Skip to main content

Mencari Natal

I will honor Christmas in my heart, and try to keep it all the year." - Charles Dickens

Jika Natal bukan suatu musim, atau suatu momen, atau sekadar event, apakah Natal akan tinggal di hati kita, dan terus hidup sejalan dengan detak jantung kita? Setelah Silent Night dinyanyikan, setelah nyala lilin dimatikan, setelah pohon terang plastik diturunkan dan disimpan di gudang, setelah pintu gerbang gereja ditutup…

Apakah Natal hanya lewat sebentar di suatu waktu, singgah tidak bahkan menyapa pun tidak, karena kita mengabaikannya dan tidak peduli untuk apa ia hadir?

Apakah Natal tahun ini masih mengguratkan maknanya di hati kita, sedalam cinta yang dikandung oleh perawan Maria, seteguh tekadnya untuk taat, sekuat kerelaan rahimnya untuk dipinjam sebentar demi sebuah rencana yang ia tidak mengerti sepenuhnya? 

Apakah hati kita masih tergugah dengan ketulusan para bangsawan dari Timur, orang-orang Majus itu, yang menempuh perjalanan dari negeri yang jauh hanya untuk menyembah Anak kudus itu? 

“Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia,” kata para bangsawan itu. Sementara mereka membuka harta persembahan mereka – emas, kemenyan, dan mur – apakah kita juga sibuk membuka itinerary perjalanan liburan ke negeri yang jauh, menjauh dari Raja yang lahir dan datang justru untuk mencari kita?

Masihkah bibir kita sanggup menyerukan Joy to The World kepada dunia yang sedang murung, sedih, berduka, terluka, dan marah, ketika terjadi kekerasan di mana-mana?

Masihkah kata joy memberikan arti bagi mereka yang lapar, yang berjuang di jalanan mencari penghidupan, yang kebingungan mencari kerja, yang berjalan menyongsong masa depan yang suram?

Masih berartikah kata-kata penghiburan semacam ‘damai di bumi, damai di hati’ bagi mereka yang meratapi mayat-mayat bergelimpangan di wilayah yang terkoyak oleh perang: di Ukraina, Rusia, Sudan, Kongo, dan Gaza?

Apakah ingatan kita tentang Betlehem masih sama seperti kisah Natal yang syahdu? Betlehem yang begitu damai, yang menyambut Sang Juruselamat dengan sederhana, yang hanya bisa menyediakan kain lampin dan palungan, menyelimuti Sang Bayi dengan kesunyian malam, lalu meninabobokan-Nya dengan suara ternak dan gemerisik jerami kering yang tertiup angin?

Apakah hati kita rindu memeluk Bayi itu, yang terbaring di palungan yang bau?

Namun, Betlehem hari ini tersuruk di Tepi Barat, Palestina, karena silang sengketa politik, dan hanya menyisakan kenangan bahwa kota kecil itu pernah menjadi saksi ketika Allah yang Mahatinggi melahirkan karya-Nya yang agung di sana.

Adakah kesan Natal yang masih tertinggal di hati kita? Tentang lagu Natal, tentang khotbah Natal, tentang pertobatan di hari Natal, tentang seseorang yang kembali di hari Natal, tentang seseorang yang pergi di hari Natal, tentang drama Natal, tentang dekorasi Natal, tentang kado Natal dari pacar, tentang air mata, tentang sukacita, tentang dongeng Sinterklas.

Oh, di manakah Sinterklas yang selalu menyambut anak-anak dengan pelukannya?

"Sinterklas tak jadi datang!" kata anak-anak yang selalu menantikan kedatangannya membawa sekarung mainan. "Ia kehilangan topi merahnya karena terbakar, dan jenggotnya yang seputih salju menghitam dipenuhi abu dari reruntuhan rumahnya yang terkena bom," kata anak yang lain.

Tetapi anak-anak tetap menunggu Sinterklas, karena Sinterklas suka memeluk dan menggendong mereka, sedangkan di rumah mereka papa dan mama hanya asyik main handphone.

Masih indahkah lagu-lagu Christmas Carol yang bergema di rumah-rumah dan keluarga-keluarga yang kesepian?

“Hari ini opa dan oma tidak mau bangun dari tidur, menunggu anak-anaknya menelepon,” kata suster Wati yang merawat mereka.

“Di mana anak-anak opa-oma?” tanya Pak Pendeta di depan pintu.

“Yang sulung berlibur ke Amerika, yang bungsu berlibur ke Eropa. Mereka hanya mengirim WhatsApp.”

Pak Pendeta melihat pintu kamar opa-oma yang tertutup.

Suster Wati membuka ponselnya. “Ini pesan dari yang bungsu: ‘Selamat Natal papa-mama. Jangan lupa makan, minum susu dan vitamin. Aku sekarang di Venesia, besok ke Milan, lalu ke Roma sebelum lanjut ke Lisbon. Nanti aku share foto-fotonya yaaa… Oh iya, aku juga sudah minta Pak Pendeta untuk menengok papa-mama sekalian merayakan Natal di rumah. Semoga papa-mama happy dengan acara Caroling-nya yaaa.’”

“Yang sulung juga mengirim WA?” tanya Pak Pendeta.

“Ada Pak. Bentar..,” jawab suster Wati sambil menggulir layar ponselnya, lalu membaca: “Papa-mama, aku hari ini Natalan di panti jompo di Seattle. Aku menyanyi lagu Natal kesukaan papa-mama untuk mereka, dan mereka happy, aku juga happy, semoga papa-mama juga happy Natalan di rumah. Merry Christmas, papa-mama.

