Skip to main content

Kartu Natal Di Keranjang Sampah

Waktu Natal tiba, hal yang selalu kita lakukan adalah saling berkirim salam kepada keluarga, kerabat, teman dan sahabat kita. Namun, apa arti salam Natal itu bagi kita?

Katika saya masih umur belasan tahun, dan masih duduk di bangku SMP atau SMA atau ketika masih di Perguruan Tinggi, berkirim salam Natal selalu dilakukan lewat kartu Natal (Christmas Card). Menjelang Natal, setiap orang ramai mendatangi toko-toko yang menjual kartu Natal, kemudian memilih kartu yang paling bagus. Kadang-kadang kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memilih puluhan kartu dengan design yang berbeda-beda dengan kalimat terindah yang tertulis di dalamnya. Sambil memilih-milih kartu itu, kita membacanya pelahan, menghayati kata demi kata yang tertulis di kartu itu dengan harapan nanti si penerima kartu Natal merasa senang, dan membacanya pelahan, menghayati kata demi kata yang tertulis di situ persis seperti yang kita lakukan.

Dari belasan bahkan puluhan kartu itu, akan ada 1 kartu yang istimewa, yang akan berbeda dengan kartu-kartu lain yang kita pilih, karena kartu itu hendak kita kirimkan kepada seseorang yang istimewa bagi kita. Jika kita tidak pintar mengarang kata-kata, kita cukup mengirimkan kartu yang sudah berisi kata-kata yang puitis itu, kemudian tinggal membubuhkan tanda-tangan kita. Tetapi ada di antara kita yang selalu ingin menulis sendiri ungkapan hati kita, sehingga kita cukup memilih kartu Natal yang polos tanpa kata-kata, tentu dengan design yang bagus.

Kartu itu akan kita tulisi dengan goresan tinta dari tangan kita sendiri, yang kalimatnya kita rancang berjam-jam seindah mungkin. Dan mungkin waktu menulisnyapun tangan kita akan bergetar, karena jantung kita berdetak lebih cepat tidak seperti biasanya lantaran membayangkan bahwa kartu itu benar-benar untuk seseorang yang istimewa dalam hidup kita. Kita seolah ingin meminta kepada kartu itu untuk mewakili kita berbicara dengan si penerima di hari yang khusus itu. Inilah cara tradisional yang indah dan romantis.

Maka ketika tanggal 25 Desember sudah mendekat, hati kita berdebar-debar menunggu tukang pos datang ke rumah kita mengantarkan kartu-kartu Natal. Kita menunggu datangnya kartu Natal dari seseorang yang istimewa itu, dan kitapun berharap dia yang istimewa itu juga tengah duduk menanti di rumahnya akan datangnya kartu Natal yang kita kirimkan kepadanya.

Benar, ketika tukang pos itu mengeluarkan setumpuk kartu Natal dari dalam tasnya, dan menyerahkannya kepada kita, ada 1 kartu Natal yang berbeda dari yang lain. Tak sabar hati kita untuk segera tahu, maka kita sisihkan dulu kartu-kartu yang lain di sebelah kita karena tangan kita hanya mau memegang 1 kartu istimewa itu. Berdebar-debar hati kita membuka amplopnya dan membaca kartu itu. Sembari membaca tulisan di dalamnya, saat itu kaki kita terasa terangkat dan tubuh kita terasa lebih ringan, melayang, melayang jauh terbang tinggi bagai rajawali di atas awan. Sambil tersenyum sendiri di dalam kamar, kita bertanya, apakah dia juga sudah menerima kartu Natal yang kita kirimkan? Dan apakah jantungnya juga berdebar-debar menerima dan membaca kartu yang kita kirimkan?

Saya pernah menerima kartu Natal dari seorang teman ketika saya masih SMP. Begitu kartu itu saya buka, mengalunlah sebuah instrumental lagu Natal yang dibunyikan oleh sebuah komponen kecil elektronika yang ditempelkan di bagian dalam kartu itu. Saya kagum bukan kepalang dan saat itu saya meyakini bahwa kartu Natal itu pasti harganya mahal. Selama bertahun-tahun kartu Natal itu tetap saya simpan karena hati sangat terkesan.

