Skip to main content

Minke


(Catatan Film Bumi Manusia – part3)

Dia adalah seorang priyayi, seorang Raden Mas yang tahu betul soal feodalisme yang merajai tanah Jawa kala itu. Bukan hanya tahu, tapi mengalaminya. Dan ia ingin menjungkalkan adat yang dipegang teguh oleh ayahnya sendiri dengan rasa bangga.


Ia menyanjung adat Eropa bahkan tergila-gila dengan egalitarianisme dan humanisme yang ia pelajari di sekolah Belanda, tapi ia meludahi perilaku Belanda yang mengingkari adab dan didikan yang mereka ajarkan sendiri atas nama ego kolonialisme dan warna kulit. Gurunya sendiri, seorang Belanda totok, memanggilnya 'monkey' karena ia pribumi, dan setelahnya ia pun punya nama baru: 'Minke'. Sejak itulah ia membawa nama itu kemanapun. Tak masalah. Otaknya tidak berkurang se-ons pun dengan ejekan itu.

Yang paling dibencinya adalah penindasan atas nama apapun kepada manusia.
"Beginikah aku harus berlaku? Merangkak-rangkak dengan lutut seperti keong padahal Tuhan memberi manusia kaki untuk berjalan? Dan itupun harus pula dengan memberi sembah setiap beberapa ingsut lututku menggeser lantai? Keparat!" makinya dalam hati di hadapan Bupati yang memanggilnya menghadap.

Sementara priyayi lain sekolah di HBS agar kelak bisa menjadi pejabat semisal Bupati, ia tidak. Ia sekolah untuk mengenal manusia. Dari pengetahuannya tentang manusia ia menulis tentang manusia di koran. Ia membaca tentang manusia di koran. Itulah sebabnya ia tak tertarik berita-berita soal mutasi pejabat, promosi pangkat, dan ukuran derajat. "Duniaku adalah bumi manusia dan persoalannya, bukan atribut manusianya," katanya.

Ketika ia secara tak direncanakan bertamu ke Buitenzorg Wonokromo itu dan bertemu dengan Nyai Ontosoroh dan anak gadisnya, iapun menghirup nafas kehidupan mereka. Sejak itu ia tak bisa keluar, karena di situlah ia menemukan bumi manusia dan segala persoalannya.

Setiap menyobek kalendar harian di rumah itu, selalu ada yang terkuak yang belum ia ketahui, lantas lembar demi lembar ia kunyah pelan-pelan hingga tak disadarinya ia masuk ke dalam labirin.

Dapatkah ia keluar dari sana? Tunggu 15 Agustus 2019 di bioskop.

***
Serpong, 8 Ags 2019
Titus J.

Comments

Popular posts from this blog

Perhentian Ahok di KM 19.4

Ketika angka quick count hasil perolehan suara Pilkada Jakarta 19 April yang lalu menunjukkan 42 persen untuk Ahok-Djarot dan 58 persen untuk Anies-Sandi, banyak yang terkesima, sedih, dan tak sedikit yang menangis. Herannya, yang menangis bukan hanya orang Jakarta, tetapi juga mereka yang tinggal di luar Jakarta, bahkan luar negeri. Media sosial riuh-rendah dengan komentar, seolah tak percaya dengan angka yang terpampang di televisi dan berseliweran melalui WhatsApp group. Di saat itulah tiba-tiba kita merasakan ada sesuatu yang hilang - sesuatu yang pernah kita miliki, yang pernah mewarnai denyut kehidupan kita walau hanya lewat surat kabar dan media sosial, dan sesuatu yang selalu kita rasakan kehadirannya walaupun jarak memisahkan. Kita – bukan cuma orang Jakarta tetapi siapapun yang selama empat tahunan ini menyemai harapan dan optimisme, tiba-tiba secara bersamaan membisikkan tanya, “Bagaimana rupa Jakarta nanti tanpa Ahok?” Tanggal 19 April itu seperti satu titik di ...

Forgive Me for Not to Obey Your Fatwa

It’s still fresh in my mind, where Megawati’s PDI (Indonesia Democracy Party) harshly knocked-out by Suharto’s power in 1996. I was still 3 months since I set my feet on Jakarta from my hometown. Everybody knew Megawati was a serious menace of Suharto’s Golkar at that time, and 1996 was only a year ahead of the election. Like previous elections, Golkar always wanted vote majority in order to keep Suharto in reign. Time could not be stopped and Megawati popularity has made the Suharto’s circle depressed. They seemed so fearful the Soekarno’s spirit was coming back. With a very dirt scenario, Suharto’s regime created drama by conspiring with several PDI executives to organize a congress in Medan. The congress, as predicted clearly by everyone, finally appointed Soerjadi as PDI chairman, Fatimah Ahmad as deputy chairman and Butu Hutapea as the secretary general (Soerjadi is Megawati’s predecessor). It means, Megawati who had been selected by National Meeting in Surabaya in 1993, was kick...

When A Street Crime Is Negotiable

That is true a bad guy will not be the bad guy forever. Sometimes, depending on the situation, a bad guy, in fact, still has compassion to his victim. No matter it’s because of pity or something else, but crime in Jakarta is not always appears in horror. The spirit of hometown solidarity for example, is also one of the factors that can be used to win the crime. It’s like what had happened to my team (my subordinate) when I was working for a private bank in Jakarta. Just call him Fresman. May be his parent expected him to always being fresh, I don’t know, but that’s true, his temperament is cool, calm, and always smiles – never looked stressful in any situation. He was very good and talented person in his job. He could always accomplish every job that I gave to him, as long as I described a clear instruction and a clear target date. And, every job was done rightfully. One day he came lately to office, gasped for breath and came to my desk in hurry. “Sorry sir, I am late,” he said while ...