Skip to main content

Lubang Kehampaan


Pra-Paskah 2019 - hari#17

Sebagai seorang Farisi yang sangat ketat menjalankan Taurat, Nikodemus yakin bahwa amal-ibadah yang ia kerjakan seumur hidupnya sesuai tuntutan Taurat itu bakal menjadi bekalnya dalam kehidupan nanti sesudah mati. Ia merasa layak mendapatkan hidup kekal.


Tetapi sejak munculnya Yesus, yang pengajaran-Nya begitu cepat menyebar dan menjadi buah bibir di masyarakat, ia menjadi ragu-ragu. Benarkah Taurat menjamin keselamatannya? Ia merasa ada satu bagian kosong, sesuatu seperti sebuah lubang hampa yang menganga di hatinya yang sungguh menggelisahkannya.

Tergerak oleh sosok pribadi Yesus yang sangat berbeda dengan para ahli Taurat yang ia kenal, ia mendatangi Yesus di suatu malam yang sepi. Ia belum pernah bertatap muka dengan Yesus. Dan benar, ketika Yesus menyapanya, tatapan mata-Nya dan ketegasan suara-Nya sudah cukup menyatakan bahwa sosok yang sedang berbicara dengannya itu bukanlah Pribadi biasa.

"Guru, apa yang harus aku lakukan untuk memperoleh hidup kekal?" tanya Nikodemus. "Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah," jawab Yesus. Nikodemus terperanjat. Bagaimana seseorang dilahirkan lagi jika ia sudah tua? Haruskah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya?

"Jika engkau tidak dilahirkan dengan air dan Roh, engkau binasa, sebab yang dilahirkan oleh daging, adalah daging, tetapi yang dilahirkan dari Roh, adalah roh," kata Yesus. Nikodemus yang menjalankan Taurat seumur hidupnya merasa layak untuk memperoleh Surga, tetapi Yesus tahu tak ada seorangpun yang sempurna hingga Dia sendiri yang harus datang menggenapkannya.

Dalam keremangan pelita di malam itu, Yesus menunjukkan jalan keselamatan. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya barang siapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Perbincangan malam itu rupanya telah merontokkan kebanggaan Nikodemus sebagai pelaku Taurat yang tak bercacat. Ia pulang dengan hati yang berdebar, tetapi ia rasakan lubang kehampaan di hatinya tak lagi menganga. 

***
Serpong, 25 Mar 2019
Titus J.

Comments

Popular posts from this blog

Eisenhower, The Top Figure Army General, The Modest President

This is a portrait of Dwight D. Eisenhower, a young dreamer, charting a course from Abilene, Kansas, to West Point and beyond. Before becoming the 34th president (two terms from 1953 to 1961), Ike –as he was called–  was a five-star general in the U.S. Army during World War II and served as Supreme Commander of the Allied Expeditionary Force in Europe. This book reveals the journey of the man who worked with incredible subtlety to move events in the direction he wished them to go. In both war and peace, he gave the world confidence in American leadership. In the war period, Ike commanded the largest multinational force ever assembled to fight German troops in leading the Western powers to victory.  During his presidency, he ended a three-year war in Korea with honor and dignity. Not a single American died in combat for the next eight years. He resisted calls for preventive war against the Soviet Union and China, faced down Khruschev over Berlin, and restored stability in Leban...

Bertrand Russell Critical Analysis on Western Philosophy

“Philosophy is something intermediate between theology and science,” said Bertrand Russell. Theology and science occupy their own territory. All definite knowledge belongs to science, all dogma as to what surpasses definite knowledge belongs to theology. Between theology and science there is No Man’s Land, exposed to attack from both sides. For that the philosophy is present. The No Man’s Land is philosophy. Then he added, “Philosophical conceptions are a product of two factors: one, inherited religious and ethical conceptions; the other, the sort of investigation which may be called ‘scientific’.” Bertrand Russell who was born in 1872, he himself was a British philosopher as well as mathematician, logician, historian, writer, and social critic. In this book, which was firstly published in 1945, Russell divided the philosophy chronologically into three parts: Ancient Philosophy, Catholic Philosophy and Modern Philosophy. This book is a widely read and influential philosophical history ...

Jesus Way Tak Segampang Busway

Jesus Way yang diartikan “cara Yesus” atau “jalan Yesus” tampaknya berupa jalan sempit dan sedikit orang menyukainya/memilihnya. Ini pernah dikatakan oleh Yesus sendiri: “ Karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya .” (Matius 7:14). Semua orang, atau sebagian besar orang, memilih jalan lebar tanpa hambatan agar sebisa mungkin lebih cepat sampai tujuan. Jalan sempit hanya memperlama waktu, tidak efektif, dan tidak sesuai tuntutan zaman yang serba cepat dan instan. Sebenarnya jalan sempit tidak apa-apa asalkan lancar. Ternyata tidak. Jesus way bukan seperti jalur khusus bus atau busway di Jakarta. Busway – walaupun sempit, hanya pas untuk satu bus – memberikan privilege karena dikhususkan untuk bus tanpa ada hambatan apapun. Ikut melaju di busway enak sekali, diprioritaskan, tidak ikut ngantri bermacet-macetan di jalan. Jesus way tidak seperti busway . Dulu ada kisah seorang anak muda yang kaya raya, yang sedang mencar...