Sadarkah kita bahwa dalam hidup kita ini ada 1 orang istimewa yang selalu menantikan salam Natal kita? Sampai sekarangpun, jika kita mau berdiam diri sejenak, keluar dari rutinitas kesibukan kita, kita akan diingatkan bahwa betapa berartinya salam Natal itu untuk mereka yang menantikan kita. Apakah 1 orang yang istimewa itu istri atau suami kita, ibu atau ayah kita, sahabat kita, kekasih kita, kitalah yang paling tahu dimana seharusnya posisi mereka itu berada dalam kehidupan kita. Tetapi kesibukan kita sering mengaburkan pandangan kita dan menumpulkan sensitifitas hati kita untuk mengingat mereka.

Kalaupun toh kita mengirimkan kartu Natal juga, apakah kita pernah menyadari bahwa di dalam kartu itu seharusnya kita tidak sekedar menaruh kata-kata yang indah, melainkan lebih dari itu kita seharusnya menaruh hati kita untuk orang yang menerima? Kita memilih kartu yang seindah dan sebagus mungkin, mengirimkannya kepada orang lain tetapi sesudah itu lupa. Mengapa? Karena kita hanya terpaku pada symbol, pada gambar atau design yang bagus, pada kalimat yang indah, puitis dan berbunga-bunga. Kita lupa menyertakan ketulusan kita dengan cara yang paling sederhana dalam kartu itu untuk mereka.

Sebuah kartu Natal diberikan oleh seorang ayah kepada anak perempuannya, diselipkan di bawah bantal dan bertuliskan begini: “My daughter, you bring so much goodness and beauty unto the world with your thoughtfulness, kindness and loving heart. And especially at this Christmas holiday, you should know that you make me feel so very proud and thankful. And I love you very much.”

Betapa engkau sangat berarti bagi dunia karena kebaikanmu dan cintamu membuat dunia menjadi indah. Ayah bangga padamu, nak,” begitulah kira-kira maksud si bapak itu. Tetapi tak seorangpun tahu, anak perempuannya itu selalu menunggu ayahnya untuk diajak bercerita tentang kegiatannya di sekolah, tentang teman-temannya, tentang kejadian-kejadian yang menjengkelkannya atau yang menggembirakannya, tentang perasaannya yang tiba-tiba menjadi lain ketika memandang teman sekelasnya. Tetapi ayahnya jarang punya waktu untuknya semenjak karirnya menanjak, dan ayahnya begitu sibuk dengan teman-teman kantornya dan teman-teman lainnya yang selalu mengajaknya pergi entah kemana.

Dan seorang wanita muda yang mengirimkan kartu Natal kepada mamanya memilih kartu yang berisi kalimat ini: “To my mom who shines so bright in so many hearts. The best things to wish you are all the things you give to others...happiness, laughter, and so much love. Merry Christmas, mom.”

“Engkau menyinari hati dengan cahaya cintamu, dan engkau selalu memberi kebahagiaan dan sukacita. Biarlah engkau rasakan hal yang sama seperti apa yang engkau berikan, mama,” begitulah kira-kira maksud wanita muda itu ketika memilih kartu berkalimat itu. Tetapi tak seorangpun tahu bahwa bertahun-tahun sudah wanita muda itu memupuk kepahitan di hati mamanya karena sikapnya yang menyakitkan di dalam rumah.

Di tempat dan waktu yang berbeda, seorang istri memberikan kartu Natal kepada suaminya dengan menaruh kartu itu di dekat keranjang tempat koran. Suaminya selalu membaca koran setiap pagi di tempat itu, dan si istri memilih kartu Natal bertuliskan begini: “Whatever your heart hopes for, I want to be a part of...Wherever God's plan leads you, I'll be by your side...However many joys today can hold for you, I pray that you will have them all...because I love you and I love sharing life with you...It's a blessing that grows more wonderful every day. Loving you at Christmas.”

