Skip to main content

Orang Tua Renta Kita

Pada peringatan Parents Day di gereja saya hari Minggu 16 Mei 2010, ada 2 orang tua (kakek/nenek) sedang membacakan ungkapan “kerinduan” hati mereka terhadap anak-anak mereka. Sederet narasi yang dibacakan dengan pelahan oleh mereka diiringi dengan klip video yang menayangkan cuplikan-cuplikan masa lalu yang menggambarkan moment-moment indah waktu mereka mengasuh dan merawat anak-anak mereka dari kecil hingga dewasa memang mengharukan. Saya sendiri merasa tenggorokan saya tercekat dan mata berkaca-kaca tanpa sadar.

Barangkali adegan yang sederhana itu hanya akan lewat begitu saja di depan mata saya tanpa rasa apa-apa jika itu ditayangkan beberapa tahun yang lalu, tetapi hari ini ceritanya menjadi lain. Mengapa? karena saya sekarang sudah mempunyai anak, dan saya sudah menjadi seorang ayah. Saya memang sudah menjadi seorang ayah, tetapi saya sekaligus adalah seorang anak dari seorang ayah dan seorang ibu.

Apakah ayah dan ibu saya dulu juga merawat dan mengasuh saya seperti itu? Memandikan saya, memakaikan baju, mengantar ke sekolah, membantu saya membikin PR, mengajari saya pelajaran sekolah, memeluk saya waktu saya menangis, mendekap saya waktu saya ketakutan, membawa saya ke dokter dan merawat saya waktu sakit, dan ketika saya beranjak besar mereka mengajak saya mengobrol seperti seorang teman atau sahabat?

Mungkin di antara kita ada yang ayah/ibunya tidak seperti itu. Tetapi tidak mengapa, itu adalah ekspresi, karena ada orang tua yang tidak mengerti bagaimana cara mengungkapkan kasihnya kepada anak-anaknya. Ada orang tua yang terlalu sederhana, terlalu polos, bahkan mungkin terlalu “bodoh” untuk mengekspresikan kasih sayangnya, tetapi percayalah, jika hati mereka tidak terbuat dari batu, sesungguhnya mereka tetap menyayangi kita dengan cara mereka sendiri yang sangat sederhana, yang kadang-kadang sulit untuk kita mengerti.

Terhadap ungkapan kerinduan kedua kakek/nenek pada waktu membacakan narasi itu saya sangat memahami, dan apa yang dinyatakan pada waktu itu adalah realita dalam kehidupan kita. Berapa banyak orang tua di masa tuanya akhirnya menjadi bahan cemooh, bahan olok-olok, bahan tertawaan, dianggap sebagai pengganggu, merepotkan, ngabis-abisin uang dan sebagainya?

Orang tua yang sudah tua dan renta itu sering kita marahi, mungkin karena lupa menaruh barang, lupa mematikan kompor, lupa menyiram toilet sehabis kencing, lupa mematikan TV, lupa mematikan AC, dan lupa-lupa yang lain. Kita merasa tidak senang jika mereka suka bertanya sesuatu kepada kita, dan kitapun membentak jika apa yang sudah mereka tanyakan lalu mereka tanyakan lagi. Kita kesal kepada mereka jika mereka sering sakit-sakitan, dan kita harus mengeluarkan uang untuk membelikan mereka obat, membawa ke dokter, dan pada saat mereka dirawat di rumah sakit, kita lebih suka menyerahkan kepada pembantu atau suster untuk menunggui mereka karena kita sibuk dengan urusan kita yang “lebih penting”.

Pada waktu di rumah, kita tidak pernah mengajak mereka mengobrol, bercakap-cakap tentang hal-hal sederhana yang mudah mereka pahami, tetapi kita diamkan mereka sendiri karena mereka kita anggap tidak penting atau bukan lawan bicara yang menarik, sedang kita terus menyibukkan diri kita di kamar, atau menonton televisi, atau pergi ke rumah tetangga, atau sibuk urusan gereja dan pelayanan.

Betapa sepinya dunia orang tua kita yang sudah renta itu.