Pak Pendeta menatap suster Wati.

“Cuma itu pesannya,“ jawab suster Wati sembari menutup Whatsapp.

Pak Pendeta tidak menjawab. Ia menggenjreng gitarnya lalu menyanyi di ruang tamu: “Sebab Natal tak akan berarti tanpa kasih-Mu... lahir di hatiku. Hanya bersama-Mu Yesus, kurasakan selalu... indahnya Natal di hatiku.”

Suster Wati merapikan jilbabnya, duduk di depan kamar opa-oma, entah mengerti entah tidak lirik lagu yang dinyanyikan oleh Pak Pendeta. Ia terus scrolling layar ponselnya dan menonton Tik-Tok.

Setelah Pak Pendeta berpamitan dan pergi, terdengar suara batuk dari dalam kamar. Suster Wati membuka pintu kamar, lalu masuk. Ia mengambil obat batuk lalu membantu opa-oma duduk di tepi ranjang. Ia menyuapi opa-oma dengan obat batuk itu, satu sendok untuk opa, satu sendok untuk oma. Setelah itu ia membantu opa-oma berbaring lagi di tempat tidur.

“Setengah jam lagi waktunya makan ya… Suster mau order GoFood. Opa dan oma mau makan apa?” tanya suster Wati.

Opa dan oma hanya berpandangan, tangan mereka yang keriput saling berpegangan, lalu tak berapa lama mereka tertidur.

Dalam tidurnya mereka bermimpi melihat Tuhan datang dan memasuki kamar, lalu menyelimuti tubuh mereka dengan kain lampin. Opa-oma tersenyum dalam tidurnya, merasakan kehangatan yang hangatnya lebih hangat daripada selimut terhangat kiriman anak-anaknya. Di sekeliling ranjang berkumpullah para bangsawan Majus dan para gembala dengan ternak-ternaknya. Aroma mur semerbak memenuhi kamar mengusir bau kotoran ternak yang sedang minum air di sebuah palungan.

Opa-oma tidur nyenyak sekali, damai sekali, hingga tak terasa hari sudah gelap. Di langit ada sebuah bintang berkedip-kedip di atas rumah opa-oma.

Jika kita pernah merasakan Natal yang sungguh bermakna, apakah tahun ini ia masih ada, tersimpan sebagai harta berharga dan hidup dalam sanubari kita? Ataukah ia sudah hilang entah ke mana?

Selamat Natal.

***

Serpong, Des 2025

Titus J.

Comments

Popular posts from this blog

Eisenhower, The Top Figure Army General, The Modest President

This is a portrait of Dwight D. Eisenhower, a young dreamer, charting a course from Abilene, Kansas, to West Point and beyond. Before becoming the 34th president (two terms from 1953 to 1961), Ike –as he was called–  was a five-star general in the U.S. Army during World War II and served as Supreme Commander of the Allied Expeditionary Force in Europe. This book reveals the journey of the man who worked with incredible subtlety to move events in the direction he wished them to go. In both war and peace, he gave the world confidence in American leadership. In the war period, Ike commanded the largest multinational force ever assembled to fight German troops in leading the Western powers to victory.  During his presidency, he ended a three-year war in Korea with honor and dignity. Not a single American died in combat for the next eight years. He resisted calls for preventive war against the Soviet Union and China, faced down Khruschev over Berlin, and restored stability in Leban...

Bertrand Russell Critical Analysis on Western Philosophy

“Philosophy is something intermediate between theology and science,” said Bertrand Russell. Theology and science occupy their own territory. All definite knowledge belongs to science, all dogma as to what surpasses definite knowledge belongs to theology. Between theology and science there is No Man’s Land, exposed to attack from both sides. For that the philosophy is present. The No Man’s Land is philosophy. Then he added, “Philosophical conceptions are a product of two factors: one, inherited religious and ethical conceptions; the other, the sort of investigation which may be called ‘scientific’.” Bertrand Russell who was born in 1872, he himself was a British philosopher as well as mathematician, logician, historian, writer, and social critic. In this book, which was firstly published in 1945, Russell divided the philosophy chronologically into three parts: Ancient Philosophy, Catholic Philosophy and Modern Philosophy. This book is a widely read and influential philosophical history ...

Jesus Way Tak Segampang Busway

Jesus Way yang diartikan “cara Yesus” atau “jalan Yesus” tampaknya berupa jalan sempit dan sedikit orang menyukainya/memilihnya. Ini pernah dikatakan oleh Yesus sendiri: “ Karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya .” (Matius 7:14). Semua orang, atau sebagian besar orang, memilih jalan lebar tanpa hambatan agar sebisa mungkin lebih cepat sampai tujuan. Jalan sempit hanya memperlama waktu, tidak efektif, dan tidak sesuai tuntutan zaman yang serba cepat dan instan. Sebenarnya jalan sempit tidak apa-apa asalkan lancar. Ternyata tidak. Jesus way bukan seperti jalur khusus bus atau busway di Jakarta. Busway – walaupun sempit, hanya pas untuk satu bus – memberikan privilege karena dikhususkan untuk bus tanpa ada hambatan apapun. Ikut melaju di busway enak sekali, diprioritaskan, tidak ikut ngantri bermacet-macetan di jalan. Jesus way tidak seperti busway . Dulu ada kisah seorang anak muda yang kaya raya, yang sedang mencar...