Skip to main content

Hati Yang Hitam


Pra-Paskah 2019 - hari#14

Petrus dan Yudas Iskariot adalah dua murid Yesus yang ikut menorehkan tinta merah pada jejak sengsara Yesus. Mereka sama-sama mengalami kegagalan. Tragis memang. Dari kisah tentang dua murid yang sama-sama gagal itu, sebenarnya ada perbedaan yang penting untuk kita renungkan.

Kegagalan Petrus terjadi begitu spontan. Ia adalah seorang yang polos, berani, outspoken. "Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku," kata Yesus. "Tidak, Guru. Sekalipun mereka lari, aku tak akan meninggalkan-Mu," kata Petrus dengan spontan dan gagah berani. Tetapi ketika Yesus ditangkap dan dibawa ke hadapan imam besar, lalu ada orang menudingnya, "Engkau pasti murid-Nya!", maka iapun menjawab, "Ah, ngawur! Aku tak kenal Dia!" Itu adalah jawaban yang spontan karena takut. Sangat wajar, Petrus adalah manusia biasa.

Tapi Yudas berbeda. Ia merencanakan pengkhianatan. Itu premeditated betrayal, bukan spontan. Ia secara sadar mendatangi mahkamah agama, "Apa yang akan engkau berikan padaku jika aku menyerahkan Dia?" Dan ketika para imam itu menjanjikan imbalan 30 keping perak, Alkitab menulis: "Mulai saat itu ia mencari kesempatan untuk menyerahkan Yesus." Angka 30 keping perak adalah harga seorang budak (Keluaran 21:32). Betapa recehannya Yudas menimbang harga Gurunya untuk sebuah pengkhianatan.

People make mistakes, kata orang bijak. Tetapi ada orang yang dilahirkan dengan nature jahat dan tidak bisa berubah. Yesus sudah mengingatkan Yudas. "Sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku," kata-Nya. Dan Yudas pun berpura-pura bertanya, "Bukan aku ya Guru?" Ketika ia mengatakan ini, tidakkah hatinya bergetar saat menatap mata Gurunya? Dan adegan "serah-terima" yang ia lakukan di Taman Getsemani itu sungguh licik. Ia mengucapkan salam kepada Yesus, mencium-Nya, lalu menyerahkan-Nya.

Petrus menangis tersedu-sedu ketika mendengar ayam berkokok, Yudas melemparkan kepingan perak itu ketika tahu Yesus divonis mati. Di akhir kisah, Petrus dipulihkan, tetapi Yudas mengambil seutas tali dan mencari pohon.

Hati Yudas benar-benar hitam. 


***
Serpong, 21 Mar 2019
Titus J.

Comments

Popular posts from this blog

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...

Forgive Me for Not to Obey Your Fatwa

It’s still fresh in my mind, where Megawati’s PDI (Indonesia Democracy Party) harshly knocked-out by Suharto’s power in 1996. I was still 3 months since I set my feet on Jakarta from my hometown. Everybody knew Megawati was a serious menace of Suharto’s Golkar at that time, and 1996 was only a year ahead of the election. Like previous elections, Golkar always wanted vote majority in order to keep Suharto in reign. Time could not be stopped and Megawati popularity has made the Suharto’s circle depressed. They seemed so fearful the Soekarno’s spirit was coming back. With a very dirt scenario, Suharto’s regime created drama by conspiring with several PDI executives to organize a congress in Medan. The congress, as predicted clearly by everyone, finally appointed Soerjadi as PDI chairman, Fatimah Ahmad as deputy chairman and Butu Hutapea as the secretary general (Soerjadi is Megawati’s predecessor). It means, Megawati who had been selected by National Meeting in Surabaya in 1993, was kick...

When A Street Crime Is Negotiable

That is true a bad guy will not be the bad guy forever. Sometimes, depending on the situation, a bad guy, in fact, still has compassion to his victim. No matter it’s because of pity or something else, but crime in Jakarta is not always appears in horror. The spirit of hometown solidarity for example, is also one of the factors that can be used to win the crime. It’s like what had happened to my team (my subordinate) when I was working for a private bank in Jakarta. Just call him Fresman. May be his parent expected him to always being fresh, I don’t know, but that’s true, his temperament is cool, calm, and always smiles – never looked stressful in any situation. He was very good and talented person in his job. He could always accomplish every job that I gave to him, as long as I described a clear instruction and a clear target date. And, every job was done rightfully. One day he came lately to office, gasped for breath and came to my desk in hurry. “Sorry sir, I am late,” he said while ...