Tidakkah kita ingat pada waktu kita masih kecil, seberapa seringkah kita mengulang-ulang pertanyaan kepada orang tua kita namun mereka selalu menjawab seberapa-kalipun kita mengulang pertanyaan? Pernahkah kita ingat hal-hal kecil, waktu kita jatuh dari sepeda, waktu kepala kita terbentur meja atau tembok, waktu kaki kita tersandung dan terluka, dan orang tua kita selalu siap mengobati luka kita tanpa marah?

Pernahkah kita ingat pada waktu kita dalam ketakutan ketika hujan lebat disertai petir yang menyambar-nyambar, ketika lampu rumah mati dan kegelapan meliputi kita, ketika kita terbangun di tengah malam karena mimpi buruk? Adakah orang tua cuek dan terlalu sibuk sehingga kita tidak digubris? Dan pernahkah kita sadari bahwa dalam situasi sesulit apapun kita selalu dikirimkan ke sekolah, sampai kita tamat sekolah dan menjadi seperti sekarang? Apakah pernah kita dengar mereka mengeluh: “Nak, papa/mama tidak punya uang untuk menyekolahkan kamu, jadi mulai sekarang tidak usah sekolah lagi.”

Bagi kita yang sudah menjadi ayah atau ibu, coba lihat sejenak wajah anak-anak kita ketika mereka tidur lelap, bukankah yang kita dapati adalah wajah-wajah innocent? Apa yang kita rasakan setelah melihat wajahnya? Demikianlah sama persis apa yang orang tua kita dulu rasakan ketika mereka melihat wajah kita di waktu kecil. Jika kelak kita sudah menjadi renta, dan anak-anak kita sudah dewasa dan membangun keluarga mereka masing-masing, pernahkah kita bayangkan tentang kesepian itu?

***
Ayah saya telah meninggal dunia pada tahun 2004 yang lalu di usianya yang ke-81. Beliau tua dan suntuk umur. Tetapi saya kira sampai hari meninggalnya ayah saya tak pernah merasa kesepian, karena selalu dikelilingi dengan anak-anak dan cucu-cucunya. Harus saya akui bahwa saya memang yang paling jarang bertemu ayah saya dalam 8 tahun terakhir sebelum beliau meninggal, karena sejak saya pindah ke Jakarta di tahun 1996 saya tidak bisa terlalu sering pulang ke kampung. Tetapi saya selalu ingat, di saat-saat saya sempat pulang ke kampung dan bertemu dengan beliau, saya banyak mengobrol santai, tentang cerita-cerita masa lalu, tentang tayangan di televisi, tentang penyanyi keroncong dan berita TVRI waktu itu, dan banyak lelucon-lelucon yang sampai membuat saya terpingkal-pingkal, karena ayah saya termasuk seorang yang suka guyon (bercanda).

Ibu saya di bulan Juni tahun ini akan berumur 77 tahun. Sayapun begitu jarang bertemu dengan beliau karena jarak yang jauh. Tetapi pada waktu-waktu tertentu saya meneleponnya, ngobrol-ngobrol lewat telepon, mendengarkan apapun yang beliau ceritakan bahkan hal-hal yang remeh-temeh sekalipun. Saya tidak bisa lupa perjuangan ibu saya pada waktu saya masih kecil, yaitu untuk menyekolahkan saya (dan ke-6 saudara-saudara saya) di sekolah yang terbaik di kota kami waktu itu, sekalipun uang sekolahnya tidak murah.

Moment-moment peringatan Parents Day seperti ini selalu membuat saya kembali merenung, bahwa saya harus bersyukur masih punya orang tua walaupun tinggal 1 yaitu ibu saya, yang tahun ini akan berusia 77 tahun, dimana saya tidak pernah tahu sampai berapa lama lagi saya bisa mendengar suaranya walau hanya lewat telepon.

Saya teringat ibu saya, yang pendengarannya makin lama makin buruk, sehingga kadang-kadang jika bicara dengan beliau saya harus sering mengulang-ulang. Namun, tak pernah sekalipun saya ingat bahwa saya pernah berkata kasar kepada beliau, karena inilah ibu yang untuk menyekolahkan saya harus mengorbankan gendang telinganya akibat efek radiasi dari panasnya alat pemanggang roti yang dipakai oleh ibu saya berjualan roti waktu saya masih kecil. Maka saya tidak habis pikir, jika melihat ada anak yang berani mencemooh orang tuanya, apalagi berkata-kata dengan nada yang tinggi bahkan membentak, bagaimanapun dan apapun hal yang mungkin menjengkelkan yang dibuat oleh orang tuanya.