“Aku ingin selalu berada di sisimu dan menjadi bagianmu, kemanapun Tuhan membawamu. Doaku untukmu agar engkau memiliki sukacita yang penuh. Aku sayang padamu dan ingin selalu berjalan bersamamu setiap hari dalam berkatNya,” begitulah kira-kira maksud si istri itu kepada suaminya. Tetapi tak seorangpun tahu bahwa suaminya memendam dendam kepadanya karena suaminya tahu jika ia sedang tidak berada di rumah, istrinya betah mengobrol berjam-jam di telepon dengan seorang laki-laki lain entah siapa. Dan suaminyapun tahu, Blackberry istrinya penuh dengan obrolan tidak senonoh dengan teman-teman prianya.

Betapa indah dan menakjubkan kata demi kata dalam sebuah kartu Natal, dan kita suka sekali memilih kalimat yang indah-indah karangan orang lain, bukan ekspresi hati kita yang ingin kita sampaikan kepada orang lain. Kita suka mengobral kata-kata indah yang kita cari berjam-jam waktu memilih kartu Natal, tetapi kita tidak peduli sikap kita sehari-hari kepada orang penerima kartu itu. Bahkan lebih celaka, jika sampai terjadi bahwa tak ada salam Natal secuilpun bagi seseorang yang harusnya menjadi orang yang istimewa bagi kita.

Di jaman sekarang, ketika teknologi telah menjadi raja dalam kehidupan manusia modern, berkirim salam Natal dilakukan lewat e-card di internet atau sms (short message service), dan untuk itupun kita malas mengetikkan huruf demi huruf untuk si penerima. Kita hanya menunggu sms dari teman kita, lalu kita memilih kata-kata yang terindah, kemudian kita mem-forward-nya kepada teman, sahabat dan keluarga kita. Dan mereka yang menerima sms yang indah itu mem-forward-nya kepada teman mereka yang lain. Dan teman mereka yang lain itu kemudian mem-forward-nya ke kita lagi. Betapa salam Natal yang pura-pura!

Saling berkirim salam lewat kartu Natal di saat Natal tiba memang menjadi moment yang indah untuk dikenang, namun sekali lagi, apa arti salam Natal itu bagi kita? Jika kartu-kartu Natal itu kita kirimkan hanya untuk basa-basi dan sopan-santun pergaulan, lebih-lebih jika di dalamnya terkandung kata-kata kemunafikan, bukankah oleh si penerimanya kartu-kartu Natal itu akan segera dibuang ke dalam keranjang sampah?

***
Serpong, Dec 2010
Titus J.

Comments

Popular posts from this blog

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...

Forgive Me for Not to Obey Your Fatwa

It’s still fresh in my mind, where Megawati’s PDI (Indonesia Democracy Party) harshly knocked-out by Suharto’s power in 1996. I was still 3 months since I set my feet on Jakarta from my hometown. Everybody knew Megawati was a serious menace of Suharto’s Golkar at that time, and 1996 was only a year ahead of the election. Like previous elections, Golkar always wanted vote majority in order to keep Suharto in reign. Time could not be stopped and Megawati popularity has made the Suharto’s circle depressed. They seemed so fearful the Soekarno’s spirit was coming back. With a very dirt scenario, Suharto’s regime created drama by conspiring with several PDI executives to organize a congress in Medan. The congress, as predicted clearly by everyone, finally appointed Soerjadi as PDI chairman, Fatimah Ahmad as deputy chairman and Butu Hutapea as the secretary general (Soerjadi is Megawati’s predecessor). It means, Megawati who had been selected by National Meeting in Surabaya in 1993, was kick...

When A Street Crime Is Negotiable

That is true a bad guy will not be the bad guy forever. Sometimes, depending on the situation, a bad guy, in fact, still has compassion to his victim. No matter it’s because of pity or something else, but crime in Jakarta is not always appears in horror. The spirit of hometown solidarity for example, is also one of the factors that can be used to win the crime. It’s like what had happened to my team (my subordinate) when I was working for a private bank in Jakarta. Just call him Fresman. May be his parent expected him to always being fresh, I don’t know, but that’s true, his temperament is cool, calm, and always smiles – never looked stressful in any situation. He was very good and talented person in his job. He could always accomplish every job that I gave to him, as long as I described a clear instruction and a clear target date. And, every job was done rightfully. One day he came lately to office, gasped for breath and came to my desk in hurry. “Sorry sir, I am late,” he said while ...