Skip to main content

Salib-Mu Dan Salibku

Ada orang menghina salib. 
Ada orang meludahi Dia yang memikul salib.

Dia sudah dibenci oleh orang-orang sezamannya dulu. "Untuk apa kalian dengarkan Dia, yang tak jelas asal-usulnya?" kata mereka kepada para pendengar-Nya. Tetapi Dia terus mengatakan banyak hal, dan orang-orang yang berkerumun disana merasa bahwa Dia ini berbeda, tidak seperti para ulama yang selama ini mengajar mereka.

"Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga," kata-Nya di atas bukit. Ia mengingatkan pengikut-Nya akan aniaya yang bakal terus ada, aniaya yang terus dinafaskan selama kaki menjejak bumi.

"Kasihilah musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang membencimu," ingat-Nya lagi.

"Ajaran apa ini?" tanyaku tak mengerti. "Mata ganti mata, gigi ganti gigi! Itu baru adil, Guru!" protesku sambil mengasah pedang. "Sarungkan pedangmu. Mata ganti mata akan membuat seluruh dunia buta," kata-Nya. Lalu Ia menunjukkan betapa jahat mataku, betapa gelap, betapa najis, betapa tak seorangpun benar di hadapan-Nya.

Lalu Ia naik ke kayu salib, hingga nyawa-Nya tumpas.

Tentara Romawi tertawa-tawa. Para ulama meludah ke tanah. "Matilah kau penista!" geram mereka puas. Banyak dari mereka yang ikut makan roti dan ikan dengan lima ribuan orang bersama-Nya menggelengkan kepala. "Orang lain Ia selamatkan, tapi Ia sendiri mati mengenaskan," ejek mereka.

Lalu kerumunan di Golgota itu bubar. Pengikut-pengikutNya membawa salib masing-masing ke rumahnya.

Duaribuan tahun setelahnya, hari ini aku bertanya kepada-Nya, "Guru, ada orang menghina salib-Mu. Aku tidak terima."
"Lalu?" tanya-Nya balik kepadaku.
"Aku marah dan ingin membalas orang itu," jawabku.
"Kau boleh marah dan membalas hanya jika kau sudah pikul salibmu," kata-Nya.

Aku mengambil salibku yang berdebu di dalam gudang, lalu menaruhnya di atas pundakku. Sambil menyeret langkah, aku mencari marahku di setiap celah rumahku, tetapi tak kutemukan.

Lalu aku melihat tubuh-Nya, mengucur darah, menggenang darah, dalam hatiku yang sudah berlumut.

"Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah
rubuh
patah"
(Isa, oleh Chairil Anwar, 1943)

***
Serpong, 18 Ags 2019

Titus J.

Comments

Popular posts from this blog

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...

Forgive Me for Not to Obey Your Fatwa

It’s still fresh in my mind, where Megawati’s PDI (Indonesia Democracy Party) harshly knocked-out by Suharto’s power in 1996. I was still 3 months since I set my feet on Jakarta from my hometown. Everybody knew Megawati was a serious menace of Suharto’s Golkar at that time, and 1996 was only a year ahead of the election. Like previous elections, Golkar always wanted vote majority in order to keep Suharto in reign. Time could not be stopped and Megawati popularity has made the Suharto’s circle depressed. They seemed so fearful the Soekarno’s spirit was coming back. With a very dirt scenario, Suharto’s regime created drama by conspiring with several PDI executives to organize a congress in Medan. The congress, as predicted clearly by everyone, finally appointed Soerjadi as PDI chairman, Fatimah Ahmad as deputy chairman and Butu Hutapea as the secretary general (Soerjadi is Megawati’s predecessor). It means, Megawati who had been selected by National Meeting in Surabaya in 1993, was kick...

When A Street Crime Is Negotiable

That is true a bad guy will not be the bad guy forever. Sometimes, depending on the situation, a bad guy, in fact, still has compassion to his victim. No matter it’s because of pity or something else, but crime in Jakarta is not always appears in horror. The spirit of hometown solidarity for example, is also one of the factors that can be used to win the crime. It’s like what had happened to my team (my subordinate) when I was working for a private bank in Jakarta. Just call him Fresman. May be his parent expected him to always being fresh, I don’t know, but that’s true, his temperament is cool, calm, and always smiles – never looked stressful in any situation. He was very good and talented person in his job. He could always accomplish every job that I gave to him, as long as I described a clear instruction and a clear target date. And, every job was done rightfully. One day he came lately to office, gasped for breath and came to my desk in hurry. “Sorry sir, I am late,” he said while ...