Skip to main content

Wajah Barabas di Cermin Kita

**Renungan Jumat Agung**

Mungkin sudah lama kita tak memutar film “The Passion of The Christ”. Walaupun sudah lebih dari 12 tahun sejak film itu diluncurkan pada 2004, apa yang digambarkan di film itu tetap relevan, dan kita perlu mengenangnya kembali menjelang Jumat Agung beberapa hari lagi.

Film yang disutradarai oleh Mel Gibson itu adalah film yang jujur seperti sebuah cermin. Layaknya cermin, ia merefleksikan wajah kita dengan sebenar-benarnya. Sebuah cermin memberitahu kita apa adanya, jadi jika kita melihat wajah kita buruk, tak perlu cerminnya dibelah. Setelah menonton film itu, perasaan kita campur-aduk. Sebagian adegan membuat kita marah, dan bagian lainnya meremas-remas hati kita dan membuat kita meneteskan air mata. Film itu mengajak kita untuk merenung tentang penderitaan Yesus Kristus dan siapakah diri kita sebenarnya.

Adakah tokoh dalam film itu yang menggambarkan diri kita? Siapakah tokoh yang kita perankan dalam kehidupan nyata sekarang? Petruskah? Yudas? Maria? Maria Magdalena? Pilatus? Prajurit Romawi? Barabas? Ahli Taurat atau imam (ulama)?

Mungkin kita mengejek Petrus yang sebelumnya begitu patriotik namun pada satu episode hidupnya ia bersikap pengecut. Nyalinya mendadak ciut setelah Yesus ditangkap dan dibawa ke hadapan imam besar. Ia mengatakan “Aku tidak kenal Dia” ketika seorang mengenalinya sebagai salah satu murid Yesus. Belum apa-apa Petrus sudah gemetar. Ia menyangkal sampai tiga kali dan baru sadar setelah ayam berkokok. Padahal sebelumnya ia berkata dengan sok jago, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku tak akan menyangkal-Mu.”

“Seandainya aku Petrus, aku tak akan menyangkal guruku sendiri,” demikian mungkin kita berkata dalam hati kita.

Mungkin kita ingin meludahi muka Yudas Iskariot yang mata duitan itu, karena hanya demi tigapuluh syikal perak ia menjual Yesus. Harga tigapuluh syikal perak itu sendiri merupakan harga seorang budak (seperti yang ditulis dalam kitab Keluaran 21:32). Jadi betapa hinanya Yudas memperlakukan gurunya. Mungkin kita “agak memaafkan” Yudas seandainya ia menjual Yesus dengan harga mahal, karena bisa jadi ia tergoda uang suap yang jumlahnya milyaran (uang sekarang). Tetapi uang receh sejumlah itupun nyatanya telah membutakan matanya. Ya ampun… betapa greedy-nya Yudas itu, sampai recehan pun diembat.

“Seandainya aku Yudas, aku tak akan menjual guruku sendiri. Aku takkan korupsi, berapapun harga yang ditawarkan oleh imam-imam anggota mahkamah agama itu,” demikian mungkin kita berkata dalam hati kita.

Mungkin kita ingin menampar Pilatus, karena sebagai seorang Gubernur yang memiliki kuasa untuk membebaskan atau menghukum orang, ia mencla-mencle. Pilatus mengerti benar bahwa para ulama Yahudi itu menyerahkan Yesus karena dengki. Ia mondar-mandir di atas balkon, masuk ke dalam menanyai Yesus, lalu keluar menjawab para ulama, bahkan sampai beberapa kali bolak-balik keluar-masuk dalam keraguan. Di ujung persimpangan jalan, setelah ia menyelidik Yesus dengan seksama, ia sudah punya keyakinan, kemudian berseru kepada orang banyak, “Aku tidak menemukan kesalahan apapun pada diri-Nya.” 

Tetapi apa daya, massa meresponnya dengan prinsip “Pokoknya”. Pokoknya Yesus harus mati, tak perlu tanya alasannya. Dia adalah penghujat, penista, dan menurut hukum Taurat, Dia harus dihukum mati. Pilatus yang harusnya tahu bahwa soal hujat-menghujat tidak bisa diadili olehnya, akhirnya tunduk kepada teriakan massa yang makin keras menuntut Yesus dihukum mati. Lalu Pilatus mengambil baskom berisi air, dan sambil mencuci tangan ia berkata kepada orang banyak, “Aku tidak bersalah atas darah Orang ini, itu urusanmu sendiri.”

“Seandainya aku Pilatus, aku tak akan cuci tangan, apapun risiko politiknya atas kedudukanku atau jabatanku, aku siap mempertanggung-jawabkan. Gila! Siapa mereka? Aku tak mungkin tunduk kepada tekanan massa,” demikian mungkin kita berkata dalam hati kita.

