the secretary general (Soerjadi is Megawati’s predecessor). It means, Megawati who had been selected by National Meeting in Surabaya in 1993, was kick...

The Lawmakers Are Too Proud to be God

My brain suddenly becomes so blunt to understand how some members of Commission VII of the House of Representatives (DPR) use their "looked smart" brain to think smartly. In the hearing between the lawmakers and Pertamina management on February 10, 2009, one of the lawmakers, Effendi Simbolon, humiliated Karen Agustiawan, the CEO of Pertamina by saying she was un-competent to lead the big organization as Pertamina – the prestigious State Owned Company in oil & gas and geothermal energy sector. They even harshly bullied her by putting label on her as Satpam (private security guard) if Karen could not stay away from serving the interest of President Susilo Bambang Yudhoyono and VP Jusuf Kalla. It’s clear to people that some of the “supposed to be respected” lawmakers do not deserve to receive any respects. That is why they cannot respect others, too. They have been acting as judge, even God, when they summon government officials or businessmen to their nest. They grill eve...