Salah satu teman saya hari-hari ini merawat ayahnya yang gagal ginjal. Ibunya sudah meninggal kira-kira 4 tahun yang lalu. Dan selama 4 tahun terakhir ini teman saya pontang-panting harus mengurus ayahnya yang tubuhnya makin mengurus akibat gagal ginjal. Seminggu dua kali ayahnya harus menjalani cuci darah, dan teman saya inilah yang harus mengantar dan menjemput ayahnya dari rumah ke rumah sakit, padahal ia juga harus masuk kantor untuk bekerja. Merepotkan?

Suatu hari teman saya menyampaikan uneg-unegnya kepada saya. Ia merasa sangat lelah, bukan hanya karena harus mengurus ayahnya sehari-hari, tetapi karena ayahnya (menurutnya) adalah seorang yang sangat keras kepala dan tidak pernah mau mendengar anak-anaknya, mau menang sendiri dan menganggap anak-anaknya tidak tahu apa-apa.

Saya mendengarkan teman saya ini terus bicara melampiaskan kekesalannya. Ia seperti frustrasi, otaknya seperti mandeg, tidak bisa berpikir karena jenuh akibat situasi yang ia hadapi. Ia seperti tidak mau lagi mengurus ayahnya. Setelah ia selesai membuang “sampahnya” ke saya, lalu saya hanya bilang: “Kau mau buang ayahmu? Silakan saja. Tuhan akan mengirim orang lain untuk mengurusnya. Tetapi ingat, kau buang ayahmu yang sakit yang kau anggap “tidak berguna” itu berarti kau buang emas, karena inilah kesempatan emas buat kamu untuk berbuat sesuatu baginya, sekalipun hal itu tidak enak. Tak banyak orang yang punya kesempatan seperti ini, karena banyak orang baru menyadari arti kehadiran orang tuanya pada waktu orang tuanya sudah tidak ada.”

***
Serpong, 18 Mei 2010
Titus J.

Comments

Popular posts from this blog

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...

Forgive Me for Not to Obey Your Fatwa

It’s still fresh in my mind, where Megawati’s PDI (Indonesia Democracy Party) harshly knocked-out by Suharto’s power in 1996. I was still 3 months since I set my feet on Jakarta from my hometown. Everybody knew Megawati was a serious menace of Suharto’s Golkar at that time, and 1996 was only a year ahead of the election. Like previous elections, Golkar always wanted vote majority in order to keep Suharto in reign. Time could not be stopped and Megawati popularity has made the Suharto’s circle depressed. They seemed so fearful the Soekarno’s spirit was coming back. With a very dirt scenario, Suharto’s regime created drama by conspiring with several PDI executives to organize a congress in Medan. The congress, as predicted clearly by everyone, finally appointed Soerjadi as PDI chairman, Fatimah Ahmad as deputy chairman and Butu Hutapea as the secretary general (Soerjadi is Megawati’s predecessor). It means, Megawati who had been selected by National Meeting in Surabaya in 1993, was kick...

When A Street Crime Is Negotiable

That is true a bad guy will not be the bad guy forever. Sometimes, depending on the situation, a bad guy, in fact, still has compassion to his victim. No matter it’s because of pity or something else, but crime in Jakarta is not always appears in horror. The spirit of hometown solidarity for example, is also one of the factors that can be used to win the crime. It’s like what had happened to my team (my subordinate) when I was working for a private bank in Jakarta. Just call him Fresman. May be his parent expected him to always being fresh, I don’t know, but that’s true, his temperament is cool, calm, and always smiles – never looked stressful in any situation. He was very good and talented person in his job. He could always accomplish every job that I gave to him, as long as I described a clear instruction and a clear target date. And, every job was done rightfully. One day he came lately to office, gasped for breath and came to my desk in hurry. “Sorry sir, I am late,” he said while ...