Skip to main content

Di KRL Serpong - Tanah Abang

Ada yang duduk sambil melamun. 
Ada yang berdiri sambil tertidur. 
Ada yang pura-pura tidur agar tidak harus memberikan tempat duduknya kepada mereka yang lebih membutuhkan. 
Ada yang benar-benar pulas dengan mulut ternganga seolah ingin menelan bumi dan bulan.

Ada yang terus tertunduk dan terus men-scrolling layar hp-nya. 
Ada yang terus membaca buku entah novel entah buku ekonomi entah buku agama. 
Ada yang terus menelepon dengan suara keras seperti sengaja agar orang-orang di gerbong kereta mendengar bahwa ia sedang mengatur proyek besar dan mengesankan sebagai businessman yang sukses. 
Ada yang matanya menerawang lewat jendela kereta entah apa yang dipikirkannya.

Ada yang terus mengobrol dengan pacarnya dan tertawa-tawa serenyah-renyahnya. 
Ada yang bersama pacarnya tapi tidak tertawa tidak pula bicara dan hanya berpelukan seerat-eratnya. 
Ada bapak tua yang bajunya lusuh seperti tak pernah digilas setrika. 
Ada ibu tua yang memegang bungkusan dengan kantong kresek entah apa isinya.

Ada perempuan muda yang manis sedang memandangku dan akupun memandangnya lalu setelahnya dia dan aku bersamaan membuang muka lalu pura-pura memandang jendela. 
Ada petugas kebersihan berseragam rapi menyapu dan mengepel lantai kereta dengan penuh semangat dan ceria. 
Ada bayi menangis keras-keras dan ibunya berusaha menenangkannya sebisa-bisanya. 
Ada aroma keringat merajalela mengalahkan Cartier, Dior, Bvlgari bahkan parfum oplosan di pinggir jalan.

Demikianlah aku setiap hari selalu menyaksikan adegan demi adegan yang sama. 
Dan hidup terus bergulir dan berputar seperti roda kereta, terus mengajakku bergerak, seiring waktu yang terus berdetak.
Lalu tiba-tiba perjalanan ini sudah sampai di stasiun tujuan. 
Lalu kereta berhenti. 
Aku melihat perempuan muda yang manis itu berjalan ke arah kanan, dan aku ke kiri. 

Hidup berjalan seperti biasa lagi.

“Kehidupan lebih nyata daripada pendapat siapapun tentang kenyataan --Pramoedya Ananta Toer--

***
Serpong, 24 Jul 2019

Titus J.

Comments

Popular posts from this blog

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...

Bertrand Russell Critical Analysis on Western Philosophy

“Philosophy is something intermediate between theology and science,” said Bertrand Russell. Theology and science occupy their own territory. All definite knowledge belongs to science, all dogma as to what surpasses definite knowledge belongs to theology. Between theology and science there is No Man’s Land, exposed to attack from both sides. For that the philosophy is present. The No Man’s Land is philosophy. Then he added, “Philosophical conceptions are a product of two factors: one, inherited religious and ethical conceptions; the other, the sort of investigation which may be called ‘scientific’.” Bertrand Russell who was born in 1872, he himself was a British philosopher as well as mathematician, logician, historian, writer, and social critic. In this book, which was firstly published in 1945, Russell divided the philosophy chronologically into three parts: Ancient Philosophy, Catholic Philosophy and Modern Philosophy. This book is a widely read and influential philosophical history ...

Eisenhower, The Top Figure Army General, The Modest President

This is a portrait of Dwight D. Eisenhower, a young dreamer, charting a course from Abilene, Kansas, to West Point and beyond. Before becoming the 34th president (two terms from 1953 to 1961), Ike –as he was called–  was a five-star general in the U.S. Army during World War II and served as Supreme Commander of the Allied Expeditionary Force in Europe. This book reveals the journey of the man who worked with incredible subtlety to move events in the direction he wished them to go. In both war and peace, he gave the world confidence in American leadership. In the war period, Ike commanded the largest multinational force ever assembled to fight German troops in leading the Western powers to victory.  During his presidency, he ended a three-year war in Korea with honor and dignity. Not a single American died in combat for the next eight years. He resisted calls for preventive war against the Soviet Union and China, faced down Khruschev over Berlin, and restored stability in Leban...