Mungkin kita ingin menonjok mulut para ahli Taurat dan imam-imam kepala, yang dengan kebencian dan amarah membara menghasut rakyat untuk berdemonstrasi di hadapan Pilatus menuntut agar Yesus dihukum mati. Para ahli agama itu hafal ayat-ayat dan mengerti luar kepala isi hukum Taurat, tetapi pengetahuannya justru membawa mereka kepada kemunafikan. Sudah tiga setengah tahun terakhir ini mereka menahan geram karena kalah pamor. Banyak orang rela antri dan berdesak-desakan untuk melihat Yesus dan mendengar-Nya berkhotbah (kalau jaman dulu sudah ada smartphone, mungkin rakyat Yahudi itu rebutan selfie dengan Yesus) - sedangkan rakyat yang mau mendengarkan para ulama itu makin lama makin habis karena (mungkin) khotbah mereka yang tidak menarik, dan oleh sebab rakyat tahu bahwa para pemimpin agama mereka itu mengelabuhi mereka dengan jubah putih dan doa yang panjang-panjang.

Selain itu, gara-gara Yesus penghasilan para ulama itu menurun drastis, salah satunya yang paling ngedrop adalah bisnis sertifikasi halal untuk hewan kurban yang mereka lakukan di bait Allah, yang beberapa hari sebelumnya diobrak-abrik oleh Yesus sambil mengatakan, “Rumah-Ku adalah rumah doa bagi segala bangsa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”

Sudah terlalu sering para ulama itu mencari-cari kesalahan Yesus, tetapi tak setitik pun bisa didapatkan. Dalam soal tanya-jawab pun, para ulama itu seringkali menanggung malu di hadapan rakyat, karena jawaban cerdas Yesus yang membuat mereka tak berkutik. Ilmu apalagi yang harus mereka keluarkan selain menuduh Dia sebagai Si Penghujat?

“Seandainya aku ahli Taurat atau imam, aku akan bersikap rendah hati, bahkan dengan ilmu agamaku mungkin aku akan mengajak rakyat untuk belajar lebih banyak lagi dari-Nya – tentang kasih, tentang kerendah-hatian, tentang pengorbanan,” demikian mungkin kita berkata dalam hati kita.

Apakah kita akan memilih peran yang lainnya karena tak satu peran pun kita inginkan sebab semuanya berkarater buruk?

Jujurkah hati kita seandainya kita berada di saat itu, dan kita tidak akan bersikap pengecut seperti Petrus? Benarkah kita bukan pengkhianat seperti Yudas Iskariot yang menyerahkan gurunya dengan ciuman? Yakinkah kita bahwa kita bukan seorang pemimpin mencla-mencle seperti Pilatus yang membunuh kebenaran demi kekuasaan? Apakah kita juga bukan penghasut munafik seperti ahli-ahli Taurat dan imam-imam yang menjual agama demi keuntungan pribadi?

Lalu aku melihat Barabas, seorang penjahat dan pemberontak, yang oleh Pilatus dilakukan subsitusi demi menghukum mati Yesus. Substitusi itu telah menggoreskan sejarah Jumat Agung dimana Barabas si pendosa itu dibebaskan, dan Yesus yang suci itu disalibkan.

Aku mengutuki Barabas, oleh karena si bedebah itulah Yesusku disalibkan.

Dalam kemarahan dan murka menyala aku mengambil cermin, memegangnya tepat di depan wajahku. Saat itulah aku melihat wajah Barabas di cermin itu.

“But he was pierced for our transgressions, he was crushed for our iniquities;
the punishment that brought us peace was on him, and by his wounds we are healed.
We all, like sheep, have gone astray, each of us has turned to our own way;
and the Lord has laid on him the iniquity of us all.” (Isaiah 53:5-6)

***
Serpong, 9 Apr 2017
Titus J.

Comments

Popular posts from this blog

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...

Forgive Me for Not to Obey Your Fatwa

It’s still fresh in my mind, where Megawati’s PDI (Indonesia Democracy Party) harshly knocked-out by Suharto’s power in 1996. I was still 3 months since I set my feet on Jakarta from my hometown. Everybody knew Megawati was a serious menace of Suharto’s Golkar at that time, and 1996 was only a year ahead of the election. Like previous elections, Golkar always wanted vote majority in order to keep Suharto in reign. Time could not be stopped and Megawati popularity has made the Suharto’s circle depressed. They seemed so fearful the Soekarno’s spirit was coming back. With a very dirt scenario, Suharto’s regime created drama by conspiring with several PDI executives to organize a congress in Medan. The congress, as predicted clearly by everyone, finally appointed Soerjadi as PDI chairman, Fatimah Ahmad as deputy chairman and Butu Hutapea as the secretary general (Soerjadi is Megawati’s predecessor). It means, Megawati who had been selected by National Meeting in Surabaya in 1993, was kick...

When A Street Crime Is Negotiable

That is true a bad guy will not be the bad guy forever. Sometimes, depending on the situation, a bad guy, in fact, still has compassion to his victim. No matter it’s because of pity or something else, but crime in Jakarta is not always appears in horror. The spirit of hometown solidarity for example, is also one of the factors that can be used to win the crime. It’s like what had happened to my team (my subordinate) when I was working for a private bank in Jakarta. Just call him Fresman. May be his parent expected him to always being fresh, I don’t know, but that’s true, his temperament is cool, calm, and always smiles – never looked stressful in any situation. He was very good and talented person in his job. He could always accomplish every job that I gave to him, as long as I described a clear instruction and a clear target date. And, every job was done rightfully. One day he came lately to office, gasped for breath and came to my desk in hurry. “Sorry sir, I am late,” he said while ...